Rahasia Ayah yang Terbongkar

Ada dua belas tulisan pada even #SeninBW. Tiga di antaranya blog atau website pribadi. Sisanya, sembilan tulisan, ditulis di Kompasiana, blog keroyokan yang dikelola Kompas Cyber Media. Belakangan, blog wadah membuat konten bagi semua warga ini makin diminati. Tidak terkecuali, saya.
Saya bergabung (membuat akun) di Kompasiana sejak 21 Januari 2010. Wow, sudah dua belas tahunan. Namun, jarang sekali diisi dengan tulisan. Nah, per 17 Oktober 2022 baru tercatat sebanyak 63 artikel. Itu pun karena digabungkan ke dalam Grup Penulis Kompasiana oleh Om Doktor Wijayakusumah alias Omjay. Lalu, grup tersebut membuat tantangan menulis selama 60 hari sejak 19 Agustus 2022.
Mengapa sudah bergabung cukup lama tetapi tulisan yang dibuat baru 63 buah? Ya, karena awalnya hanya coba-coba. Saya tidak tahu dan mau tahu apa dan bagaimana ber-Kompasiana. Jadi, tidak heran jika pernah satu tulisan dihapus admin karena memiliki unsur plagiasi (diangap meniru konten yang sudah ada) lebih dari 20%. Pernah juga sebuah gambar ilustrasi dihapus, namun tulisan tidak, karena mencantumkan sumber tidak sesuai dengan ketentuan.
Mengapa belakangan anggota Grup Belajar Menulis besutan Om Doktor itu makin ramai dan penulis blog hampir-hampir meninggalkan blog pribadinya? Mereka memilih menulis di Kompasiana. Bahkan, tulisan di Kompasiana sebagian disimpan kembali di blog pribadi (tidak sebaliknya). Bisa jadi karena di Kompasiana ada sistem poin.
Penulis baru dikategorikan Debutan jika mengantongi 100-500 poin. Jika poin yang diperoleh lebih dari 500 tetapi kurang dari atau sama dengan 1.500, dikategorikan akun Junior. Jika poin mencapai lebih dari atau sama dengan 1.501 hingga kurang dari atau sama dengan 10.000 poin, ia mendapat sebutan akun kategori Taruna. Lihat di sini untuk mengetahui jumlah poin dan sebutan bagi peraih poin.
Pantun Bale Edisi Selasa (18 Oktober 2022)
Di GWA (Grup WA Lagerunal), daftar tulisan yang diikutkan pada kegiatan #SeninBW (Senin Blog Walking), tidak dibatasi hanya tulisan yang dikemas dalam bentuk tautan blog pribadi. Saling kunjung dan saling sanjung dapat dilakukan anggota Lagerunal dengan mengirim tulisan pada tulisan yang dikemas dalam berbagia platform: Kompasiana, Gurusiana, Kumparan, Republika, dan lainnya.
Kali ini, saya ingin memantau tulisan Sobat Lage (disingkat Pantun Bale) pada tulisan berjudul “Tangisan Rianita” karya ibu Sri Mustari Handayani. Tangisan Rianita adalah sebuah cerpen atau cerita pendek. Tulisan ini dimuat di Kompasiana pada tanggal 17 Oktober 2022 pukul 19:19 dan diperbarui: 17 Oktober 2022 pukul 20:08.
Inti Cerita dan Amanat
Cerpen 609 kata ini cukup menarik. Bertutur tentang perselingkuhan seorang ayah. Tunggu, benarkah perselingkuhan? Jika boleh saya mengatakan, lebih tepatnya menikah diam-diam. Tidak diceritakan secara rinci adanya perselingkuhan. Akan tetapi, menikah diam-diam yang ketahuan belakangan. Itu pun karena sang anak yang menjadi guru sekolah menengah tingkat atas membaca biodata seorang siswa baru. Nama ayah anak tersebut sama dengan nama ayah Livia, guru yang membaca fotokopian kartu keluarga siswa baru tersebut. Yang membagongkan, he … he … maksudnya yang mengejutkan, nama ayah si anak sama persis dengan ayah Livia.
