artikel

Sahabatku Sungguh Kreatif

Sampai dengan pukul 23.53, tulisan Sobat Lage pada even #KamisMenulis hanya 3 buah. Bu Suyati, Pak Indra, dan Bu Atik Sumarjiyati menggoreskan karya kerennya tentang kreatif dan kreativitas.

Sahabatku sungguh kreatif.

https://suyatibinyo.blogspot.com/2022/03/orang-kreatif-dan-latihan-menjadi.html

https://81-atik.blogspot.com/2022/03/pembelajaran-menyenangkan-dengan.html

https://jarimisterindra.blogspot.com/2022/03/kecebur-membangkitkan-kreatifitas.html

Dua paragraf di atas dikutip Pak Eko. Dijadikannya status WA menjelang pukul 23.59 WIB. Pukul 23.59 adalah batas waktu bagi anggota Lagerunal (Cakrawala Blogger Guru Nasional) memublikasikan tulisannya di blog.

Menjelang dinihari, ketiga tulisan karya sahabat virtualnya itu sudah dibacanya. Meskipun begitu, jejak digital belum sempat ia torehkan dalam bentuk komentar positif di blog mereka masing-masing.

“Pak, sobat lage itu siapa sih?”

Tiba-tiba ada komentar di kolom obrolan WA Pak Eko dari salah satu muridnya.

“Hai, Jaya belum tidur? Ini sudah dinihari!”
Tak urung, Pak Eko kontan memberi komentar.

“Maaf, Pak. Pulang pawai obor jam 10 tadi belum ngantuk. Kan besok libur, Pak?” balas Jaya.

“Aduh, cah bagus! Tidur, matikan hape!” tulis Pak Eko.

“Siap, Pak. OK,” tulis Jaya.

Lelaki tua itu hanya menggeleng-gelengkan kepala. Anak-anak sudah diajari agar mengganti OK dengan kata “baik” atau “ya” masih juga dilakukan. Mungkin dua huruf itu lebih mudah diketik meskipun terkesan kurang sopan. Seolah menganggap sepantar.

Waktu sudah pukul 00.05 guru yang mulai uzur itu pun kembali menatap layar komputer portabelnya.

“Belum ada sesuatu yang bisa ditulis. Waktu terlewat beberapa menit, namun penulis pada #KamisMenulis hanya tiga orang. Sayang sekali. Baiklah aku akan berpacu dengan waktu agar tidak lebih dari lima menit aku pun harus ikut memposting tulisan,” gumamnya di keheningan malam Jumat.

Seberapa Kreatif Mereka?

Pak Eko mengulang kembali membaca tulisan ketiga temannya yang terbilang aktif di komunitas Lagerunal itu. Bu Suyati menjelaskan tentang makna kreatif dan kekreatifan atau kreativitas, ciri-ciri orang kreatif, dan cara melatih untuk menumbuhkan sifat kreatif yang ia kutip dari situs alodokter.com. Tidak lupa disertakan beberapa lukisan yang memancing pembaca untuk mengembangkan daya imajinasi. Lukisan tersebut jika dilihat dari beberapa sudut pandang, otak yang kreatif akan menerjemahkannya berlainan.

Admin pemutar undian, Ibu Sumarjiyati tidak kalah kreatif. Ibu guru Pendidikan Agama Islam yang namanya sama dengan nama bibinya seperti meresume sebuah hasil penelitian tindakan kelas. Sebuah pembelajaran yang aktif kreatif dan menyenangkan menggunakan pelangi huruf. Sederhana, tidak terlalu rumit, bahkan terkesan (maaf) sepele, namun idenya sungguh luar biasa. Pak Eko tidak lupa membagikan link blog itu kepada Bu Ita, rekannya di sekolah yang mengajar pelajaran yang sama dengan Bu Atik.
Nah, yang terakhir benar-benar keren sekeren namanya. Bung Indra Keren yang cukup lama absen pada kegiatan Kamis Menulis kembali hadir. Jari Mister Indra kembali menyajikan tulisan apik nan bikin iri.

