artikel

Agus Prabowo, Teman SMP Lulusan 1986

 

Hal yang membahagiakan dalam hidup di antaranya adalah masih bisa berkomunikasi dengan teman masa kecil. Seperti malam ini. Teman satu kelas ketika duduk di bangku SMP (tamat 1986) menelepon melalui aplikasi WhatsApp. Beruntung, sinyal Wifi malam ini sangat bersahabat. Obrolan ringan, saling menanyakan kabar pun berlanjut dengan berbicara banyak hal, kecuali politik. Ha ha ha … untuk hal yang satu ini memang saya hindari.

Ditelepon Teman SMP

Semenjak berpisah tahun 1986, saya melanjutkan ke SPG di ibukota kabupaten (Kebumen). Praktis tidak pernah bertemu muka lagi. Untunglah Tri Dewi Yani, teman SMP lainnya, membuat grup WA SMP Th86. Karena sesuatu hal, teman satu kelas itu keluar dari grup dan membuat grup khusus teman-teman SMP kelas 1C. Melalui grup kecil inilah, ingatan akan masa kecil sedikit demi sedikit terajut.

Komunikasi terus berlanjut. Canda tawa, saling mendoakan (khas orang tua) menghiasi lini masa grup kecil kami itu. Seolah tiada sekat, akrab, meskipun tiada bertemu muka. Kadang merasa seperti kembali muda, meskipun usia kami semakin senja. Betapa teknologi mampu menyambung tali silaturahmi.

Nah, tanpa aba-aba salah seorang teman menelepon. Hmm, dari foto profilnya saya paham betul, Agus Prabowo. Pernah “kopdar” kecil-kecilan empat tahun lalu di tanah kelahiran, Gombong Kebumen.

“Tumben, Kang! Ana kabar apa?” sapa saya di telepon.

“Biasa, nelpon bae,” sahut suara laki-laki itu.

Menelepon dengan bahasa daerah, bahasa ketika masih kanak-kanak, mengingatkan akan kampung halaman.

Obrolan pun mengalir lancar, sesekali ditimpali candaan. Meskipun begitu, obrolan kosong pun diselingi juga dengan hal-hal serius.

Seniman Seni Rupa dan Bonsai 

Secara pribadi, tidak banyak yang saya ketahui tentang ‘Kang Agus’ ini. Hanya dari obrolan di grup saja saya tahu, sahabat yang satu ini adalah seniman. Seniman seni rupa dan juga penggemar serta pembudidaya tanaman bonsai.

Dalam bidang seni rupa, khususnya memahat, ia mampu menyulap onggokan kayu menjadi barang kerajinan bernilai rupiah hingga jutaan. Saya pun teringat dengan video-video di Facebook yang menampilkan para seniman yang menyulap tunggul kayu menjadi berbagai jenis patung.

Kemampuannya dalam bidang pertanian pun sangat mumpuni. Terbukti, pengembangan tanaman bonsai, baik di pekarangan rumah maupun di dalam pot-pot yang artistik sangat baik. Kegemarannya ‘berburu’ tanaman membuat koleksi bonsainya makin beragam. Tentu, ini investasi yang menjanjikan. Koleksi bonsai dalam berbagi ukuran tersimpan di rumahnya di daerah Gombong sebelah utara.

Agus Prabowo dengan koleksinya (Gambar: Facebook Agus)

 

Keterampilannya dalam membonsai tanaman pun ditularkannya kepada anggota komunitasnya. Ia pun menjadi pembicara dan konsultan pengembangan tanaman bonsai. Melihat dan mendengar langsung kiprahnya, naluri penulis saya pun terusik. Saya pun menyarankan agar ilmu yang yang diberikan atau ditularkan dibukukan.

Mendengar saran saya itu, ia pun membantah bahwa buku-buku tentang tanaman bonsai sudah sangat banyak dan lengkap. Tidak mau kalah, saya pun menimpali, bahwa materi yang dibukukan adalah apa yang diajarkan. Gambar ilustrasinya asli tanaman sendiri dan/atau tanaman para kolega. Dengan demikian, isi buku yang secara umum sudah ada, namun secara unik belum ada.

“Jika belum bisa membukukan, setidaknya kegiatan sampeyan didokumentasikan dalam blog. Foto-foto tanaman yang jumlahnya ratusan dan tersimpan di ruang penyimpanan gawai maupun laptop dapat dipindahkan ke sana. Sepenggal demi sepenggal tulisan yang ada di blog, jika sudah banyak dapat dibukukan. Jadi, ilmu sampeyan tidak hilang, meskipun nanti sampeyan sudah tiada. Bukan hanya anak sendiri yang mendapat warisan, melainkan ‘anak didik’ dan juga kolega lainnya.” Panjang lebar saya memberikan saran.

Obsesi sang Seniman

Teman SMP yang sering memanggil saya dengan panggilan “Ru”, kependekan dari guru, tampaknya mengiyakan apa yang saya sarankan. Sesudah itu, ia pun menceritakan kakaknya yang tinggal di Bandung. Kakaknya yang aktif menjadi motivator bisnis pun membukukan ilmunya.

“Kenapa tidak sampeyan tiru?’ tanya saya sambil terbahak.

Di dalam telepon saya pun mendengar gelak tawa tanda ia merespon kata-kata saya.

