Terima, Sadari, Perbaiki

Menulis saja, jangan pikirkan hal-hal teknis! Begitu, kan? Beberapa kali saya mendapat nasihat seperti itu. Tidak salah dan sah-sah saja. Seperti anak Anda sedang belajar berjalan, kita harus mendukungnya dengan kalimat penyemangat: “Jalan saja terus, jangan lihat kiri dan kanan!” Setelah anak kita pandai berjalan, kalimat penyemangat tersebut, tentu tidak boleh dilanjutkan.
“Anakku, berjalanlah di sebelah kiri. Lihat ke kiri dan ke kanan jika mau menyeberang. Waspada jika ada duri atau pecahan beling agar telapak kakimu tidak terluka!” Boleh jadi nasihat seperti ini akan kita berikan kepadanya.
Analogi tersebut dapat kita terapkan dalam menulis. Setelah Anda mampu menulis tanpa memikirkan hal-hal teknis, saatnya kita belajar beragam jenis tulisan, fiksi/nonfiksi, ilmiah/populer. Masing-masing memiliki “aturan” atau kaidah-kaidah tertentu. Belum lagi hal-hal teknis yang berkaitan dengan kalimat efektif maupun aturan penulisan yang dalam bahasa kita sudah terangkum dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.
Komunitas menulis adalah wadah kita untuk belajar. Belajar dari tulisan teman, komentar, pertanyaaan, bahkan kritikan. Ingat, kadang kita memohon dengan memberi sedikit komentar terhadap link blog yang dikirimkan ke grup. “Mohon krisan, ditunggu keripik pedasanya” adalah kalimat bernada gurauan yang memohon rekan satu grup untuk memberi hal yang penulis minta. Apakah kalimat itu kalimat basa basi? Pasti bukan, ya! Hal itu ditulis karena memiliki niat ingin belajar dan memperbaiki.
Bagaimana jika ada kritik, saran, atau tanggapan? Tidak ada kata lain selain terima, sadari, perbaiki. Yang suka diskusi pasti tidak terima dan sibuk membela diri. Tidak salah! Namun, jika penjelasan logis nan masuk akal dari teman dapat kita pahami, lagi-lagi kita haru mau menerima, menyadari, dan memperbaiki.
Salam Blogger Guru Nasional
PakDSus
Musi Rawas-Sumatera Selatan

mantap pakDe,
smoga kita tidak bosan untuk trus belajar
Maafkan Pak De saya klik bebetapa kali gak bisa nyambung. Barusan juga sempat gak nyambung. Kutunggu sampe bisa nyambung. Alhamdulillah kali ini baru bisa.
Terimakasih Pak D.. Siap menerima kripik pedasnya ya. Makasih sudah selalu mengingatkan.
Terina,sadari dan perbaiki..
Pengingat yang mantap, Pak D. Semakin menguatkan diri untuk terus menjadi pembelajar.
Saya juga suka keripik pedas pak. Tapi kalau kritikan senang diberi saran, he he he…. Keren pak
Mantap pak. Tetap semangat untuk terus menulis.
Salam literasi
Betul, krisan dan keripik pedas itu membuat kita jadi lebih baik.
Penulis harus banyak membaca dan perlu pembaca, berada di komunitas literasi adalah hal yang sangat tepat. Saling mendukung, memotivasi dan take and give.
Iya pak D keripik pedas itu mantaap.. boleh yaa berkali2 di kasih ke sy..
Ternyata dibanyak hal memang harus menerima keadaan dan siap perbaikan ya, pak D.
Apalagi dalam hal menulis.
Terimakasih tulisannya, pak.
Makasih …..
Ups…. Nah yang gak punya Musi bisa iri tuh.
Bu uci, setuju juga.
Nah itu dia.
Terima kasih, Pak Ansar yang baik hati. Siap,Pak.
Jangankan kritikan, tulisan dihapus, pun kita terima hahaha. Coba saja nulis di Komp****na. Plagiasinya lebih dari 25% pasti dihapus.
Salam kembali, Bapak!
Masih bisa disambi, Bunda Sri.
46 juga Bu Lusia
Siap mendukung dan mendoakan.
Genggam erat, jangat lepaskan. ha ha ha kayak lagu.
Terima kasih sudah diingatkan,Bunda hajjah.
Hmmm, Bu Aam makin mantap! 46
Setuju analoginya pas banget
Lanjut aku mulai belajar bermacam teknis tulisan
Mantap pak D.
Weeeehhhhh memang super sekali pak editor kita ini…dari tiga kata dijabarkan dengan uraian yang sangat panjang, mengalir tenang seperti sungai Musi jatuh di muara..
Betul sekali pak D
Mantapp.. Kerenn..
Ya betul Pak De, harus memperbaiki postingan sesuai kritikan.
Setiap kita pasti ada kekurangan, hal itu dapat ditutupi dengan orang peduli di sekeliling kita. Maka terimalah dengan rendah hati
siap pak D untuk menerima ilmu walau dari sebuah kritikan yang mungkin pedas terasa.
Terima kasih advisnya Pak D….. semuanya diterima dulu, apa pun caranya, begitu sudah mampu dikritisi setelah sadar dengan pengetahuannya dan akhirnya diperbaiki . Dengan analogi anak kecil belajar naik sepeda cukup memberi efek tekanan tulisan menjadi berbobot. Salam Pak D
Wow bener pak kalau mau maju…tiga kata ini harus digenggam
Setuju. Terima dan sadari kekurangan diri. Setelah itu perbaiki. Bukan hanya dalam menulis saja, dalam setiap aspek kehidupan yg lain juga.
Terimakasih sudah berbagi
Salam literasi
Salam Kamis menulis
Kebetulan aja temanya itu Bu Ai.
Selagi lampu pijar “cling” keburu padam.
Cabe nya habis.
Wah, he he.
Betul Bu Cik.
Kapan-kapan boleh dapat keripik pedasnya ya Pak D…☺️
Hebat tetap semangat,,, tulisannya berasa banget dari hati. Dan itu yg selalu muncul ketika saya sudah selesai menulis.
Laur biasa gercepnya Pak D…
Master Susanto, walaupun sedang sakit. Semangat menulis tdk diragukan lagi. Paling keren…
Analogi yang langsung masuk jleeb.
Terimakasih Pak D.
Kripik pedesnya Pak D? 5000 saja…. hehehehe
Terima diajak keluar zona nyaman, sadari bahwa tulisan belum sesuai aturan penulisan, perbaiki… bagitu pak D?