artikel

Bapak Ibu Guru Bikin Konten di Platform Digital, Yuk!

“Pak De, sudah tidak muda lagi, loh. Ngapain sih, repot-repot bikin konten di platform digital?” tanya teman muda. Ia baru punya anak dua yang masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar.

“Iya, seumuran Pak De tu kok mau-maunya bikin video Youtube, poster pakai Canva, nulis di Blog, dan ngutak-utik internet, sih?” tanya teman lainnya.

Saya pun bingung mau njawab apa. Dalam hati, saya menjawab bahwa saya suka dan punya rasa ingin tahu yang besar. Untuk menghilangkan dahaga ingin tahu itu satu-satunya jalan, ya menjelajah dunia maya.

Dunia maya, sebenarnya dunia yang tidak murah. Untuk mengaksesnya dibutuhkan sejumlah biaya. Biaya piranti keras seperti hape atau laptop. Juga biaya untuk mengakses internet dengan membeli sejumlah paket data, ketengan atau paket bulanan.

Tetapi kalau kita tahu caranya, dengan biaya “mahal” tersebut, kita bisa mendapat sedemikian banyak informasi. Caranya, ya dengan mengakses dan menyimpannya dalam bentuk lain. Lalu kita nikmati ketika offline alias luar jaringan (luring). Dengan demikian, paket data yang kita miliki dapat “dihemat” dan sisanya digunaan untuk mengunduh atau menyalin konten digital lainnya.

Guru Membuat Konten pada Platform Digital

Kembali ke pertanyaan bernada “protes” di atas. Guru, berapa pun usia Anda, memang sebaiknya mengisi platform digital yang dikuasainya. Jika baru bisa bikin status di WA, misalnya, maka manfaatkan dengan konten yang baik dan benar. Bukan konten hoax atau sekedar meneruskan postingan orang lain.

Apa kaitannya dengan pembelajaran? Bapak dan Ibu Guru yang baru bisa memanfaatkan platform digital berupa WhatsApp silakan manfaatkan untuk pembelajaran. Meskipun sudah tatap muka, gunakan WA sebagai sumber daya dan media untuk membantu guru menjelaskan dan membantu peserta didik untuk memahami penjelasan.

WA adalah media komunikasi sekaligus bisa berfungsi sebagai media pembelajaran berbasis IT. Ketika Ibu dan Bapak Guru ‘browsing’, gambar maupun tulisan yang sesuai dengan topik pelajaran dapat di-screenshot. Gambar tangkapan layar hasil screenshot tersebut lalu dikirimkan kepada siswa melalui grup atau WA pribadi, kemudian tambahkan pengantar atau penjelasan. Sesudahnya, guru memberikan kuis untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa. Tagihan dapat berupa tulisan, gambar, foto, bahkan aksi yang dapat direkam dan dikirimkan kembali kepada guru.

Platform atau panggung digital di dunia maya banyak ragam dan bentuknya. Blog atau website pribadi atau ‘keroyokan’, YouTube, Google Workspace dengan berbagia bentuknya, Canva for Education, dan aplikasi daring lainnya harus dimanfaatkan guru. Tidak bisa membuat atau menguasai semua, setidaknya pilih satu di antaranya.

Keuntungan jika Guru Membat Konten yang Baik, Benar, dan Bermanfaat

Banyak keuntungan jika panggung digital yang tersedia dimanfaatkan oleh guru. Sebagian guru sudah mendapatkan manfaat dari kegiatannya itu. apa saja manfaat yang dapat dipetik jika guru sebagai pendidik mengisi panggung-panggung digital yang tersedia?

Pertama, terbangun personal branding-nya. Personal branding secara sederhana adalah sebuah praktik memasarkan orang dan karier mereka sebagai merek. Personal branding digunakan untuk mengembangkan dan mempertahankan reputasi individu. Jadi, personal branding dapat saja didefinisikan sebagai kesuksesan pada bentuk pengemasan diri.