Obrolan kami pun berlanjut. Agus banyak bercerita tentang pertanian. Minatnya pada bidang pertanian, membuatnya bereksperimen mengembangkan tanaman sayuran hidroponik. Kangkung, kol, dan cesim dikembangkan dengan cara hidroponik dalam Green UV House Hidroponik. Usahanya pun tidak sia-sia. Hasil sayuran hidroponiknya dikenal dan mendapat tempat tersendiri di hati para konsumennya yang rerata berasal dari golongan ekonomi menengah.

Lalu, dengan semangatnya ia pun bercerita tentang obsesinya, semacam impian yang terus terngiang dan ingin diwujudkan. Impian itu adalah mengajak para pemuda, generasi penerus bertani secara hidroponik. Harapannya, agar ketika ditanya orang tua kekasihnya ketika ‘apel’ ke rumah, dengan penuh keberanian dan percaya diri berani berkata ‘ingin menjadi petani modern’.

Tentu, konteks ‘apel’ itu hanya gurauannya saja. Yang jelas, ia ingin generasi muda mencintai dunia pertanian di tengah lahan yang makin menyempit. Apalagi, teknologi hidroponik selain dengan green uv house yakni hanya dengan media air sudah ia kuasai. Jadi, bertani tidak lagi harus berkubang lumpur atau berpeluh-peluh mandi keringat.

Dengan takzim aku dengarkan ceritanya. Setelah ia berhenti, saya pun balas memberi pandangan.

“Jangan tunda! Segera wujudkan! Ingat, kita berpacu dengan waktu. Umur kita makin berkurang, batang usia semakin tinggi.” Begitu saya berkomentar.

Saya pun menambahkah, “Ada cerita seorang guru bahasa Inggris ingin menularkan ilmu dan mempunyai penghasilan dari mengajar atau memberi kursus bahasa yang dikuasainya itu. Sadar bahwa belum dikenal dan tentu saja sulit untuk ‘laku’, ia pun mengajak anak-anak tetangga, kolega, dan kenalannya untuk belajar bahasa Inggris di rumahnya, gratis. Sebulan, dua bulan, anak-anak makin banyak yang belajar dan itu benar-benar gratis. Mereka tidak dipungut bayaran.”

“Seiring dengan waktu, para orang tua merasa bahwa ada perubahan pada anak-anak mereka. Sedikit demi sedikit anak-anaknya mulai panda berbahasa Ingris. Setiap kali pulang ‘kurus’ mereka menanyakan pelajaran apa yang diberikan pak guru. Akhirnya, memasuki bulan ketiga, para orang tua datang bertemu dengan pak guru itu. Mereka mengucapkan terima kasih. Lalu dengan sopan memberikan sekedar ‘uang fotokopi’, uang pengganti lembaran-lembaran materi yang diberikan pada anak didiknya. Akhirnya, pada bulan kelima, sang guru bahasa Inggris itu pun berani dan mau menerima siswa dengan biaya tertentu. Para murid angkatan pertama, tetap ia ajari dengan gratis dan dengan bayaran yang besarnya tidak sama bagi setiap anak.”

“Jadi, segera rekrut anak sendiri, anak saudara, teman, dan kolega lainnya. Tawari untuk diajari dan dilatih bertani secara hidroponik. Jangan pikirkan bayaran. Karena, sesunggunya mereka akan membayar sampeyan dengan cara ia berpraktik di laboratorium yang bisa saja itu adalah pekarangan rumah sampeyan. Hasil hidroponik yang ia paktikkan di rumah masing-masing, sampeyan bantu pemasarannya. Ada profit di sana yang bisa kamu kutip, Kang. He he he …,” saran saya sambil terkekeh-kekeh.

Meskipun melalui panggilan suara, keakraban, dan kehangatan tidak ubahnya berbincang ditemani secangkir kopi an semangkuk rebusan ubi Cilembu. Mengasyikkan sekali. Tanpa terasa, indikator waktu menunjukkan bahwa kami sudah mengobrol selama 1:03:48. Saya pun meminta obrolan ‘gayeng’ khas anak Gombong diakhiri dulu.

“Takutnya nggak ada lagi topik obrolan berikutnya kalau diborong malam ini.” Seloroh saya pun disambut hangat dengan berjanji akan berbincang lagi di lain hari.

 

Musi Rawas, 07 September 2021

PakDSus

 

 

 

 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

16 thoughts on “Agus Prabowo, Teman SMP Lulusan 1986

  • Hello there! This is my first visit to your blog!
    We are a group of volunteers and starting a new project in a community in the same niche.
    Your blog provided us valuable information to work on. You have done a marvellous
    job!

  • My brother suggested I might like this web site. He was totally right.
    This post truly made my day. You cann’t imagine simply how much time I had spent for this information! Thanks!

  • Masyaa Allah… Mas Santo … Saepisan.. Obrolan yg bermakna .. Crita jd inspirasi… Sukses terus ya mas Santo…

  • Howdy! This blog post couldn’t be written much better! Looking at this post reminds me of my previous roommate!

    He continually kept talking about this. I’ll forward this information to him.
    Fairly certain he’s going to have a very good read. Thank
    you for sharing!

  • Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini, bu.

  • Wah seru sekalu yah ngobrol sama teman kecil dulu, membawa ingatan ke masa kecil yg penuh kenangan..

  • Wah, matur sembah nuwun, Master.

  • Sae tenan sak estu seratanipun..

Comments are closed.