
Cerpen Anak: Adi Belajar Mengarang

Salah satu karya sastra anak adalah cerita pendek anak atau cerpen anak. Isi cerita pendek untuk anak ini isinya disesuaikan dengan perkembangan intelektual dan emosi anak itu sendiri. Misalnya, anak usia TK dan SD kelas rendah (1-3) atau anak usia SD kelas tinggi (4-6). Selain sebagai hiburan, cerita pendek anak dapat difungsikan sebagai media pendidikan moral.
Berikut ini saya bagikan cerita pendek untuk anak-anak atau cerpen anak. Cerpen anak ini diikutkan dalam challenge Desember 2021 AISEI, sebuah Komunitas Pendidik Indonesia.
Adi Belajar Mengarang
Adi baru saja menyandarkan sepedanya pada sebuah tiang di parkiran sepeda sekolahnya. Standar sepedanya patah. Agar sepedanya tetap berdiri, ia harus menyandarkannya pada tiang parkiran. Setelah itu, ia berjalan gontai menuju kelasnya, ruang kelas enam.
Hari masih pukul tujuh. Ia memiliki waktu untuk membantu temannya membersihkan ruang kelas. Bersama regu piketnya, Adi menyapu ruang, mengumpulkan dan membuang sampah yang berserakan, dan mengatur tempat duduk. Dua puluh menit ia dan teman-temannya bekerja. Mereka masih punya waktu sepuluh menit untuk beristirahat dan membereska peralatan kebersihan. Mereka belajar pukul 07.30 WIB.
Bel sekolah berbunyi. Adi dan teman-temannya masuk kelas dengan tertib. Hari ini mereka tidak belajar seperti biasa. Kata Pak Eko, hari ini mereka akan belajar mengarang. Mereka akan belajar menjadi penulis tetapi bukan Pak Eko yang akan mengajar mereka menulis.
Lima menit setelah anak-anak masuk, Pak Eko bersama seorang laki-laki masuk ke kelas. Anak-anak kelas enam saling berpandangan. Mereka asing dengan orang yang berdiri di sebelah Pak Eko. Adi dan teman-temannya belum pernah berjumpa dengan orang yang berperawakan kecil dengan mata yang berbinar dan memakai topi seperti topi seniman.
Lelaki Bertopi Kodok Itu Bernama Pak Indra
“Selamat pagi, anak-anak!” sapa Pak Eko.
Anak-anak serentak menjawab.
“Pagi hu, pagi ha, pagi hu ha!” jawab anak-anak diikuti senyum dan tawa riuh anak-anak.
Jawaban bernada yel yel itu baru mereka dapatkan dari Pak Eko beberapa waktu lalu. Kata Pak Eko untuk menjaga konsentrasi dan menggugah semangat.
“Terima kasih, Anak-anak. Seperti Pak Eko janjikan beberapa waktu lalu, setelah kalian mengerjakan PAS Ganjil ini kita akan belajar menulis. Setelah anak-anak belajar menulis, nanti kalian saya minta melanjutkan di blog yang sudah kalian miliki,” kata Pak Eko dengan suara yang berwibawa.
“Nah, kali ini saya tidak akan mengajarkan anak-anak menulis. Yang akan mengajarkan kalian menulis atau mengarang kali ini adalah Pak Indra. Beliau seorang penulis, sudah banyak buku yang beliau hasilkan. Pak Indra juga seorang wartawan dan blogger seperti anak-anak. Bedanya, blognya pak Indra sudah ribuan tulisan. Sedangkan kalian baru saja belajar membuat blog dengan android, maka tulisan dan foto yang ada belum seberapa. Setelah belajar dengan Pak Indra, Pak Eko yakin blog anak-anak akan bertambah banyak tulisannya. Seperti Pak Indra, blognya sudah sarat dengan iklan. Ada peluang kalian memiliki penghasilan dari bekerja sebagai penulis atau blogger. Nah, silakan Pak Indra, anak-anak sudah tidak sabar belajar menulis dengan Bapak,” kata Pak Eko panjang lebar dan mempersilakan pak Indra yang bertopi kodok seniman itu berbicara.
