Disangka Minuman, Ternyata Ini Isinya
Disangka Minuman, Ternyata Ini Isinya
(Cerita ini sebagai dokumentasi hal yang sangat berkesan ketika melakukan perjalanan ke Palembang pada hari Sabtu hingga Minggu, 26 dan 27 Maret 2022)
“Ini Kak, nomor awak,” tulis Suratno di Whatsapp memberitahu nomor kontak WA-nya kepada saya. Suratno adalah tetangga berhadapan rumah ketika kami sekeluarga masih tinggal di desa Batu Kucing, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Musi Musi Rawas (sekarang Musi Rawas Utara). Cukup lama tidak saling jumpa, apalagi bersapa.
Seminggu sebelumnya ia mengajak berteman di Facebook. Saya pun dengan senang hati menerima. Setelah beberapa kali inbox-an, ia pun mengirimkan nomor dan meminta nomor WA saya. Sebagaimana anak-anak murid yang sekarang tinggal di Palembang, ia pun menawarkan agar singgah ke rumahnya jika kami ke Palembang, ibukota provinsi Sumatera Selatan. Tempat tinggalnya sekarang.
Kebetulan, pucuk dicinta ulam tiba. Anak sulung mengajak ke Palembang. Ia menitipkan beberapa barang melalui paket kepada sahabatnya di sana. Saya pun siap menemani. Bahkan ibu dan adiknya siap ikut. Segera saya memberitahu Suratno.
“Kalau kawan jemput, awak siap singgah ke rumah kawan,” tulis saya di WA. Berbalas pesan pun berlanjut bercakap-cakap melalui telepon.
Perjalanan yang Melelahkan
Jarak dari rumah ke Palembang, menurut Google Map adalah 310 kilometer. Jika ditempuh melalui jalan Lubuklinggau-Sekayu memakan waktu 7 jam 36 menit. Kami pun berangkat menjelang pukul dua belas siang. Dengan harapan, kami bisa setidaknya pukul delapan malam.
Namun, perjalanan tidak semulus yang diduga. Banyak ruas jalan yang rusak, berlubang, dan bergelombang. Berbahaya, jika tidak hati-hati berkendara. Akhirnya, kami sampai di kilometer dua belas pukul sepuluh malam. Sesuai janji, kami pun menunggu Suratno yang sedang dalam perjalanan menjemput kami dengan sepeda motor. Setengah jam berikutnya kami sampai di rumah Suratno.
Pertemanan dan hidup bertetangga dengan saudara-saudara di Batu Kucing layaknya saudara kandung. Demikian pula keluarga kami dengan keluarga Suratno, ibu, dan adik-adiknya. Jadi, tidak heran, kami melepas rindu dengan berbagai cerita hingga rasa kantuk menyerang dan meminta izin untuk beristirahat. Kami berjanji, waktu subuh nanti bersama-sama salat di musala tempatnya biasa berjamaah.
Berjamaah di Musala pada Waktu Subuh
Sebelum azan berkumandang, kami sudah sampai di musala. Setelah azan selesai, kami pun melaksanakan salat sunah sebelum subuh. Sepuluh menit kemudian, salat Subuh pun ditegakkan. Kami semua melaksanakan dengan berusaha se-khusyuk mungkin.
Selesai salat berjamaah, sang imam dipersilakan oleh pengurus melalui MC memberikan ceramah. Kami dengan antusias menyimak kuliah subuh dari beliau. Ustaz memberi pelajaran tentang tentang tafsir ayat 23 surah Al Isra. Kewajiban beribadah dan menghormati kedua orang tua adalah inti pelajaran pagi itu.
Sambil menyimak ceramah ustaz, saya melihat seorang pengurus musala berkeliling membagikan kertas persegi seperti kupon antrean. Saya mendapat kupon bergambar masjid dengan nomor 29. Sebagai pendatang, saya tidak tahu kupon itu untuk apa. Rasa malu menahan keinginan untuk menanyakan kepada teman saya. Saya pun mengikuti ceramah sambil memegang kupon yang diberi pengurus.
Setelah selesai berceramah, sang ustaz diminta pengurus untuk mengambil tiga buah kupon dari dalam stoples. Pengurus musala lainnya mengambil tiga buah kardus wadah minuman dalam kemasan. Saya bisa membaca tulisan yang tertera dan tidak asing dengan minuman teh serta kopi kemasan gelas dalam wadah kardus itu. Saya pun menduga, karena seminggu lagi puasa, minuman ini sebagai hadiah dari pengurus untuk bekal berbuka keluarga yang menerima.
