Webinar/Diklat Gratis Diburu Guru di Masa Pandemi

Adakah yang gratis di dunia ini? Secara hakikat, sebenarnya di dunia ini tidak ada yang gratis. Ada sesuatu yang harus “dibayar” ketika kita menginginkan sesuatu. Jangan mendebat tentang pemberian Tuhan yang serba gratis, misalnya: udara untuk bernapas, berfungsinya alat indra, dan sebagainya. Yang saya maksud tidak ada yang gratis ini berkaitan dengan muamalah.
Misalnya, Anda akan membayar ketenteraman dan kedamaian dengan tidak mengeluarkan kata-kata (lisan maupun tulisan) yang menyakiti orang lain. Pun tidak melakukan perbuatan yang menyinggung atau menyakiti perasaan orang lain. Meskipun perkataan dan perbuatan itu tidak dikatakan sebagai ongkos yang harus dibayar untuk memperoleh kedamaian, tetap saja kedua hal tersebut bersifat resiprokal, memiliki unsur timbal balik.
Demikian pula dengan mengikuti webinar atau diklat secara daring (online). Ternyata kata-kata gratis tidak serta merta calon peserta ikut webinar hanya dengan mengisi form, lalu bisa mengikuti kegiatan tanpa syarat apa pun.
Biasanya, gratis diartikan dengan tidak mengeluarkan sejumlah biaya. Webinar seperti ini, biasanya calon peserta cukup klik link Zoom yang dibagikan atau mengisi formulir lalu menunggu informasi tautan pertemuan dibagikan. Untuk yang ini, saya tidak membantah dan saya setuju jika ini dikatakan sebagai webinar gratis, dalam arti tidak memerlukan syarat apa pun selain mengeklik atau mengisi formulir.
Akan tetapi, apakah semua webinar atau diklat daring tidak mensyaratkan sesuatu? Ternyata tidak. Apalagi webinar yang menjanjikan sertifikat dengan jumlah jam tertentu. Webinar jenis ini sangat diminati guru karena sertifikat seminar memiliki nilai angka kredit.
Diklat Gratis dengan Syarat Tertentu
Webinar atau diklat dengan label gratis seperti yang saya sebut terakhir, dalam praktiknya, ternyata tidak gratis-gratis amat. Ada webinar atau diklat yang telah selesai dilaksanakan, sertifikat yang dijanjikan harus ditebus dengan sejumlah uang. Meskipun tidak besar, tetap saja berupa nominal harga yang harus dibayar. Hal ini tentu tidak bisa dikatakan sebagai gratis 100 persen.
Ada lagi diklat “gratis” namun untuk bisa mengisi formulir pendaftaran, Anda harus melakukan beberapa hal, seperti:
1. Membagikan Info Pelatihan (Teks & Gambar) ke 5 Grup WA atau Telegram Khusus Guru / Dosen/Pengajar dan mengambil gambar tangkap layar untuk diunggah pada formulir.
2. Menjadi pelanggan atau Subcriber chanel youtube penyelenggara.
3. Menggunakan Twibbon Peserta di Profil WA & Telegram selama pelatihan.
Apakah persyaratan tergolong gratis? Saya kembalikan kepada calon peserta. Yang jelas, “tiket” webinar semacam itu Anda beli, meskipun tidak dengan uang tetapi dengan persyaratan. Saya pun teringat pernah mengalami membeli tiket tidak denganuang. Pada waktu itu, saya masih anak-anak. Untuk menonton film Warkop DKI, saya mengumpulkan bekas bungkus rokok merek tertentu sebanyak 10 hingga 15 buah untuk ditukarkan tiket menonton di gedung bioskop di daerah saya. Apa bedanya dengan ikut webinar tidak bayar dengan uang tetapi dengan melengkapi persyaratan yang diminta?
Waspada dan Bijak Menyikapi Webinar Gratis
Tidak memungkiri bahwa pandemi Covid-19 sejak Maret 2020 lalu telah mengubah strategi guru dalam mengajar. Pembelajaran jarak jauh membuat guru berpikir ulang bagaimana membelajarkan peserta didik. Tawaran webinar untuk meningkatkan kompetensi pun marak menghiasi lini masa media sosial masing-masing. Beragam tawaran itu menggiurkan guru untuk mengikuti.
Beragam pula motivasi keikutsertaan para guru dalam webinar tersebut. Hanya sekedar ingin tahu, ingin mendapat sertifikat bernilai angka kredit tertentu, atau motivasi untuk belajar dan meningkatkan kapasitas diri. Terutama, materi yang mampu membantu kelancaran guru dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh secara daring.
Sayangnya, momen itu, tidak jarang dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Mereka mengelabui para guru dengan pelatihan gratis yang ternyata abal-abal. Lantas, apa trik khusus untuk mengikuti webinar atau diklat (gratis maupun berbayar) agar tidak terjebak pada praktik-praktik tidak terpuji dari para penyedia jasa?
Yang pertama, pastikan bahwa kita memang membutuhkan pelatihan yang ditawarkan dan ada kemungkinan untuk menerapkan serta mengembangkannya.
Kedua, pastikan vendor webinar kredibel. Selain mencari tahu dengan melakukan penyelusuran di internet, Anda dapat mengikuti kelas gratis tanpa syarat untuk mengikuti satu di antara webinar yang ditawarkan. Jika tidak memungkinkan gunakan intuisi apakah vendor webinar kira-kira kredibel.
Ketiga, membaca sinopsis webinar yang ditawarkan. Hal ini penting agar dapat disesuaikan dengan minat dan kebutuhan.
Keempat, jika berminat mengikuti webinar berbayar bersikaplah kritis terhadap sebuah testimoni. Banyak, bahkan konon hingga 90%, testimoni yang ada adalah palsu (atau bayaran). Cerita-cerita sukses yang sering kita dengar boleh jadi rekayasa dan dibuat-buat. Pastikan vendor webinar tidak menjual mimpi atau tutorial basic atau motivasi sampah (tanpa ikut webinar, materi ini mudah didapat). Pastikan materi webinar benar-benar sesuatu yang praktikal dan berguna untuk pekerjaan kita.
Kelima, jika seminar gratis mensyaratkan mengeklik link tertentu atau wajib follow akun sosmed atau subscribe akun youtube harap waspada dan hati-hati. Jangan-jangan mereka hanya mencari subscriber dan follower saja, sementara webinar tidak kunjung dilaksanakan.

Satu coment yang bisa kutuliskan….. mantab…..
Halo, Omjay. Terima kasih kunjungannya.
terima aksih infonya pakde susanto yg baik hatinya