“Salam sejahtahtera untuk kita semua, assalaamualaikum warahmatullahi wa barakatuh!” sapa Pak Indra.
Anak-anak serempak menjawab salam yang disampaikan guru mereka hari ini.
“Halo, anak-anak. Dari cerita Pak Eko, Pak Indra membayangkan anak-anak sudah pandai menulis. Bahkan sudah memiliki blog, ya? Baik. Saya akan membagikan kertas folio bergaris setiap anak satu lembar.”
Pak Indra dibantu pak Eko membagikan kertas folio bergaris itu kepada semua anak, termasuk Adi.
Gambar Bercerita
“Anak-anak, pak Indra punya gambar nih,” kata Pak Indra sambil memasang sebuah gambar di papan tulis. Dibantu Pak Eko, gambar itu pun terpasang pada papan putih kelas Adi.
“Gambar apa, anak-anak?” tanya lelaki bertopi kodok itu dan dijawab serentak oleh anak-anak.
“Sepeda!”
“Kalian semua punya sepeda, bukan?” tanya Pak Indra.
“Saya tidak, Pak,” jawab Fio.
“Tidak apa-apa, meskipun tidak memiliki sepeda, kalian pasti mengenal alat transportasi tua bernama sepeda ini, bukan?” jawab Pak Indra bijaksana.
“Coba kalian tulis tentang sepeda yang gambarnya ada pada papan tulis!” perintah Pak Indra.
Sejenak kelas hening. Terlihat wajah bingung di antara mereka. Adi pun begitu. Ia terlihat memutar-mutarkan bolpoinnya beberapa kali, lalu mendongak seakan memikirkan sesuatu. Teman-teman Adi ada yang menarik napas panjang, menggaruk-garuk kepala, atau menundukkan kepala dengan pelipis diganjal jemari kedua tangannya. Mereka terdiam. Sudah lima menit belum ada satu pun yang menggoreskan alat tulisnya menjadi larik-larik kalimat.
Pak Indra tersenyum. Rupanya ia sengaja membiarkan hal itu terjadi. Pak Indra memahami bahwa anak-anak bingung akan memulai menulis dari mana.
“Anak-anak! Halo …!” teriak pak Indra tiba-tiba.
Refleks anak-anak menjawab, “Hai …!”
“Anak-anak bingung mau nulis apa?” tanya Pak Indra.
“Iya, Pak,” jawab Adi, “Kami menulis sepeda kami sendiri atau menulis sepeda yang ada di gambar?”
Pak Indra tersenyum, lalu memberikan penjelasan.
“Anak-anak, gambar sepeda yang Pak Indra tempel adalah tema tulisan. Jadi, kita akan menulis dengan tema sepeda. Kalian boleh bercerita tentang sepeda kalian sendiri. Jika tidak punya, bayangkan sepeda apa yang ingin kalian miliki.”
Adiksimba (Apa, Di mana, Kapan, Siapa, Mengapa, Bagaimana)
“Ayo, sekarang kita tulis tentang sepeda yang kalian miliki. Di mana sepeda itu dibeli, kapan sepeda itu dibeli, dan siapa yang membelikan sepeda. Jika perlu tulis harga sepeda kalian. Itu dulu. Yang belum punya sepeda, kalian bercerita tentang sepeda apa yang ingin kalin miliki. Sekarang, tulislah dalam beberapa kalimat!”
Mendengar penjelasan pak Indra, Adi pun segera menulis di kertas yang dibagikan.
Hari ini aku bersekolah naik sepeda. Sepeda itu hadiah ayah pada ulang tahunku yang kedua belas. Aku tidak tahu di mana ayah membeli sepeda itu. Warna sepedaku putih bergaris hijau. Sepedaku memiliki pengatur kecepatan, lambat, sedang, dan cepat. Aku kayuh sepedaku dengan ringan, maka laju sepedaku tidak terlalu kencang. Jika aku atur kayuhan sepedaku menjadi berat, laju sepedaku semakin cepat.