Bu Guru Livia pun melakukan investigasi. Ia mendatangi Ketua RT sesuai alamat pada kartu keluarga. Mak jleb, apa yang dikhawatirkannya ternyata benar. Ayahnya menikah dan memiliki anak yang sekarang menjadi muridnya. Bapak Rudy Hermawan, ayah Livia, tepergok memasuki rumah sesuai alamat yang diketahui atas bantuan RT setempat.
Ayahnya pun dicap sebagai pembohong. Penipu bagi keluarganya. Tak ayal, pertengkaran pun terjadi antara Livia dengan “Mak Tiri”, istri ayahnya. Livia menuntut ayahnya menjelaskan kepada ibunya, namun bersikukuh menolak.
Lalu, amanat dari cerpen bertema ‘perselingkuhan’ atau kebohongan dalam rumah tangga ini apa? Agak sulit mendeskripsikan. Kenyataannya, pada akhir cerita Rianita hanya berkata, “Biarlah, Nak …. Kita tunggu saja apa keputusan ayahmu nanti.” Apakah ungkapan ini boleh disimpulkan, jadilah wanita sabar dan menerima jika suami secara diam-diam menikah lagi? Hmm … saya bakal kena amuk teman-teman pembaca, khususnya ibu-ibu, jika menuliskan kesimpulan seperti ini. Yang jelas, Tangisan Rianita adalah gambaran betapa seorang Rianita adalah wanita sekaligus istri yang sabar, tidak meledak-ledak, dan siap menerima apa pun keputusan suaminya.
Kontradiksi dalam Cerita
Ada sedikit hal yang “mengganjal” pemikiran saya sebagai pembaca cerita pendek dengan topik yang menguras emosi perempuan ini. Pada paragraf ketiga, digambarkan bahwa Rianita dan suaminya adalah keluarga yang harmonis dan romantis. Mereka pun berhasil mendidik putera-puterinya menjadi seorang guru dan seorang anggota TNI. Berikut saya sertakan gambar tangkapan layar paragraf ketiga tersebut.

Hal tersebut bertentangan dengan paragraf keempat yang menggambarkan bahwa suami Rianita adalah seorang yang sering marah-marah dan selalu bernada tinggi kepada istri dan kedua anaknya yang dewasa. Hal itu dapat kita baca pada paragraf keempat.

Agak sulit membayangkan keluarga yang harmonis dan romantis namun sering marah-marah dan selalu bernada tinggi.
Unsur Teknis dalam Penulisan Cerita
Selain alur cerita, hal kasat mata yang membuat cerita menarik untuk dibaca adalah unsur teknis penulisan. Unsur teknis meliputi panjang pendeknya kalimat, penggunaan tanda baca, dan unsur ejaan lainnya sebagaimana Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.
1. Kalimat Panjang dalam Paragraf
Perihal kalimat panjang ini sudah saya tulis sebelumnya di sini. Kalimat ditandai dengan huruf kapital pada huruf pertama kata dan diakhiri dengan tanda titik. Tanda koma mungkin dibutuhkan jika di dalamnya terdapat perincian, atau ada bagian kalimat yang perlu dipisahkan agar menjadi jelas. Tidak jarang ditemukan pemisahan kalimat dengan tanda koma. Sehingga, kalimat dalam satu paragraf terkesan hanya satu kalimat karena tanda titiknya hanya satu, pada akhir paragraf.
Saya kutip paragraf ketiga yang gambar tangkapan layarnya ada pada bagian atas tulisan ini.
Suami yang dia cintai adalah jodoh yang dipertemukan dengan sendirinya bukan perjodohan seperti cerita Siti Nurbaya tempo dulu, saat mereka berpacaran sampai ke pelaminan semuanya indah dan romantis hingga keluarga pun turut berbahagia namun, siapa sangka setelah mengarungi bahtera rumah tangga cukup lama dan setelah kepergian kedua orang tuanya semua kini terkuak di mata umum kalau suaminya adalah seorang penipu, pembohong bagi keluarga dan rumah tangganya yang selama ini dianggap harmonis dan romantis.