Tiga buah kupon yang diambil ustaz pun dibacakan.
“Dua Sembilan. Ada yang mendapat nomor dua Sembilan?” tanya pengurus.
Saya yang memegang kupon nomor 29 pun malu-malu mengangkat tangan.
“Mas, kamu dapat hadiah dorpres,” kata Suratno berbisik.
Saya pun dipersilakan pengurus untuk berdiri dan menerima bingkisan yang langsung diberikan ustaz.


Salat Subuh pada hari Minggu pagi diisi ceramah rutin dilakukan. Setelah ceramah ada pemberian hadiah kejutan dan ditutup dengan sarapan pagi.
Menu sarapan pagi hari itu adalah martabak telur dan martabak India. Martabak telur adalah kulit martabak diisi telur utuh lalu dilipat dan digoreng. Sedangkan martabak India adalah kulit martabak yang diisi rempah berupa daun bawang, seledri serta bumbu lainnya dan telur ayam atau itik yang dikocok menjadi satu, dilipat dan digoreng.
Kedua martabak lezat itu dilengkapi dengan kuah kari dan sambal kecap pedas irisan cabai rawit. Kami secara bergiliran mengambil makanan. Saya pun menikmati martabak masing-masing sepotong. lalu, saya menyiramnya dengan kuah kari dan sedikit sambal. Selesai menikmati makanan, kami pun pulang setelah beramah tamah dengan jamaah lainnya.
Kardus Minuman
Perjalanan kami belum selesai. Tujuan pokok kami belum tercapai. Oleh karena itu, setelah semua anggota keluarga saya mandi, kami pun berpamitan. Namun, sebelumnya tuan rumah mengajak makan pagi. Nasi putih, tumis sawi putih, dan rebusan oyong atau gambas adalah menu pagi ini. Tidak lupa, sambal terasi, ikan nila goreng, tempe goreng, dan dadar telur menjadi lauk makan pagi yang sedap.
“No, hadiah pagi tadi aku tinggal bae. Aku dak minum kopi gelas,” kata saya kepada Suratno.
“Samo bae. Aku jugo dak minum itu. Cuman, biar kito samo-samo tahu, payo kito buka kardus ini dulu sebelum Mas berangkat,” jawab Suratno.
Dengan bantuan kunci mobil, lakban kemasan kami bongkar. Minuman kopi kemasan gelas yang kami sangka sebelumnya, ternyata sembako. Beras, mi instan, gula pasir, dan tepung terigu adalah barang dalam kemasan itu.
“Sembako!” teriak kami hampir bersamaan.
Rupanya pemberian sembako dalam bentuk hadiah kejutan merupakan kegiatan mingguan Musala Baiturrahman Kompleks RSS Kebun Bunga Palembang. Musala yang cukup megah ini memberikan door prize berupa bingkisan sembako bagi mereka yang mengikuti kuliah subuh hingga selesai.
Puji syukur, alhamdulillah. Saya sebagai pendatang musafir, mendapat hadiah kejutan di musala tempat teman yang sudah seperti saudara sendiri, Suratno Abas.
“Bawalah, Mas. Itu hak Mas,” kata Suratno, demikian pula istrinya.
“Tidak, biarlah dimasak oleh kamu bae,” jawab saya.
“Baik. Kalu dak galak, bawalah mano yang Mas ndak,” jawab Suratno.
“Nah, aku ambil gulonyo bae. Yang lain biarlah tinggal di sini,” kata saya. Kami pun berpamitan. Saling mengucapkan terima kasih dan mendoakan dapat bertemu kembali menjadi kata perpisahan kami pagi itu.
Musi Rawas, 28 Maret 2022
Glosarium
awak = aku
kawan = kamu
dorpres = door prize
bae = juga
samo bae = sama juga
hak = milik
hak Mas = milik(nya) Mas
kalu = jika, kalau
dak = tidak
galak = mau/berkenan
mano = mana
yang mano = yang mana
ndak = ingin, kehendak, keinginan
nyo = nya
gulo = gula
gulonyo = gulanya
dalam bentuk pentigraf tulisan ini sudah tayang di https://www.kompasiana.com/susantogombong/62417a8dbb44865398554f42/door-prize-kuliah-subuh