“Pantesan lama nggak muncul. Rupanya Bung Keren lagi bikin karya melalui pelatihan KMO,” kata Pak Eko dalam hati.

Guru berkacamata plus 1,5 itu pun segera membuat gambar tangkapan layar blog Pak Indra, seorang yang super keren.

“Gusti, rupanya aku ada juga akun di bukulaku!” Hampir saja ia berteriak jika ia tidak ingat sudah dinihari Jumat. Kekagetan itu muncul lantaran ia membuka laman yang ditunjuk Pak Indra dan mengeklik tombol login. Tidak lupa ia mengirimkan pesan untuk sahabat virtualnya itu. Tidak lupa ia berdoa semoga sahabatnya membuka dan membalasnya.

Kreativitas Tanpa Batas

Jumat pagi Pak Eko kedatangan tamu. Pak Cipto, penikmat sejarah, koleganya di KKG, datang bertamu.

“Sering membaca, mendengar, bahkan mengucapkan istilah kreativitas tanpa batas, Om?” tanya Pak Eko kepada koleganya.

“Iya, maksud apa ya, Mas?” Pak Cipto balik bertanya.

“Kreativitas tanpa batas itu kemampuan untuk mencipta atau menemukan ide baru secara merdeka. Temuan atau ide yang dikemukakan itu membawa manfaat bagi sesama,” jelas Pak Eko.

Selagi mereka berbincang-bincang, Bu Rumi keluar membawa dua cangkir kopi instan yang iklannya sering muncul di televisi. Perempuan paruh baya itu istri Pak Eko.

“Terima kasih, Bu!” ucap pak Cipto setelah dua buah gelas kopi diletakkan di meja.

“Mas, sudah banyak penemu, sudah banyak barang yang diciptakan. Kita mau membuat apa lagi?” tanya Pak Cipto seolah pesimis.

“Kreatif tidak harus menemukan hal baru. Dunia sudah cukup tua hingga sudah banyak benda-benda dihasilkan buah tangan kreatif para pendahulu. Ide baru tercipta bisa dengan memodifikasi yang sudah ada. Makanya ada istilah ATM. Amati, tiru, dan modifikasi. Jangan mengklaim buatan orang lain sebagai hasil karya sendiri. Namun boleh memodifikasi hasil temuan orang lain menjadi sesuatu yang baru dan unik. Itu pun kita perlu menyebutkan bahwa karya ini terinspirasi dari X. atau, karya ini merupakan modifikasi dari Y yang dibuat oleh si Fulan. Begitu,” jelas pak Eko panjang lebar.

“Benar juga ya, Mas.” Pak Cip, panggilan akrab pak Cipto membenarkan penjelasan temannya itu.

“Sebagai guru, selain kita sendiri harus kreatif, kita menjadi pembimbing para peserta didik menjadi Pelajar Pancasila. Mengapa harus mejadi Pelajar Pancasila, karena kita hidup dan bertumbuh di bumi Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Nilai-nilai luhur Pancasila harus tertanam dalam diri mereka. Selain beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahaesa sesuai dengan agama dan kepercayaannya, salah satu profil Pelajar Pancasila adalah memiliki sifat kreatif. Pantang menyerah dan mau mencoba hal baru. Tidak mudah putus asa serta mau menerima kritikan atau masukan,” jelas Pak Eko.

“Ngomong-omong, kopi ini boleh diminum tidak?” tanya teman Pak Eko.

“Hua ha ha ha, sorry, Pak Cip. Keasyikan ngobrol tentang kreatif dan kreativitas, jadi lupa. Aku iri dengan jiwa kreatif teman-temanku dalam berkarya.” Pak Eko terbahak-bahak untuk menutupi malu.

“Mas, biar tidak iri, anan aja. Kayak saran di website-nya Pak Rizky,” jawab Pak Cipto.

Musi Rawas, 1 April 2022
PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

8 thoughts on “Sahabatku Sungguh Kreatif

Comments are closed.