Microsoft Word menghitung, kalimat tersebut sebanyak 73 kata dan hanya satu tanda titik pada akhir paragraf. Artinya, paragraf itu hanya terdiri dari satu kalimat. Pemisahan bagian-bagian kalimat menggunakan tanda koma. Seharusnya, tanda koma tersebut adalah tanda titik. Bagian yang dipisahkan oleh tanda koma tersebut sesungguhnya kalimat yang lengkap. Mari kita salin kembali, namun dipecah menjadi kalimat-kalimat yang lebih pendek.
Suami yang dia cintai adalah jodoh yang dipertemukan dengan sendirinya. Ini bukan perjodohan seperti pada cerita Siti Nurbaya tempo dulu. Saat mereka berpacaran sampai ke pelaminan semuanya indah dan romantis. Hingga keluarga pun turut berbahagia. Namun, siapa sangka setelah mengarungi bahtera rumah tangga cukup lama dan setelah kepergian kedua orang tuanya semua kini terkuak di mata umum. Suaminya adalah seorang penipu, pembohong bagi keluarga dan rumah tangganya yang selama ini dianggap harmonis dan romantis.
Berapa sih jumlah kata yang dapat ditoleransi untuk sebuah kalimat? Kalimat paling sedikit terdiri dari satu kata. Paling banyak, menurut kelaziman adalah dua puluh kalimat saja. Jika lebih dari dua puluh, misalnya hingga tiga puluh kata, usahakan ‘dipecah’ menjadi setidaknya dua kalimat.
2. Tanda Baca dan Unsur Ejaan
Kekeliruan penulisan, typo, atau saltik (salah pengetikan) adalah hal yang “menggangu” dalam proses membaca. Oleh karena itu, melakukan proofreading sebelum menerbitkan tulisan mutlak dilakukan.

Lihatlah kata dibalik pada awal paragraf pertama tersebut. Gaya bahasa yang bagus menjadi tidak efektif dengan kehadiran penulisan “dibalik” yang ditulis serangkai. Bukankah bentuk “dibalik” ada pasangannya yakni “membalik”? Iya. Namun, dalam konteks kalimat tersebut kata balik bukan kata kerja, melainkan kata yang menunjukkan tempat. Kata balik pada kalimat tersebut bermakna sisi sebelah belakang dari yang kita lihat. Oleh karena itu, lebih tepat ditulis “di balik“.
Saat mentari pagi bersembunyi di balik awan hitam … dan seterusnya.
Selanjutnya adalah pengetikan tanda hubung untuk menyambung unsur kata ulang. Dalam cerpen tersebut, ada beberapa pengetikan kata ulang dengan memberi spasi/jarak pada tanda hubung tersebut. Lihatlah gambar tangkapan layar paragraf ketiga di atas. Kata “marah-marah” diketik “marah – marah”.
Hal lainnya adalah penggunaan tanda elipsis atau titik tiga. Tanda elipsis dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau kutipan ada bagian yang dihilangkan. Pada cerita, fiksi tanda ini biasanya digunakan untuk memberikan jeda pada dialog. Uraian lengkap tentang penggunaan tanda elipsis silakan klik di sini. Menurut aturan pada PUEBI, tanda elipsis itu didahului dan diikuti dengan spasi.
Sesuai namanya, Pantun Bale, tulisan sebagai bentuk kecintaan terhadap sahabat Lagerunal. Telaah kritis ini sebagai bentuk autokritik agar apa yang dikritisi diperhatikan oleh diri sendiri ketika menulis. Selain itu, semoga menjadi bahan pembelajaran bagi pembaca, baik sebagai penulis maupun bukan.
Salam dan bahagia
PakDSus
Musi Rawas, 18 Oktober 2022
Mantab Pak Polisi bahasa.. keren ulasannya.. terimakasih.saya banyak belajar dari Pak D…
Maaf saya masih belajar menulis, saat menulis kendalanya adalah menulis menggunakan hp.
Terima kasih atas koresinya, semoga kedepannya lebih baik lagi.