Simbah Kantin

Kantin itu, bagi sebagian siswa, adalah tempat yang menyenangkan. Kantin menjadi sumber inpirasi untuk menulis cerita. Karena banyak cerita terlahir dari sana. Misalnya, perut kenyang, kadang dapat digratisan, dan beroleh gebetan. Cerita pendek tentang seorang penjual di kantin saya persembahkan untuk Anda.
Simbah Kantin
Kami semua berduka. Simbah kantin yang biasa melayani kami, meninggal dunia. Tubuhnya belum terlalu renta. Namun virus ganas Covid-19 melumpuhkan pertahanan tubuhnya. Terdengar kabar dua hari sebelumnya, Simbah Kantin masuk rumah sakit. Dua hari kemudian terdengar kabar, Simbah pulang menghadap Sang Pencipta.
Ingin rasanya bertakziyah ke rumahnya. Namun, protokol kesehatan melarang kami. Bahkan, jenazah pun tidak dibawa ke rumah. Simbah Kantin langsung dibawa ke peristirahatannya yang terakhir, Taman Makam Desa, di ujung jalan makam dekat sawah ayah.
“Bijey, Simbah Kantin meninggal,” tulis Ray pada kolom chat WA-nya.
Tidak hanya Ray, beberapa teman pun mengabarkan hal yang sama. Tini, Mila, Yusni, Indra, Acip, dan … gadis yang selalu mengajaknya ke kantin sekolah, Nungki.
“Iya, Say. Aku sedih banget. Sudah hampir setahun nggak ketemu, tahu-tahu sekarang harus berpisah. Semoga arwahnya tenang menghadap-Nya, serta diampuni semua dosa-dosanya.” Sebaris kalimat itu aku tuliskan untuk menjawab broadcast Nungki, gadis manis berkaca mata yang selalu mengganggu tidur malamku.
***
“Kalau bukan jasa Simbah Kantin, mana mungkin aku sedekat ini sama kamu, Nung,” gumamku sambil aku rebahkan kepalaku di kasur kamar. Dua telapak tangan yang menyatu menjadi bantal kepalaku, membawa angan pada tahun dua ribu sembilan belas lalu. Saat itu kami baru masuk sekolah ini, SMK Cakrawala. Aku lulusan SMP 2, Nungki lulusan MTs Al Huda. Sekolah kami memiliki rayon yang sama. Aku memilih jurusan teknik elektronika industri karena ingin memiliki keterampilan pada bidang sistem kontrol dan maintenance peralatan industri.
Sementara, Nungki memilih jurusan RPL (Rekayasa Perangkat Lunak). RPL merupakan salah satu jurusan yang ada di sekolah kami yang mengajarkan siswa mendalami semua cara-cara pengembangan perangkat lunak termasuk pembuatan, pemeliharaan, manajemen organisasi pengembangan perangkat lunak, dan manajemen kualitas. Bukan hanya itu, RPL juga berkaitan dengan software komputer mulai dari pembuatan website, aplikasi, game, dan semua hal yang berkaitan dengan pemrograman.
“Hebat kau, Say! Otakmu sungguh encer. Lagipula, murid perempuan di sekolah kita sangat sedikit. Kamu satu di antara yang sedikit itu. Huh, kenapa sih bayanganmu selalu datang?” Mataku terpejam, lalu larut dalam mimpi panjang.
***
“Mbah, berikan surat ini pada gadis berkaca mata yang kemarin beli nasi ke sini, ya!” kataku kepada Simbah Kantin.
“Yang mana, Mas?” tanya Simbah ragu, “Gadis berkaca mata tidak hanya satu. Gadis di sekolah ini meskipun tidak banyak, Mbah nggak hapal.”
“Iya juga,” gumamku dalam hati sambil garuk-garuk kepalaku yang mulai tumbuh rambut setelah aku gunduli.
Sejurus kemudian ekor mataku menangkap bayang seseorang yang kumaksud.
“Mbah … Mbah … yang itu tuh, itu,” kataku kepada Simbah sambil berbisik.
“O, Mbak Nung, to?” jawab simbah dengan suara agak keras.
Si pemilik nama menoleh, mendengar namanya disebut.
Mungkin mukaku merah padam. Aku benar-benar menahan malu. Simbah Kantin menyebut nama itu dengan suara keras.
Untunglah, si pemilik nama tidak mendekat. Jika tidak, pasti aku makin tersipu malu.
“Zaman WA kok pakai surat, Mas,” komentar Simbah Kantin. Namun, tidak urung suratku, tepatnya lipatan kertas berwarna biru muda itu disimpannya.
Aku menunggunya dengan was-was. Selama empat hari aku sengaja tidak ke kantin. Agar aku makin penasaran. Sambil kusiapkan hati, jangan-jangan Nungki tidak membalas atau membalas tetapi menolak ajakanku berteman.
“Mas, dapat balasan,” bisik Simbah Kantin pada hari kelima setelah aku absen empat hari ke kantin. Ketika itu aku datang membeli sebungkus nasi karena tidak sempat sarapan di rumah.
Betapa senangnya hatiku. Sambil makan nasi bungkus, perlahan kubuka lipatan kertas yang sangat aku kenal.
“Ini kertasku kemarin,” batinku.
Iya, suratku tidak dibalas Nungki di kertas lain, tetapi dibalas di kertas kemarin. Pantasan lusuh. Meskipun lusuh, jawaban Nungki membuatku berbunga.
|Ngapain pake surat. SMS aja, nih no WA-ku. 08XX XXXX XXXX|
“Hmm, benar kata Simbah Kantin, ngapain pakai surat. Tapi, kalau nggak pakai surat, aku kan belum tahu nomornya?”
Itulah kenanganku bersama Simbah Kantin. Jika ia belum meninggal, mungkin aku tidak akan tahu namanya. Meskipun akhirnya aku tahu nama Simbah Kantin, aku dan teman-temanku memanggil dan mengenangnya dengan sebutan Simbah Kantin.
“Semoga tenang di alam sana, Mbah,” ucapku dalam doa, “Engkau keburu pulang. Sementara aku hingga hari ini, belum mampu mengungkapkan perasaanku kepada Nungki. Apalagi kini, kantin sekolah tidak boleh buka. Tidak ada alasan aku dapat duduk berdua dengannya.”
Musi Rawas, 10 Desember 2021
#Cerpen, #Lagerunal
Super duper keren cerpennya
Ringan dan renyah ya Pa D….. hmmm
Hihi … Kantin yang membawaku mngetahui no wa nya… Jk tak segera ungkpkn perasaan.yakin nanti mnyesal..krn Nung tak kn prnh tau isi ht kita. Ungkpkn apa yg mngnjal apapun jawabanya hrs siap. Hehe
So glade membacanya. Rasanya aku larut dalam peristiwa itu. Elok sekali Cik Gu menuturkan kisah dalam cerpen ini.
Pak D…
Nung suka cerita ini….
Kantin yang menjadi kenangan…
Kantin selalu menjadi tempat paling favorit bagi para siswa. Selain berat badan ada yang bertumbuh di sana, cinta
Hahaha… keren Pak D. Menghibur..