Kedua, konten digitalnya bermanfaat bagi orang banyak. Tentu saja, jika dibuat dengan maksud tertentu dan ditujukan pada segmen user tertentu akan bermanfaat secara langsung. Sebut saja media pembelajaran, Lembar Kegiatan Siswa, Learning Magement System, dan berbagai bentuk konten lainnya.

Ketiga, ada jejak digital yang dapat ditelusuri. Konten yang menampakkan diri atau hanya berbentuk tulisan saja, adalah jejak digital yang tidak mudah terhapus begitu saja. Siapa saja dapat menlusuri. Apalagi jika diatur sedemikian rupa sehingga mesin penelusuran Google mampu mendeteksinya tentu makin mudah ditemukan.

Keempat, makin dikenal dan terkenal. Seiring dengan banyaknya konten yang dibuat, guru tersebut makin dikenal. Setelah dikenal dan mutu konten berterima di masyarakat, bisa saja suatu saat diminta untuk menceritakan praktik baik yang dilakukan. Dengan seringnya menjadi pembicara, baik melalui seminar web (webinar) maupun pertemuan luring lainnya, guru tersebut menjadi terkenal.

Kelima, kuantitas konten bertambah, kualitas konten semakin baik, maka “cuanitas” pun meningkat. Artinya, penghasilan bertambah. He he, bahasa gaul yang saya beri tanda kutip berasal dari kata cuan. Cuan artinya uang atau keuntungan. Zhuan/choan/cuan, maknanya adalah untung atau hasil. Lazimnya, kata itu akrab di dunia pedagang dan investor. Kini, kata cuan dipakai sebagai substitusi dari “untung” yang berkonotasi pada “uang”.

Jika Guru Tidak Mampu Membuat Konten pada Platform Digital

“Pak, saya sudah tidak mampu lagi membuat yang kayak gitu, otak aku tidak mampu,” kata seorang teman yang usianya sudah lebih dari lima puluh tahun.

Saya ringan saja menjawab, “Tidak apa-apa. Jika tidak bisa membuat, apa boleh buat. Tetapi ingat, ada satu hal yang harus dilakukan. Apa itu? Memanfaatkan.”

Bapak dan Ibu Guru yang sudah “sepuh” dan tidak berminat menjadi kreator konten, tidak perlu dipaksakan agar mampu membuat itu. Untuk mereka, disarankan agar memanfaatkan konten digital yang dibuat rekannya dari seluruh Indonesia. Anggota komunitas Blogger, Youtuber, dan para penulis banyak yang mengisi ruang-ruang digital di jagad maya. Manfaatkan konten mereka dan bagikan kepada anak-anak, para peserta didik. Guru hanya perlu menyesuaikan dengan topik yang diajarkan.

Dengan memanfaatkan konten orang lain, ruang digital siswa tetap kita isi dengan hal yang bermanfaat. Seorang teman saya gelisah. Ia menulis, apabila guru tidak dapat mengisi platform digital dengan materi pembelajaran, maka platform digital akan dikuasa oleh konten-konten yang dapat merusak generasi bangsa. Wallahu a’lam.

Musi Rawas, 16 November 2021

PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

10 thoughts on “Bapak Ibu Guru Bikin Konten di Platform Digital, Yuk!

  • It’s an awesome article in favor of all the internet
    people; they will obtain advantage from it I am sure.

  • Kita yg sudah ‘senior’ umurnya gak boleh menyerah ya? Semampunya kita manfaatkan platform digital yang memberi manfaaat bagi diri kita dan org lain..

  • Siap… Ayuk kita isi platform Digital kita dengan hal-hal yang bermanfaat.

  • Biasanya lebi asyik bis menggubkab 1 atau beberapa fiturnya bagi yg sepuh. Betul pak D. ….Canva sangat membantu.

  • Jika tidak bisa membuat, Ayo manfaatkan materi digital. Setuju, Pak De.
    Sehat selalu Pak D

  • Guru harus menjadi konten kreator di paltform digital

Comments are closed.