Olimpiade Tokyo 2020 Paling Hijau dan Bebas Karbon

Pasangan ganda puteri Indonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu, telah membahagiakan rakyat Indonesia. Mereka berhasil meraih emas cabang olahraga bulu tangkis di Olimpiade Tokyo 2020. Dengan fantastis, mereka berhasil mengalahkan Chen Qing Chen/Jia Yia Fan dalam rubber set atau dua set langsung 21-19 dan 21-15. Warga net pun mengotak-atik angka kemenangan tersebut. Set pertama 21-19 dan set kedua 21-15 jika dijumlahkan berjumlah 76. Sungguhpun otak-atik angka kemenangan ini kebetulan pas dengan usia negara kita, kemenangan pasangan ganda putr kita menjadi kado ulang tahun terindah bagi negara kita yang sedang dirundung duka akibat pandemi.
Perhelatan olahraga dunia di Tokyo, 23 Juli hingga 8 Agustus 2021 tahun ini cukup unik. Hal unik yang sangat terasa adalah tidak adanya penonton, terutama pertandingan yang berlangsung di dalam stadion. Peristiwa ini adalah kali pertama dalam sejarah olimpiade, para atlet bertanding habis-habisan tanpa mendapat dukungan meriah dari para supporter. Ada sih tepuk tangan dan dukungan. Bukan dari penonton dalam arti sebenarnya, melainkan tepuk tangan dan dukungan itu dari pemain cadangan, pelatih, dan pimpinan tim yang bertanding.
Olimpiade Tokyo 2020 Sungguh Menakjubkan
Selain keunikan di atas, ada beberapa hal yang menakjubkan dalam penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 2020 tersebut. Akun instagram @energyacademyindonesia, menyebutkan bahwa Olimpiade Tokyo 2020 merupakan olimpiade paling hijau dan bebas karbon.
Sebagaimana kita tahu, emisi karbon adalah gas yang dikeluarkan dari hasil pembakaran senyawa yang mengandung karbon. Contoh dari emisi karbon ialah CO2. Kayu, daun, bensin, gas LPG, solar, gas LPG, serta bahan bakar lainnya adalah tersangka utama penyumbang CO2 terbesar. Tidak heran jika tingkat emisi CO2 terus meningkat, seiring meningkatnya jumlah kendaraan berbahan bakar minyak/gas. Selain itu kebakaran hutan dan pembakaran sampah menjadi pemicu lain meningkatnya emisi CO2.
Untuk menekan dan menurunkan tingkat emisi karbon (CO2) ini, sebagaimana dilansir oleh tomps.id, Jepang menargetkan seratus persen kendaraan peserta menggunakan kendaraan rendah polusi dan hemat bahan bakar. Hal yang dilakukan adalah penggunaan sel bahan bakar dan jenis kendaraan hibrida plug-in. Konon, kendaraan hibrida plug-in adalah kendaraan yang baterainya dapat diisi ulang dengan menancapkannya ke sumber listrik eksternal.
Meskipun dilaksanakan pada tahun 2021, rupanya Jepang sudah mengajak rakyatnya sejak tahun 2017 berpartisipasi mengumpulkan sampah yang dapat didaur ulang. Sampah-sampah itu nantinya disulap menjadi 5000 medali kejuaraan. Limbah apakah itu? Masyarakat Jepang telah mengumpulkan sekitar 78.985 ton perangkat eletronik kecil dan 6,21 juta sampah ponsel. Material sebanyak itu dikumpulkan sejak tahun 2017 hingga Maret 2019. Selanjutnya dengan sentuhan teknologi, disulap menjadi medali tanda kemenangan.
Hal lain yang menakjubkan adalah ditemukannya fakta bahwa obor olimpiade dan seragam para pembawanya terbuat dari bahan daur ulang. Botol-botol plastik disulap menjadi pakaian sedangkan alumunium disulap menjadi obor yang ramah lingkungan. Sampah plastik daur ulang dan sampah plastik laut, diolah menjadi podium.
Hal Baik Perlu Dicontoh
Partisipasi rakyat Jepang dalam membantu pemerintah untuk mewujudkan even olahraga yang ramah lingkungan patut diacungi dua jempol. Bagaimana cara warga mengumpukan sumbangannya? Pemerintah menyediakan wadah sebagai tempat “parkir” plastik sumbangan warga yang tersebar di tidak kurang 2000 ritel seluruh kota di sana.
Demikian pula halnya dengan stadion. Enegri listrik yang digunakan di stadion, berasal dari 100% energi terbarukan, di antaranya sistem tenaga surya. Selain itu, stadion baru dalam Olimpik tahun ini memanfaatkan sumber daya air secara efektif dengan mendaur ulang air hujan.
Betapa hal baik yang dicontohkan oleh Jepang layak diduplikasi oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat bahwa produksi sampah nasional telah mencapai 67,8 juta ton pada tahun 2020. Apa artinya? Artinya adalah 270 juta penduduk Indonesia menghasilkan sampah dalam sehari mencapai 185.753 ton! Hampir satu kilogram sampah dihasilkan oleh setiap orang dalam sehari.
Ayolah, mulai sekarang pikirkan untuk tidak lagi sembarangan membuang sampah, terutama sampah plastik. Sampah jenis ini adalah jenis sampah yang membutuhkan waktu ratusan tahun untuk bisa terurai menjadi senyawa yang berguna di dalam tanah.
Jika kita tidak bisa menghindar dari penggunaan plastik, mulai saat ini mari kita pilah dan sisihkan sampah plastik seperti gelas atau botol bekas air minum dan wadah plastik lainnya. Apabila tidak bisa menyulap menjadi barang kerajinan, barang-barang tu dapat kita berikan kepada para pemulung atau dijual kepada pembeli barang rongsokan yang berkeliling di kampung. Bagi pemulung atau pembeli barang rongsokan, barang-barang plastik itu menjadi ladang rezeki karena memperoleh barang yang bisa diuangkan. Kita pun merasa senang, sampah di rumah tidak menumpuk dan bisa membantu sesama.
Jika kemampuan kita belum bisa seperti Jepang, setidaknya kita dapat meniru rakyat Jepang yang suka rela membantu memilah sampah dan mengumpulkan sampah daur ulang untuk dimanfaatkan. Sudahkah kita lakukan?
Salam blogger sehat
PakDSus
Sumur:
Buat Kagum, Ini 7 Project Sustainability Olimpiade Tokyo 2020
https://www.suara.com/tekno/2021/03/09/151454/apa-itu-emisi-karbon-ini-dampak-dan-cara-menguranginya?page=all
https://www.instagram.com/energyacademyindonesia/
https://indonesia.go.id/kategori/indonesia-dalam-angka/2533/membenahi-tata-kelola-sampah-nasional
Cakepp Pak D…
Paragraf terakhir pesan sederhana yang tidak sesederhana untuk melakukannya
Ulasan yang ditulis apik. Mantul Pak Susanto
Luar Biazzzaaa!!! Benar-benar patut dicontoh. Jadi ingat atlit yang loncat-loncat di kasur yang rangkanya terbuat dari dus.