Teman-teman Adi pun asyik menulis sesuai petunjuk Pak Indra. Sepuluh menit kemudian, Pak Indra berkata lagi.
“Sudah selesai? Tunjukkan pada saya! Bagus. Anak-anak jangan takut salah, tulis saja. Kita lanjutkan, ya!”
“Apakah kalian senang memiliki sepeda? Mengapa kalian senang memilikinya? Ceritakan pengalamanmu, lanjutkan tulisanmu!
Anak-anak pun melanjutkan menulis. Adi pun melanjutkan tulisannya.
Aku senang memiliki sepeda itu. Aku tidak perlu lagi berjalan kaki jika pergi ke sekolah. Juga aku mudah pergi ke mana-mana. Sepedaku membantu meringankan pekerjaanku. Kadang ayah memintaku membeli sesuatu. Barang itu aku gantung pada setang sepeda. Aku tidak perlu membawa atau memikulnya. Sepeda membuatku mudah melakukan sesuatu.
Wajah Adi terlihat berbinar. Ia pun teringat dengan sepedanya yang tersandar di tiang parkiran. Tulisan yang diperintahkan oleh Pak Indra sudah selesai dikerjakan.
“Sudah, Pak!” teriaknya sambil menunjukkan kertas karangannya. Disusul anak-anak lainnya.
Anak-anak Selesai Mengarang
“Bagus, bagus. Wah, anak-anak Pak Eko hebat. Mari lanjutkan karangan kita. Setelah kalian bercerita tentang alasan kalian senang dengan sepeda itu, coba ceritakan bagaimana kalian merawat sepedamu agar awet?
Adi dan kawan-kawannya pun melanjutkan. Mereka semakin semangat setelah diberi petunjuk oleh Pak Indra.
Setiap sore, sepedaku kucuci. Kadang aku cuci di sumur samping rumah, kadang aku cuci di sungai kecil yang mengalir di tengah kampung kami. Sepedaku terlihat bersih dan seperti baru. Tidak lupa, rantai sepeda aku beri oli. Aku minta oli kepada ayahku. Setiap ayah mengganti oli sepeda motor, ia bawa pulang oli bekasnya. Oli itu aku pakai untuk merawat rantai sepedaku agar tetap licin dan mudah dikayuh.
“Aku sudah, Pak!” teriak Adi, disusul Choki, Alma, Nadhiroh, Suci, dan Fajri. Teman-teman yang lain pun menyusul.
Anak-anak yang awalnya kesulitan mengarang, setelah diberi petunjuk oleh pak Indra, mereka menjadi antusias.
“Pak, besok mengarang lagi!” teriak Adi.
Musi Rawas, 12 Desember 2021
PakDSus

Wah keren sekali
Adiksimba, wah keren pak..sambil baca cerita,anak-anak bs menimba ilmu
Kerennnn abis nihhhh
Pak Eko dan Pak Indra pastinya blogger hebat. Waaoww jadi ingin seperti beliau2 nih. Murid Pak Eko hebat juga. Mantabs abiss
Pak Eko dan Pak Indra pasti bersahabat..
Sama-sama hebat. He he
Setuju Ambu Tini. Yang lebih hebat penulisnya. Sangat keren
Keren Pak Indra ya.. sama kerennya dengan Pak Eko, dan yang lebih keren adalah penulis cerita ini.
Mantap Pak D. Jurus jitu.
Untuk memulai anak belajar menulis dari dunia nya… Wow…andai saja. Semua guru. Seperti itu… Pasti nya akan lahir Pak D…Pak D. Yunior..
Terima Kasih Pak D.
Seakan membangunkan tiwi dari Mimpi Indahku tuk mengikuti JEJAK EMAS PAK D. HE HE
Asiknya mengarang…jadi ketagihan deh… Semangat Adi…
Mantab.. pak.. makin bergairah ya.. membacanya
Asyik ya belajar menulis sama Pak di Indra. Semuanya jadi lancar mengarang.
Ketagihan mengarang jadinya Adi…