Diwawancara Mahasiswa PPG

Pagi hari Selasa, tanggal dua puluh enam Juli, telepon berdering berulang-ulang. Ekor mata menangkap layar gawai. Sekilas ikon kamera naik turun. Pertanda seseorang meminta panggilan video. Saya biarkan. Menggunakan gawai, apalagi layar sentuh yang harus diusap, membahayakan pengendara. Setelah sampai di tujuan, di Hotel Hakmaz tempat pelantikan APKS PGRI, teman saya yang menelepon saya telepon balik.
“Halo, Mbak Ani. Maaf tadi sedang nyetir mobil. Saya tidak bisa menerima telepon.”
Seseorang yang saya panggil Mbak Ani pun menyahut dengan bahasa Jawa halus sembari meminta maaf.
“Anu Pak e. Mau wawancara untuk tugas PPG Dalam Jabatan. Ceritanya, saya kan mahasiswa PPG. Pak e masih sibuk, ya?”
Saya pun menjelaskan kegiatan yang saya ikuti pagi hingga petang nanti. Kami pun mengatur waktu yang tepat untuk wawancara. Hingga malam, ternyata ada saja acara sehingga niatan untuk bertemu dengan Google Meet urung.
Setelah saya pulang dari rumah teman, Whatsapp di rumah sudah penuh dengan komentar dari Mbak Ani.
“Lewat WA mboten nopo pak ajeng kulo ketik hasile.”
Dengan bahasa Jawa halus, Mbak Ani menulis pesan: Lewat WA tidak mengapa, Pak, mau saya tulis hasilnya.
Teman yang seperti keponakan sendiri membombardir setidaknya tujuh pertanyaan. Saya dengan hati menjawab. Tidak ada jawaban yang benar atau salah karena saya menjawab yang saya pahami atau lakukan. Apa saja pertanyaan Mbak Ani?
Yang menjadi penyebab atau kendala guru tidak mengoptimalkan model, metode, atau pendekatan dalam proses pembelajaran:
Pertama, Guru tidak memahami berbagai model pembelajaran, metode, atau pendekatan pembelajaran. Hal ini boleh jadi disebabkan karena guru kurang berliterasi, daya baca yang rendah, motivasi mengajar yang menurun, atau tidak ada “model” yang menjadi contoh di lingkungan tempatnya bekerja.
Kedua, Guru tidak mau keluar dari “zona nyaman”. Misalnya, selama ini dia nyaman mengajar dengan metode ceramah, sedikit tanya jawab, ia pun merasa anak-anak baik-baik saja, terbukti ketika ulangan sebagian besar anak juga menjawab dengan benar. Oleh karena itu, guru tidak tertantang untuk melakukan pembaruan, apalagi sintaks (urut-urutan) proses pembelajaran dengan model tertentu cukup menyita waktu.
Ketiga, Menurunnya motivasi guru yang inovatif akibat “perlakuan” yang sama dengan guru lainnya. Ketika tidak ada “beda” antara guru yang inovatif dengan guru yang biasa-biasa saja berpotensi menurunnya motivasi yang berdampak sang guru tidak mau mencoba model-model pembelajaran selain model pembelajaran langsung yaitu bercerita/berceramah.
Keempat, Tuntutan standar kerja yang rendah. Hal ini berhubungan dengan tuntutan pemimpin pembelajaran, dalam hal ii kepala sekolah yang menerapkan standar kerja yang rendah atau biasa-biasa saja.
Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran seyogyanya mendorong guru untuk mencoba model pembelajaran atau metode pembelajaran yang inovatif. Bagaimana jika belum?
Kepala sekolah melakukan supervisi akademik. Hasil supervisi akademik memberikan gambaran kepada supervisor tentang model atau metode yang guru gunakan dalam pembelajaran.
Bagaimana jika ditemukan bahwa guru belum menerapkan metode pembelajaran yang inovatif? Kepala sekolah melakukan coaching. Gali penyebab guru tidak menggunakan metode yang inovatif. Kesulitan yang dialami guru jika menerapkan pembelajaran tertentu. Kebutuhan yang dipelukan guru agar mampu menerapka metode yang inovatif. Membuat perjanjian dengan guru pada jadwal supervisi selanjutnya disiapkan perangkat pembelajaran yang merencanakan penerapan metode pembelajaran yang inovatif.
