bahasa

Guru Melakukan Pembelajaran Daring, Orang Tua: Guru bikin video sendiri!

Sumber video: Grup WA, video dibagikan beberapa kali

 

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat kiriman video di atas di beberapa grup WA alumni  sekolah. Agar tidak hilang, video tersebut saya simpan. Video itu saya simpan di dalam folder laptop. Saya juga menyimpannya di Google Drive. Ruang gratis yang tersisa dalam G-Drive saya tinggal 5,77 dari 15 GB jatah gratis dari Mbah Google.

Biasanya, jarang sekali video kiriman di grup, apalagi yang sudah diteruskan berkali-kali, saya “pelihara” di dalam laptop. Video kiriman teman di WA, sering segera saya hapus karena memori telepon saya tidak terlalu besar untuk menyimpan banyak video kiriman teman. Tetapi, video itu sayang untuk dibuang. Bagi saya, konten itu bukan saja hiburan karena si Ibu dalam video itu membawakannya dengan mimik dan suara yang khas dan lucu, melainkan jika dihayati berisi pesan dari kebanyakan orang tua.

Kita tahu, pandemi Covid-19 pembelajaran banyak dilakukan secara daring. Orang tua yang sudah disibukkan dengan aktivitas mencari nafkah atau mengatur rumah tangga dan merawat lingkungan rumah, saat ini kesibukan mereka bertambah. Bagi peserta didik kelas rendah, orang tua berperan sebagai pengganti guru mendampingi belajar putera-puterinya. Bagi peserta didik kelas tinggi, orang tua menjadi tempat bertanya anak-anaknya.

Jangankan orang tua yang berpendidikan rendah, mereka yang berpendidikan tinggi pun acapkali kewalahan menghadapi pertanyaan anak-anaknya. Dari pihak guru, karena ia tidak boleh bertatap muka langsung, sebagian guru terjebak pada pembelajaran yang didominasi dengan “pemberian tugas”.

Pesan dan Harapan Orang Tua

Si Ibu pada video tersebut mengingatkan para guru agar memberikan penjelasan, baru memberikan tugas dan pertanyaan.

Terkhusus untuk Bapak Ibu guru yang selalu memberikan soal kepada muridnya tanpa memberikan tutor atau memberikan tutor melalui video YouTube. Pak, Bu, nggak semua anak ngerti kalau dijelaskankan melalui YouTube.

Si ibu pun melanjutkan keluhannya.

Terus njenengan bisa njawab, terus apa gunanya orang tua di rumah? Pak, Bu! Orang tua itu, nggak semua orang tua itu ngerti. Nggak semua orang tua itu bisa. Mangkane anake disekolahno, beno anake ngerti (makanya, anak disekolahkan biar anaknya ngerti/paham).”

Dalam tuturannya yang bercampur dengan bahasa daerah (Jawa), si Ibu pun memberikan solusi berupa harapan agar guru jangan (hanya) memberikan video Youtube. Ia mengharapkan agar guru menjelaskan caranya dengan video sendiri dan membagikannya (share) di grup. Terutama pelajaran matematika.

Ada dua pesan dari si Ibu dalam video tersebut. Pertama, permohonan orang tua agar jangan memberikan soal jika sebelumnya belum menjelaskan. Kedua, memberikan penjelasan jangan (hanya) melalui video Youtube. Guru hendaknya membuat video sendiri, mungkin maksudnya guru menjelaskan melalui video lalu disebarkan ke grup WA yang dimiliki anak.

Sederhana sekali pesan orang tua tersebut, namun itu sangat menohok. Ketika guru melakukan tatap muka di kelas, ia mengajar dengan langkah-langkah: salam pembuka, apersepsi, menjelaskan tujuan pembelajaran, memberikan penjelasan awal dilanjutkan dengan kegiatan belajar (diskusi, kerja kelompok, eksperimen, dan sebagainya), memberikan postes, melakukan refleksi bersama siswa, dan menutup pelajaran.

Ketika pembelajaran dilakukan dalam bentuk pembelajaran jarak jauh, rupanya guru “lupa”. Meskipun langkah-langkah pembelajaran “normal” tidak dapat dilakukan, ada langkah pokok yang harus ada, yaitu: pengantar, memberikan penjelasan, kegiatan belajar (membaca buku, menonton video, mengamati lingkungan, dan sebagainya), baru dilanjutkan dengan pemberian tugas kepada peserta didik sebagai latihan dalam rangka penguasaan materi pelajaran. Setelah beberapa unit pembelajaran dilakukan, guru memberikan post test untuk mengetahuai pencapaian kompetensi dasar yang diajarkan.

Video Buatan Guru

Semenjak pandemi tahun lalu, para guru banyak yang “mendadak” menjadi Youtuber. Mereka membuat channel Youtube dan berkreasi membuat konten untuk membantu guru lain menjelaskan materi kepada anak/peserta didik. Video-video tersebut biasa disebut sebagai video pebelajaran.

Tidak semua guru mampu membuat video pembelajaran. Keterbatasan penguasaan aplikasi editing video, salah satu penyebabnya. Selain itu, tidak semua guru memiliki akun Youtube.  Sementara itu, besarnya video yang dapat dibagikan ke grup WA tidak bisa lebih dari 64 MB. Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan agar PJJ tidak mengabaikan langkah-langkah pembelajaran yang seharusnya?

Yang pertama, jika memungkinkan guru melakukan pembelajaran secara sinkronus dengan aplikasi video converence seperti Zoom, G-Meet, dan sebagainya. Guru dapat bertemu muka secara virtual, langkah-lagkah pembelajaran, meskipun tidak seperti di dalam kelas, dapat dilakukan.

Kedua, guru memberi pengantar dan penjelasan pada grup WA. Sebelumnya guru memilih dan menyiapkan video Youtube yang sesuai dengan pembahasan materi pelajaran. Setelah menyampaikan penjelasan dengan tulisan atau suara di grup, guru memberikan link Youtube untuk dipelajari. Setelah mereka menonton, guru memberikan tugas atau latihan soal sebagai bentuk pendalaman.

Ketiga, guru membuat akun Youtube. Meskipun guru tidak memiliki aplikasi pembuat video seperti Kinemaster, Quick, Adobe Premiere, Camtasia, dan sebagainya, guru merekam penjelasan materi (disertai dengan peraga) secara langsung dengan alat perekam video pada gawai masing-masing. Tanpa melakukan editing, video berdurasi 10 hingga 12 menit dapat langsung diunggah ke Youtube. Lalu tautan video dibagikan ke grup.

Keempat, jangan memberikan tugas atau soal jika guru belum menjelaskan materi yang didahului dengan pengantar dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Lakukan langkah-langkah pembelajaran yang benar meskipun pembelajaran secara daring. Dengan demikian, peserta didik tetap “merasa bersekolah” hanya tempatnya saja di rumah. Komunikasi antara guru dan peserta didik tetap terjalin. Satu hal yang penting, orang tua dan peserta didik tidak merasa bahwa belajar daring itu sama dengan mengerjakan tugas. 

 

 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

3 thoughts on “Guru Melakukan Pembelajaran Daring, Orang Tua: Guru bikin video sendiri!

  • Sejatinya, langkah2 pembelajaran daring tdk berbeda dg yg luring. Fenomena yg terjadi memang seperti yg si ibu itu keluhkan.

Comments are closed.