(Bagaikan) Makan Lahar Gunung Merapi

Hari Senin, hari yang cukup sibuk. Ada dua rapat yang harus dihadiri. Pertama, persiapan lomba dalam rangka Peringatan HUT RI di kecamatan. Satunya undangan rapat di Kantor Desa Mataram. Sama, persiapan kegiatan peringatan HUT Ke-79.
Meskipun tema acara sama, topik rapat ternyata beda. Yang satu persiapan lomba gerak jalan, sedangkan acara di Kantor Desa persiapan upacara bendera di lapangan desa.
Acara rapat di kecamatan saya wakilkan kepada pengajar olah raga. Yang satu lagi saya hadiri langsung sebagai bentuk penghormatan sekaligus rasa ikut memiliki karena tempat kerja sekarang di desa Mataram.
Rapat dipimpin langsung oleh kepala desa Mataram, Bapak Hendi Mukhtar. Kepala desa yang tergolong masih muda ini tidak meminta stafnya menjadi pembawa acara. Berdampingan dengan sekretaris desa, Bapak Surahman, beliau menyampaikan secara langsung alasan mengumpulkan kami. Siapa kami?
Kami adalah perwaklian sekolah-sekolah yang ada di desa Mataram. Desa Mataram ini luar biasa karena hampir semua jenjang pendidikan ada di sini. Terdapat 5 jenjang sekolah dasar dan sederajat. Ada SDN Mataram, SD IT Al Qudwah, SD Xaverius, MIN 1 Musi Rawas, dan SLB Negeri Musi Rawas.
Jenjang SMP sederajat terdapat SMP Xaverius, MTs Quraniah, MTs Al Hidayah, dan SMPLB. Sedangkan jenjang sekolah menengah terdapat SMA Negeri Tugumulyo, SMA BI 3, MA Al Muhajirin Kelas Jauh, SMK Karisma Tugumulyo, dan SMALB.
Oleh karena itu, kepala desa mengajak para kepala sekolah yang diwakili para pendidik untuk bersama-sama melaksanakan Upacara Bendera Peringatan HUT Ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Gayung bersambut, rencana melaksanakan upacara bendera di lapangan desa mendapat respon positif dari seluruh peserta rapat. Para kepala sekolah dan pendidik yang mewakili merespon dan siap mendukung pemerintah desa menggelar upacara yang tahun ini merupakan upacara perdana yang digelar secara kolaboratif lintas jenjang pendidikan.
Biasanya, para peserta didik melaksanakan upacara bendera di sekolah masing-masing, kemudian para pendidik dan kepala sekolah melanjutkan mengikuti upacara Detik-detik Proklamasi di lapangan kecamatan.
“Kami siap mendukung,” kata semua yang hadir, “Anak-anak langsung kami kerahkan ke lapangan.”
Akhirnya, peserta rapat membagi tugas. Para pendidik dan peserta didik lintas jenjang bersama perangkat pemerintah desa dan masyarakat menyiapkan diri menggelar upacara peringatan HUT Ke-79 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Makan “Lahar” Gunung Merapi
Pulang dari Kantor Desa, saya kembali ke sekolah, menunggu bel pulang. Ketika am pulang tiba, kami pun bergegas pulang ke rumah. Rumah sepi. Ibu negara belum sampai di rumah. Namun, tidak lama kemudian terdengar deru sepeda motor disusul bunyi anak kunci diputar. Ibu Negara pulang dari kerja.
Belum ada makanan selain nasi di magic com. Tidak masalah karena saya membawa sebungkus mi ayam yang tidak sempat saya makan di sekolah.
Mi ayam itu kami nikmati berdua. Ya, berdua. Tiga anak diam di tanah seberang, sementara satu anak lainnya masih bersekolah baru sampai nanti pada pukul tiga sore.
Selesai menikmati mi ayam kesukaan, ibu negara mengambil tepung dan mencari air panas. Rupanya, ibu negara mengambil glutinous rice flour dari bungkus plastik bergambar bunga mawar. Tepung ketan yang bercampur air panas segera menggumpal dan mudah dibentuk menjadi bulatan-bulatan persi bulatan baso sapi.
Tepung lainnya ia capur dengan air, menjadi larutan seperti susu. Setelaitu ia merebus dua gelas air santan encer dan diberi irisan gula aren. Setelah mendidih ‘baso’ ketan itu pun dimasukkan. Tidak lama kemudian bulatan-bulatan putih itu mengapung tanda sudah masak. Lalu, air bercampur tepung ketan yang warnanya seputih susu disatukan dengan rebusan baso ketan dan diaduk.
Nyala api kompor pun dikecilkan. Cairan di panci mulai likat. Hmm … bubur candil buatan ibu negara pun tercium matang aroma pandan menambah wangi penganan yang sejak kecil saya suka itu. Setelah api kompor dipadamkan, saya kembali ke meja laptop, melihat foto-foto yang dikirimkan di Grup Persiapan HUT RI Ke-79.

Sedang asyik melihat foto-foto, ibu negara menyodorkan semangkuk bubur candil yang masih … panas.
“Terima kasih, Bu,” lalu bubur panas itu aku letakkan di depan kipas angin dengan maksud agar cepat dingin tanpa susah-susan meniup dengan mulut.
“Kayaknya sudah dingin,” saya membatin sambil mencuil permukaan bubur.
“Yak, dingin,” hatiku berkata dengan girang.
Segera kusendok dan mengucap lafaz basmalah.
Setelah bubur masuk ke dalam mulut, saya langsung tersentak, “Panas!”
Kontan, karena mulut kepanasan bibir pun segera bereaksi seperti mengucap, ” Wa wa wa wa wa.” Sesekali mulut pun saya monyongkan.
Seketika ingatanku melayang ketika duduk di bangku sekolah dasar. Pengajar kelas lima pernah menjelaskan bahwa lahar gunung berapi itu dinginnya berangsur-angsur. Ketika permukaannya sudah dingin, maka bagian dalamnya masih panas. demikian pula kerak bumi. bagian atas (tanah) terasa dingin masuk terus ke dalam hingga inti bumi berbentuk magma yang amat panas.
Ha ha …, pantas kepanasan, bagian atas bubur sudah dingin, bagian dalam masih terasa sangat panas.
“Bu, aku seperti makan lahar Gunung Merapi!”
Musi Rawas, 22 Juli 2024
Salam dan Bahagia
PakDSus

Thank you, Ms. Ari
Interesting