Semua metode cocok digunakan agar pembelajaran aktif dikelas jika pembelajaran guru mengakomodasi perbedaan siswa. Artinya, guru melakukan pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi diawali dengan identifikasi kebutuhan belajar. Caranya, dengan mengamati perilaku murid, mengamati murid ketika mereka sedang menyelesaikan suatu tugas atau aktivitas, meminta informasi kepada guru sebelumnya, melakukan asesmen diagnostik untuk memastikan kemampuan murid akan topik yang pelajari.
Hasil indentifikasi dicatat oleh guru. Hasilnya, mungkin ada anak yang memiliki perbedaan profil belajar (auditif, visual, atau kinestetik). Oleh karena itu, guru melakukan pembelajaran yang variatif: ceramah, tanya jawab, bermain peran, penugasan, dan sebagainya. Guru menggunakan media yang variatif: gambar, video, rekaman, infografis. Guru melakukan penugasan dengan tagihan yang berbeda sesuai profil belajar murid. Misalnya, si A membuat video, si B mebut rekaman suara, si C menggambar, si C membuat infografis.
Guru belum membiasakan siswa untuk melakukan literasi membaca. Siswa belum terbiasa menganalisis suatu bacaan dengan menggunakan kata tanya “Sidamba = siapa, di mana, apa, mengapa, bagaimana”.
Ketiak ada soal cerita, siswa diajak untuk membuat pertanyaan berdasarkan fakta yang ada pada soal ceita. Misalnya:
Apa yang diuraikan? Siapa yang diceritakan? Demikian pula tentang hal yang ditanyakan.
- Sering berlatih memahami kalimat.
- Soal cerita dianalisis kalimat yang ada agar unsur “yang diketahu” diketahui dan “yang ditanyakan” ditemukan
Faktor Guru
Guru belum menguasai cara mengoperasikan peralatan tersebut. Memang bisa meminta bantuan guru lain, namun ada faktor lain selain itu yakni guru merasa “ribet”. Sebab untuk memasang peralatan membutuhkan perangkat keras: kabel, proyektor, laptop, selain perangkat lunak yang mestilah disiapkan jauh-jauh hari.
Faktor Sekolah
Jika guru sudah menguasai TI dan ingin menggunakan peralatan semacam proyektor atau laptop setidaknya 10 unit, sekolah belum memiliki peralatan tersebut.
Materi pembelajaran yang banyak
Materi pelajaran yang cukup banyak membuat guru khawatir tidak bisa menyelesaikan target kurikulum. Penggunaan TI yang dianggap memakan waktu sehingga akan mengurangi “jatah waktu” untuk menyelesaikan materi pelajaran
Tentu saja pernah. Proyektor yang hanya satu unit di sekolah pernah saya gunakan. Proyektor saya gunakan untuk menayangkan video dari Youtube, baik video unduhan maupun secara daring jika sinyal internet memadai. Selain itu untuk memaparkan materi dalam bentuk power poin. Juga sebagai selingan agar siswa terlihat menurun motivasinya.
Selain menggunakan proyektor, saya juga mengajak anak-anak memanfaatkan gawai untuk membuat blog, menulis di blog. Mengajak anak-anak bergabung di GoogleClass juga saya lakukan. Bermain sambil mengerjakan soal menggunakan Quizziz, mengisi form untuk mengerjakan soal, juga memanfaatkan aplikasi Canva for Education. Saya meminta anak-anak membuat poster juga kalender.
Musi Rawas, 27 Juli 2022
PakDSus
Wahhh pak… Smga tdak bosan menulis sgatt luar biasa
Terima kasih kunjungan dan komentarnya, Bu.
Jawaban yang ‘ngemong’ dan obyektif. Tak ada unsur menyalahkan atau melemahkan. Tq pak Dhe.
Ayunda, begitukah? Terima kasih motivasinya.
Makasih, Cak.
Baik, Pak.
Makasih, Neng Yandri.
Ternyata pak D guru yang paket komplit dalam mengajar..!
Proses ppg nikmatilah
Meskipun yg menentukan kelulusan
UP
Jos Pak D Sus. Lanjut
memberi inspirasi dan sangat membantu mahasiswa tersebut, semoga dik santo bisa selalu eksis mengembangkan literasinya.
Langsung lulus 3 SKS
Wah, mahasiswa PPG-nya pasti sueneng banget mewawancarai Pak D. Ngemong 🙂
Luar biasa bapak