Toleransi

Beberapa waktu terakhir ini, saya sering membaca selintas status, cuitan, unggahan di media sosial perihal toleran dan kata turunannya: toleransi, intoleran. Ada apa ini? Sebenanrnya apa sih toleransi? Apakah sikap kita sudah toleran? Toleransi yang bagaimana yang diharapkan?
Begitu terlintas kata toleransi, berbagai pertanyaan tersebut dalam hati muncul. Mengapa isu toleransi yang pada zaman saya sekolah di SD kata bu guru adalah ciri khas bangsa Indonesia, saat ini mencuat kembali dan menjadi hal yang menjadi bahan gunjingan di jagad maya.
Apakah Toleransi Itu?
Menurut kamus, toleransi berasal dari kata toleran yang memiliki makna bersifat atau bersikap menenggang. Pada kata toleran terkandung sikap menghargai, membiarkan, membolehkan pendirian atau pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Oleh karena itu, toleransi tentu bermakna bersikap toleran.
Toleransi dalam terminologi yang lebih luas diartikan sebagai sikap adil, objektif, dan menghargai orang lain yang berbeda pendapat, kebiasaan, sifat fisik, ras, budaya, dan agama. Sikap toleran wajib diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam rangka menjaga dan mempertahankan persatuan, kesatuan, dan kerukunan dalam bermasyarakat.
Masyarakat, khususnya Indonesia memiliki beragam perbedaan. Perbedaan suku bangsa, ras, dan warna kulit, bahasa, adat istiadat, dan tentu saja perbedaan dalam hal memeluk agama atau kepecayaan. Perbedaan-perbedaan yang ada menjadi kekuatan sebagai bangsa karena Indonesia memiliki beragam budaya. Namun perbedaan itu juga menjadi titik kelemahan karena perbedaan itu mudah dijadikan bahan untuk memecah belah, mempertentangkan satu sama lain, bahkan saling olok.
Toleransi dan Tepa Selira
Saya mendengar kata tepa selira ketika saya duduk di sekolah dasar. Guru kelas empat saya mengatakan bahwa agar kita rukun dengan teman, tetangga, maupun dengan bangsa lain adalah dengan menerapkan sikap tepa selira. Guru saya yang berbahasa Jawa mengucapkannya tepo seliro meskipun tulisannya tetap tepa selira.
Tepa selira dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk menjaga perasaan atau beban pikiran orang lain. Seseorang yang telah memiliki sikap tepa selira, perilaku maupun sikap yang ditunjukkan tidak akan menyinggung perasaan orang lain. Dengan demikian, sikap tepa selira atau tengang rasa akan menumbuhkan budaya saling membantu dan mau bermusyawarah, meskipun mereka memiliki latar belakang yang berbeda-beda.
Sikap Toleransi
Para guru mengajarkan di sekolah tentang contoh sikap toleransi dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat atau lingkungan. Di rumah sikap toleransi ditunjukkan karena adanya perbedaan usia, status dalam keluarga, maupun jenis pekerjaan yang dilakukan anggota keluarga. Oleh karena itu, meskipun dalam satu ikatan kekeluargaan, sikap toleransi pun diperlukan.
Jika orang tua kerepotan, maka anak sebagai anggota keluarga harus bersikap toleran dengan membantunya. Demikian pula sebaliknya. Sikap yang lain misalnya tidak menghina, berlaku kasar, maupun mengucilkan angota keluarga lainnya. Sebagai anak, wajib mendengarkan dan melaksanakan nasihat orang tua. Kita tidak boleh membantah mereka dengan kata-kata kasar dan nada bicara yang tinggi, tidak marah saat membantu nenek/kakek yang sudah tua dalam melakukan aktivitas. Sikap lainnya adalah tidak memaksakan pendapat kepada anggota keluarga, mengurus anggota keluarga yang sedang sakit, dan tidak berbuat gaduh pada saat jam tidur karena dapat mengganggu anggota keluarga lainnya.
Bagaimana sikap toleransi di sekolah? Sekolah adalah tempat berkumpulnya siswa dan guru serta warga sekolah lainnya. Mereka memiliki beragam perbedaan, meskipun pada sekolah tertentu mayoritas homogen namun tetap ada sesuatu yang berbeda. Oleh karena itu kita tidak boleh menghina teman atau warga sekolah karena warna kulit, agama, berat badan, ras, kebiasaan, dan pendapat yang berbeda dengan kita. Sikap lainnya, ramah, tidak mengganggu atau berisik ketika guru mengajar, menghormati dan menghargai pendapat warga sekolah lain.
Selanjutnya bersikap toleran di masyarakat. Jika ada tetangga sakit maka menyetel lagu dengan keras atau berbicara dengan keras berarti kita tidak toleran. Sikap lainnya adalah berlaku baik dan ramah tanpa membedakan ras, suku, agama, budaya, maupun ciri fisik. Tidak menganggu kegiatan ibadah orang lain. Tidak memaksakan pendapat atau merasa paling benar. Membuang sampah di tempat yang ditentukan agar sampah yang basah tidak menimbulkan bau busuk yang menyengat dan mengganggu kenyamanan warga.
Toleransi Menyatukan Bangsa Indonesia
Keberagaman bagi bangsa Indonesia adalah kenyataan sekaligus menjadi kekayaan bangsa. Negara yag terbentang dari Sabang hingga Merauke dan dari Pulau Miangas hingga Rote adalah bangsa majemuk. Indonesia lahir karena pendiri bangsa menanggalkan ego SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan).
Toleransi adalah sikap menerima dengan kepenuhan hati akan keberagaman yang Indonesia miliki. Sikap toleransi sesunggunya sikap menerima keberagaman dengan penuh ketulusan. Persatuan negeri ini hanya mungkin tercipta apabila setiap warga bangsa Indonesia sepenuhnya mengakui dan memberi ruang, serta memberi ruang untuk mengembangkan perbedaan yang dimiliki.
Sejatinya, toleransi adalah sikap resiprokal atau saling berbalasan. Artinya, satu pihak menerima keberadaan pihak lain dan diimbangi oleh sikap menghargai penerimaan yang diperoleh dari pihak lainnya. Setiap pihak perlu saling menerima keberagaman. Di sinilah letak kekuatan toleransi yang sebenarnya. Dengan demikian kehidupan bersama yang selaras akan tercipta. Oleh karena itu, mari kita jaga sikap toleran yang sudah mengakar budaya dalam kehidupan berbangsa dan negara. Perbedaan adalah kekayaan sekaligus kerawanan. Oleh karena itu, sikap merasa paling benar, paling baik, atau lebih unggul dari orang lain sejatinya bibit-bibit perusak toleransi. Semoga kita dijauhkan dari semua itu.
Saya tutup dengan nasihat sederhana guru SD saya. Jika kamu dicubit sakit, maka jangan mencubit orang lain.
Salam blogger sehat
PakDSus
https://blogsusanto.com
#AprilChallenge, Hari Ke-20 Huruf T, Lagerunal

Tugas kita sebagai pendidik untuk menanamkan sikap toleransi dengan tidak kenal lelah dan bosan, atau kita dianggap gagal mendidik.
Mudah diucapkan tapi untuk sebagian orang sulit untuk di aplikasikan…