Daya Membaca

Suatu siang di bawah rindang pohon. Lelaki tua berkaca mata itu asyik menatap layar ponsel pintarnya. Biasanya, yang terbuka adalah layar WA, laman FB, laman IG yang berisi isu-isu terkini, atau video TikTok yang menghibur dengan aneka lagu dan musik serta tayangan gambar bergerak lainnya.
Saat itu, pada layar hapenya terbuka laman salah satu media mainstream besar di Indonesia, bukan hanya berbentuk cetak, melainkan juga lembar-lembar digital.
Lembar-lembar digital pada layar ponselnya itu ia tebus dengan cara berlangganan bulanan. Uang yang ia keluarkan tidak banyak, hanya seharga satu porsi nasi tongseng kambing beserta cemilan dan minuman pendampingnya.
Namun, dengan cara itu, tampilan pada layar ponsel tampak sangat nyaman di mata. Tidak perlu menggeser agar posisi tulisan tepat pada layar. Hal lain yang pasti adalah adalah tulisan yang ia baca adalah tulisan para jurnalis profesional maupun penulis kawakan.
Dengan begitu, selain mendapat informasi atau hiburan, si pembaca mendapat contoh tulisan yang baik dan benar.
Sambil membaca, sesekali lelaki tua itu mengernyitkan dahinya.
“Untuk apa lagi, Mas Eko? Umur sudah mendekati bagian akhir pengabdiaan kepada negara, sudah CGP, Calon Guru Pensiun, kenapa kamu masih ikut kuliah juga, he …!”
Kata-kata Sunardi, rekan seperjuangan lelaki tua bernama Eko itu masih terngiang ketika ia mendengar dirinya yang usianya satu tahun lebih muda dari Sunardi kuliah lagi, mengambil S2.
Sesekali, lelaki bernama Eko itu mengusap dahi hingga menyapu rambut kepalanya yang sudah kelabu itu. Itu dilakukan sekadar menepis ingatannya pada komentar teman-temannya perihal kesibukannya yang dimulai tanggal 18 September lalu.
“Pak, kita belum bisa mengambil surat izin belajar. Karena kita belum menunjukkan surat bahwa kampus kita melaksanakan perkuliahan moda blended. Lagi pula, jarak kampus kita yang sangat jauh, mustahil kita bisa melaksanakan perkuliahan tanpa mengganggu pekerjaan kita sebagai guru.”
Suara Nery ikutan mengiang di benak Eko. Nery adalah temannya yang mungkin seusia anak sulungnya. Ia sudah menghadap staf di Kantor BKPSDM di kotanya. Hasilnya, ia belum berani menghadap kembali untuk meminta izin belajar ke tingkat yang lebih tinggi.
Beda, misalnya dengan rekan-rekannya yang kampusnya relatif dekat dijangkau. Hanya perlu waktu paling lama lima jam untuk datang ke kampus pusat di provinsi tetangga.
“Ah, kenapa semua mengganggu konsentrasiku membaca, sih?” rutuk lelaki itu.
Mengingat kata-kata Nery dan juga teman-temannya yang mengambil program S2 dan membandingkan dengan dirinya, Eko pun menurunkan ponsel lalu bergumam.
“Teman-teman mengundang dosen dari provinsi tetangga mengajar di sebuah lokasi tempat mereka berkumpul, lalu setelah sekian pertemuan datang ke kampus untuk bimbingan dan ujian. Apa bedanya dengan kami? Delapan kali pertemuan pada paruh pertama semester kami laksanakan secara daring untuk menyiasati ruang dan waktu, lalu dilanjutkan dengan delapan kali pertemuan secara luring mengambil waktu ketika sebagian besar mahasiswa luar kampus yang berprofesi sebagai guru, libur sekolah. Sama saja, ‘kan? Sama saja!”
“Huh!”
Perlahan, ponsel yang sudah berumur lebih dari dua tahun itu ia geser. Setelah itu, ia menguap. Tangan kanannya menutupi lebar mulutnya seraya mengucap, “A’uzubillahi minasy syaithoonir rojiim!”
