Pilkades: Hidup, Hibuk, dan Hirup Aromanya

Hari ini, pesta demokrasi digelar kembali dalam bentuk pemilihan kepala desa. Tidak terkecuali Desa D. Tegalrejo, Kecamatan Tugumulyo, desa tempat saya tinggal sejak tahun 2006.
Sejak saya tinggal di desa D. Tegalrejo, sudah dua kali saya mengikuti pemilihan kepala desa. Bahkan, dua kali itu pula saya menjadi sekretaris panitia, setelah dua tahun saya menjadi penduduk baru di desa urutan keempat dari desa dengan kode abjad A-Z. Pada dua kali pemilihan tersebut, calon yang maju hanya satu orang, yakni petahana yang saat ini maju untuk ketiga kalinya.
O ya, untuk menyegarkan ingatan, petahana (bahasa Inggris: incumbent), berasal dari kata “tahana”, yang berarti kedudukan, kebesaran, atau kemuliaan. Dalam kehidupan politik di negeri ini, petahana adalah istilah bagi pemegang suatu jabatan politik yang sedang menjabat.
Mengingat saya sudah pernah dua kali ikut andil atau berperan dalam pelaksanan pemilihan kepala desa, pada perhelatan pesat demokrasi tingkat desa, saya tidak berminat untuk ikut meskipun beberapa rekan masih mengajak untuk ikut menjadi anggota panitia.
Hidup
Pilkades (pemilihan kepala desa) di wilayah hukum pemerintahan kabupaten Musi Rawas meliputi beberapa desa. Desa A. Widodo, D. Tegalrejo, F. Trikoyo, G1. Mataram, H. Wukirsari, I. Sukomulyo, Y. Ngadirejo, K. Kalibening, M. Sitiharjo, dan lainnya saya tidak hafal.
Pemilihan kepala desa di Desa D. Tegalrejo kali ini terasa lebih hidup. Calon yang mengikuti proses pemilihan tidak hanya satu orang, seperti dua pilkades yang pernah saya ikut urusi. Ada tiga calon termasuk petahana pada pilkades kali ini. Demokrasi lebih hidup ketimbang hanya memilih satu orang dengan lawan satu kotak kosong.
Meskipun sudah menjabat dua kali berturut-turut, petahana maju kembali dalam pemilihan. Menurut Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, dijelaskan bahwa calon kepala desa tidak pernah sebagai Kepala Desa selama 3 (tiga) kali masa jabatan. Dengan dalil inilah, sang petahana, mencalonkan diri kembali.
Jika pada periode sebelumnya, tenggang waktu yang disediakan pada penjaringan bakal calon belum ada satu pun yang mendafatr hingga dibuka perpanjangan waktu, bakal calon yang mendaftar hanya satu orang. Bahkan hingga masa pendaftaran ditutup, tidak ada lagi bakal calon yang berminat mengikuti pencalonan dalam pemiliha kepala desa. Namun pada pilkades serentak tanggal 8 April 2021 ini, tidak hanya satu yang mendaftar.
Hibuk
Meskipun saya tidak lagi menjadi panitia, namun saya membayangkan betapa hibuk panitia pemilihan kali ini. Pemeriksaan berkas atau proses verifikasi tentu memakan waktu yang lebih lama dibandingkan jika hanya satu calon. Ini berbeda dengan pemilihan kepala desa enam tahun yang lalu.
Kehibukan tidak dirasakan oleh panitia saja. Kehibukan pun terlihat pada aparat keamanan. Potensi ketegangan yang mungkin terjadi diwaspadai para petugas keamanan. Kehibukan petugas keamanan yang hilir mudik membuat acara berlangsung aman dan lancar.
Kehibukan lain pun terasa di kediaman para calon masing-masing. Di bawah tenda terdapat meja panjang. Jika Anda melalui tempat itu, akan Anda hirup aroma masakan terutama sajian makan, sarapan, dan makan siang.
Hirup
Namun ketika saya ditanya, “Apakah ada aroma kecurangan yang Anda hirup?”
Saya tidak akan mampu menjawab. Sependek pengamatan saya semua berjalan wajar. Jika ada tim sukses pemenangan tiap-tiap calon yang mengajak memilih, menurut saya wajar dalam setiap perhelatan pesta demokrasi. Semua ingin menang dan tidak mungkin dilakukan sendiri secara pribadi oleh para calon.
Apakah Anda diberi uang untuk memilih salah satu calon? Saya jawab, tidak. Apakah Anda diberi bingkisan sebagai syarat untuk memilih calon tertentu, saya jawab, tidak. Semoga tidak ada gejolak pasca penghitungan suara.

Salam blogger sehat
PakDSus
https://blogsusanto.com/
#AprilChallenge, Hari Ke-7 Huruf G, lagerunal
Wah, apa iyo nian, Pak Indra?
Seperti dibawa pergi ke Desa D Tegarejo
Seperti saya dibawa melihat proses pemilihan kepala desa di Desa D…
Semoga amal bakti yang gugur mendapat balasan yang setimpal.
Siap, Bu.
Semoga tidak tersindir, ya. Ha ha ha
Membaca tulisan Pak D, mengingatkan saya pada pesta demokrasi tahun 2019. Betapa kompleks dan hibuknya panitia hingga beberapa diantaranya gugur.
Siapa pun pimpinannya semoga membawa keberkahan kepada warga Desa tempatnya Pa D
mohon koreksi tulisan saya Pa D
https://hernisbanah.blogspot.com/2021/04/hidup-hirup-dan-hibuk-bagaikan-rantai.html
Ini dia yang berbeda daripada tulisan-tulisan lain, menghirup aroma kecurangan. Terasa menyindir, tetapi memang cocok dengan konteks saat ini, hampir di semua pemilihan. Kira-kira begitu.
Harapannya begitu.
Mudah-mudahan tidak ada gejolak yang berarti.
Harapannya begitu.
Ada hikmahnya, Ambu.
Semoga saja dan tidak ada gejolak.
Ada aja ya, Mak!
Ha ha, iya tidak hibuk lagi. Dihibukkan dengan nulis aja.
Makasih, Bu Cici. Semoga deh.
semoga baik-baik saja, dan desanya lebih maju kedepannya.
Syukur karena:
1. tidak terhirup aroma kecurangan saat pilkades di tempat Pak De
2. Hidup Pak De tidak hibuk lagi dengan urusan Pilkades. Barangkali sekarang hibuknya di grup menulis
Keren… Master Susanto, trimks berbagi cerita pilkades. Sangat kebetulan dg tigakata dlm tantangan menulis hari kamis
Semoga sukses proses pemilihan kades yang demokratis.
Untung gak hibuk krn ikut jd panitia yah, Pak. Kalau ikut pastilah bertambah kehibukannya..
Siapapun yang menang semoga menjadi amanah.
Selalu ada kata baru dalam tulisan Pak D. Seperti kata petahana ( kedudukan). Terimakasi infonya. Semoga sukses pemilihan kepala desanya Pak D.
Semoga aman pak D, siapapun yang menang..