artikel

Tiga Puluh Tahun Lalu

Tiga Puluh Tahun Lalu

“Nggak asyiklah menceritakan kisah puluhan tahun lalu,” kata temanku.

Aku pun menjawab,” Setidaknya ada sepenggal kisah bahwa pernah terjadi sesuatu pada kurun waktu itu. Lagi pula, mumpung ada ide menulis. Teman-teman mengajak menulis dengan tema “beriman”. Tema besarnya sih Pelajar Pancasila. Tapi, kamu tahu ‘kan salah satu profil Pelajar Pancasila itu beriman? Selain itu, berkebhinekaan global, bergotong-royong, kreatif, bernalar kritis, dan mandiri.

“Ciye, … guru penggerak, nih! Lain nian yang punya karpet merah buat jadi kepala sekolah,” ledek si teman.

Kalau saja si teman bukan sahabatku, pengin kutinju kepalanya. Eh, masa sih, guru penggerak ninju kepala guru? Ha ha ha, guru juga manusia. Punya hati dan punya rasa, alias emosi. Nah, inilah perjalanan kompetensi hidup. Dari ABG labil alias ababil, lalu menuju usia dewasa muda yang dinamis dengan semangat menyala pun emosi tingkat tingggi, akhirnya menjadi “anggur” alias orang tua. Masih punya emosi, namun semakin mampu mengendalikan.

“Bukan begitu, Bro! Memang ada yang bilang guru penggerak punya karpet merah. Dus, punya akses mudah untuk menjadi pengawas atau kepala sekolah. Cuman apa dia mikir tidak ada persyaratan lainnya? Lagi pula, aku sangat tidak tertarik menjadi kepala sekolah. Biarlah mereka yang memiliki passion untuk itu. Saya lebih suka bercengkerama dengan anak-anak didik. Saya ingin mereka pada masa depan memiliki karakter yang tercermin pada profil pelajar Pancasila yang nilainya universal. Jika mau maju ya harus berkebinekaan global artinya menjauhi permusuhan karena perbedaan SARA, mau bergotong-royong, memiliki jiwa kreatif, bernalar kritis, dan bisa mandiri. Hanya, karena kita adalah masyarakat religius, maka ditambah satu dan harus dimiliki sebelum memiliki yang lainnya yaitu, beriman.” Aku mencoba menjelaskan.

“Oke oke oke,” kata temanku sambil menepuk-nepuk bahu. Hi hi hi, mungkin dia tahu dan ingin mendinginkan emosiku. “Nah, mau cerita apa tentang Tiga Puluh Tahun Lalu?” imbuhnya.

Kebumen Beriman

“Tahun ini tahun 2022, jadi tiga puluh tahun lalu tahun 1992. Itu tahun terakhir aku berstatus sebagai anak sekolah di sebuah kabupaten di selatan Jawa Tengah, Kabupaten Kebumen. Sejak 1993 aku meninggalkan kabupaten kelahiranku dan melanjutkan hidup di rantau.”

“O, umur berapa kau pindah ke sini?” tanya temanku.

“Aku baru berumur dua puluh dua lebih sedikit.”

“Lumayan masih muda,” tukasnya.

“Aku sering kangen dengan Kebumen, meskipun aku asli kelahiran Gombong. Saat aku meninggalkan kabupaten Kebumen, saat itu sedang marak pemakaian slogan di kabupaten/kota. Slogan itu menjadi bagian dari visi dan misi kabupaten melaksanakan pembangunan. Ada beberapa slogan yang aku ingat seperti Purwokerto Satria, Cilacap Bercahaya, Solo Berseri, Palembang Bari, dan sebagainya. Tentu, aku paling ingat slogan kabupaten tempat kelahiranku.”

“O, ya? Apa sih kepanjangannya?” tanya si teman.

“BERIMAN itu slogan yang diklaim oleh Pemkab Kebumen sebagai slogan paling terkenal di Indonesia. Singkatannya Bersih, Indah, Manfaat, Aman, dan Nyaman. Bahkan, slogan ini sudah diabadikan juga dalam bentuk Gending atau lagu Jawa dengan iringan gamelan dengan judul yang sama, Kebumen Beriman,” kataku selanjutnya.

“Benarkah, sudah adakah di Youtube?” tanya temanku.

“Jelas ada! Bahkan lagu atau gending Jawa ini sudah menjadi musik resmi dalam beberapa pertemuan adat maupun kepemerintahan. Dalam perkembangannya, ternyata iringan gamelan yang sekarang sudah pula digitalkan dengan bantuan keyboard. Namun iringan asli dengan gamelan tetap menjadi daya tarik sendiri. Aku tunjukkan ya. Sebentar, aku lihat ada tiga video gending Kebumen Beriman.” Aku pun segera membuka dan menunjukkan kepada tamanku itu.

Berikut gending Kebumen beriman versi karaoke.

Berikut lirik lagunya.

LIRIK LAGU “KEBUMEN BERIMAN”

Kebumen beriman…. kebumen beriman …..

Yo konco do nyengkuyung,
Semboyan Kebumen Beriman,
Bersih, indah, manfaat,
Aman, sarto nyaman tegese,

Bersih kudu lair lan batine,
Indah iku mesti bakal kelakoni,
Manfaat tumrap wargane,
Aman adoh soko ing rubedo,

Yekti nyaman kang bakal tinedyo,
Iku sumber semangat makaryo.

“Eh, ngomong-omong. Kau mau cerita apa tentang Tiga Puluh Tahun lalu? Dari tadi cuman ngomongin slogan sama lagu?” temanku protes.

“Lha …, ya itu yang mau aku ceritakan tentang tiga puluh tahun lalu. Karena aku … aku … aku kangen pengin pulang kampung, tapi duit belum terkumpul.”

Musi Rawas, 3 Maret 2022.

PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

10 thoughts on “Tiga Puluh Tahun Lalu

  • Cieeee guru penggerak hehehh pizzz pak dejangan jewer aq ya, wes nanti blogger tour ke kampung halaman pak D ya 🙂

  • Pak D kepingin mudik ke Kebumen Beriman, saya ke Purwokerto Satria he he

  • Wah, saya menikmati alunan gendingnya, merasakan semangat di dalamnya, walaupun saya gak mengerti artinya..

  • Wah masyatakat Kebumen oasti berterimakasih diibgatkan kembali motto dan slogan kabupatennya…..
    BERIMAN (Bersih, Indah, Manfaat, Aman, dan Nyaman. ) Siip.

  • Rizky Kurnia Rahman

    Ohh, yang dikatakan beriman itu kota Kebumen toh?! Okelah kalau begitu.

  • Kebumen beriman…. Aamiin. Rindu kampung halaman semoga segera dapat terobati Pak D. Aamiin

  • Subhanallah… 1992, Pak D sudah mengabdi, sementara saya baru lulus SD…

  • Bersih, indah, manfaat, aman. Keren Pak D, singkatannya. Kebumen, gitu lo … Budaya Jawa mantap-mantap, Pak D. Harus terus dilestarikan, jangan sampai hilang.

  • Dari kata beriman langsung melebar.Betul sekali beriman kpd Tuhannya niscaya akan selamat baik dunia atau akhirat,kata Ustad,

  • HAhahaahahah…. boleh.. boleh…
    saya juga menunggu, apa yang dirasakan teman Pak D.
    Ehh cuma lagu kebumen yang ingin diceritakan… Mantaap Pak D.

    BERIMAN (Bersih, Indah, Manfaat, Aman, dan Nyaman. )

Comments are closed.