Guru SD dan Komputer

Guru SD dan Komputer. Tulisan ini menjadi tulisan tertua di blog ini. Saya pernah mengeditnya sekali dan memperbarui publikasinya. Saya edit penggunaan tanda baca dan beberapa kalimat agar lebih ‘enak baca’. Sebelumnya tidak ada komentar apa pun, dari siapa pun. Setelah saya perbarui, saya bagikan kepada seorang teman. Mas Sarto pun meninggalkan komentar dan menjadi satu-satunya jejak komentar di sana.
Selagi masih dalam suasana peringatan Hari Guru Nasional dan HUT ke-76 PGRI, saya ingin mengunggah ulang tulisan tersebut. Peristiwa nyata ini terjadi dua belas tahun lalu. Saat itu, saya masih memiliki beberapa komputer meja yang saya letakkan di ruang depan rumah sederhana saya. Ceritanya begini.
Pernah sekali waktu saya diminta kawan saya mengetik sebuah proposal. Karena sesuatu hal, saya harus keluar rumah dan meninggalkan komputer yang saya letakkan di ruang tamu dalam keadaan menyala. Pada saat yang sama kawan saya pun datang. Namun, saya belum pulang. Ketika saya pulang ke rumah, kawan saya rupanya belum pulang dan ngobrol di ruang tamu dengan istri saya.
“Sudah selesai, Pak?” tanya kawan saya.
“Belum. Maaf, Bu,” kata saya, “Sebenarnya boleh saja Ibu lanjutkan mengetik, toh hanya ketikan biasa dan komputer masih menyala.
“Oalah, Paaak, terus terang wae aku nggak bisa!” katanya.
“O, ya?” kata saya pula.
Sambil melanjutkan mengetik, kami pun berbincang. Kata kawan saya, masih banyak kawan-kawan guru khususnya guru sekolah dasar yang belum bisa mengoperasikan komputer.
“Biarpun cuman ngetik,” katanya.
Komputer Bukan Barang yang Rumit Dioperasikan.
Saudaraku, seperti halnya handphone atau telepon seluler, komputer sebenarnya bukan barang yang rumit untuk dioperasikan. Lagi pula secara umum pembelajaran IT sudah dimulai sejak kelas satu SMP. Lagipula, sebagian besar guru yang belum bisa mengoperasikan komputer rata-rata mempunyai anak yang sudah duduk atau hampir duduk di kelas satu SMP. Jadi, komputer -menurut saya- mutlak dimiliki agar teori yang didapat dan dipraktikkan putra-putri kita di sekolah dapat dikembangkan lebih lanjut di rumah.
Selain itu, jika guru memiliki komputer sendiri di rumah, guru bisa belajar mandiri. Guru dapat belajar sendiri, entah dari buku atau bertanya dengan anak sendiri, tanpa terhalang oleh rasa “malu”. Nggak usah malu dikatakan “kebo nyusu gudel” atau “induk menyusu kepada anaknya” meskipun kita belajar kepada anak kita atau orang yang lebih muda di rumah kita.
So, segera beli komputer, meskipun bekas atau rakitan. Segera belajar dan jangan takut komputer rusak hanya karena salah menekan tombol. Apalagi takut rusak karena sering digunakan. (Kalimat pada paragraf ini saya tulis tahun 2009).
Ajakan membeli komputer pada saat ini jelas sudah tidak relevan. Ajakan yang relevan pada saat ini untuk teman-teman “tua” saya adalah, “Mari gunakan komputer/laptop yang kita miliki untuk memanfaatkan media pembelajaran berbasis digital, jika kita belum bisa membuat sendiri media pembelajaran itu.”
Musi Rawas, 26 November 2021
Teks asli di sini, salam sehat.
PakDSus
Tahun 2009, pasti keatahuan spec-nya, Pak. Ha ha ha … kalau yang di kota mungkin prosesornya sudah tinggi.
Nah… semoga banyak guru yang membaca tulisan ini.
Sebuah teguran yang mengajak kearah kebaikan.
Yukkk… “Mari gunakan komputer/laptop yang kita miliki untuk memanfaatkan media pembelajaran berbasis digital, jika kita belum bisa membuat sendiri media pembelajaran itu.”
Sampai sekarang masih ada guru yang belum bisa menggunakan komputer. Sepertinya bukan karena tidak ada, karena di sekolah pasti ada punya walau hanya 1 PC, tapi enggan belajar saja.
Keren dan menginspirasi Pak. Saya tergolong generasi anak bapak. Yang baru tahu komputer sejak kelas 3 SMP.
Tidak disebutkan komputer generasi apa. Hehe.