Lelaki bernama Eko itu yakin benar. Dengan mengucap kalimat itu, setan yang hendak masuk ke dalam tubuh melalui mulutnya yang menguap mengurungkan niatnya.
Setelah itu, untuk melemaskan otot tubuh, ia merentangkan tangannya. Mimiknya menunjukkan bahwa ia meregangkan tubuhnya.
Mata Eko menerawang ke arah tajuk pohon. Ia mengingat peristiwa bulan lalu ketika ia bersama puluhan teman-teman pengurus Komunitas Literasi diundang Balai Bahasa Provinsi untuk mengunjungi salah satu Komunitas Literasi berkategori baik di kotanya.
Sang pemilik Komunitas yang juga seorang penulis dan narasumber pelatihan menulis berkata pada sesi diskusi.
“Sadarkah Anda bahwa kalian membaca buku-buku atau tulisan pada waktu kalian butuh saja. Membaca bukan sebagai kebiasaan dan keharusan bahwa kalian harus membaca. Benar?”
Lelaki tua itu menyengir kuda. Apa yang dikatakan sang narasumber memvalidasi kebiasaannya.
“Iya, ketika aku menulis sesuatu maka aku hanya akan membaca buku yang isinya aku butuhkan. Buku yang lain jangan harap disentu, apalagi dibaca. Hanya membuang waktu saja,” gumamnya.
Sementara, dalam kesempatan lain, ketika lelaki tua itu mengikuti kelas menulis gratis pada waktu wabah Covid-19 melanda negeri, Prof. Eko Indrajit sebagai narasumber pernah mengatakan bahwa seluruh buku perpustakaan di sekolahnya, terutama SD, sudah habis di bacanya.
Bahkan ketika ia duduk di bangku sekolah menengah pertama, roman dan novel yang tebal-tebal sudah dilahapnya habis.
Kedua narasumber yang melintas di benak lelaki bernama Eko itu membuatnya terkesan. Nyatanya, kedua orang itu lancar saja menulis. Tidak ada hambatan kosa kata dalam proses kreatifnya.
“Meskipun terlambat, aku harus mengubah kebiasaanku menonton hiburan di layar hape menjadi kegiatan membaca. Buku-buku di rumah yang aku angkut ketika anakku selesai kuliah dan tersusun rapi di rak, belum sempat juga aku baca. Apalagi, perkuliahan yang masih kulakoni secara daring ini sudah mulai menagih dengan tugas. Tugas itu tidak mungkin bisa aku selesaikan tanpa membaca literatur yang disarankan maupun sumber bacaan lain yang bertaburan di jagad maya, internet,” katanya dalam hati.
Sebagian besar orang, daya tonton relatif lebih tinggi ketimbang daya baca. Mungkin, sebagian orang sebaliknya, akan tetapi gempuran arus teknologi yang menyusup di setiap lini kehidupan melalui layar ponsel membuat orang lebih suka menikmati hiburan meskipun ada larik-larik tulisan di dalamnya.
Apa itu bukan membaca? Membaca juga, akan tetapi membaca dalam arti sesungguhnya belum dilakukan. Hanya membaca sekilas potongan-potongan kalimat. penghias video atau tayangan visual lainnya.
“Bismillah, semoga niatku untuk meningkatkan daya bacaku mengalahkan godaan untuk menonton hiburan. Mumpung masih siang aku harus browsing lagi materi sastra. Sebab, suka atau tidak suka tugas-tugas kuliah harus aku selesaikan dengan banyak membaca, dengan daya juang membaca yang sekuat baja.”
Terlihat ia kembali meraih layar ponsel dan meneruskan aktivitasnya membaca. Langit yang biru, cuaca cerah, terik mentari yang tertahan tajuk pohon menguatkan upayanya melahap bahan bacaan yang sudah ia tebus dengan uang jajannya itu.
Musi Rawas, 24 September 2024
Salam Blogger Sehat
PakDSus
