bahasa

Rahasia Anita

Anita menangis sesenggukan. Pak Eko yang kebetulan lewat menegurnya.

“Anita, kamu menangis. Sepertinya lagi sedih banget, ya?” tanya Pak Eko.

Anita hanya menggeleng. Segera disekanya air mata yang sudah menetes. Ia hanya mengangguk.

“Anak manis kok menangis. Ikut Pak ke ruang UKS, yuk!” ajak Pak Eko ramah.

Pak guru kelas enam itu memang suka begitu. Ia selalu mengajak muridnya yang bermasalah ke ruang UKS di ujung gedung deretan ruang guru.

Bagai kerbau dicucuk hidung, si Anita pun mengikuti Pak Eko dari belakang. Ia berjalan melewati Linda, anak kelas enam yang terkenal cerewet.

“Hei, lihat itu. Anita ngapain diajak pak Eko ke UKS. Pasti ada apa-apanya. Kita ikutin, yuk!” bisik Linda kepada Tyas. Tyas itu sebelas dua belas dengan Linda, suka usil pekerjaan orang. Diajak Linda, dengan penuh penasaran mereka membuntuti.

Setelah Pak Eko sampai di ruang UKS, ia duduk di kursi di belakang meja yang terletak pada bagian depan ruang itu.

“Anita, boleh dong cerita kepada Pak Guru?” bujuk Pak Eko.

Anita hanya diam sambil menunduk dan memainkan jemarinya. Ia merasa malu untuk bercerita kepada gurunya itu. Bukan karena gurunya seorang laki-laki, melainkan ia ragu. Ia malu jika hal yang ia alami diketahui guru.

“Ih, kok bengong? Anita nangis tadi pasti amat sedih, ya?” tanya Pak Eko.

Mendengar pertanyaan Pak Eko, Anita mengangguk. Ia berusaha menatap wajah Pak Eko sekilas. Sejurus kemudian ia kembali menundukkan kepala.

Pak Eko mafhum. Guru paruh baya itu merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Dari sorot mata Anita sekilas tadi, seolah Anita sedang menakar kepercayaannya kepada dirinya. Setelah mengambil napas panjang, Pak Eko lalu berkata.

“Anita tidak perlu khawatir, deh. Pak Guru nggak akan bilang ke siapa-siapa. Pak janji, juga tidak akan menceritakan kepada siapa pun. Kamu itu jarang menangis, lo. Malah seringnya galak kalau alat tulismu diambil teman,” komentar Pak Eko sambil tertawa kecil. Hal itu ia lakukan agar Anita lebih relaks.

Mendengar penuturan Pak Eko, Anita ia hanya memainkan empat jari kiri dan kanannya, bergantian.

“Bukan diambil orang, Pak,” kata Anita lirih.

“Yes!” kata Pak Eko dalam hati,” sudah mau bicara. Sebentar lagi, mudah-mudahan mau menceritakan yang sebenarnya”.

“O, ya. Bukan alat tulismu yang diambil teman, ya?” tukas Pak Eko.

“Anak laki-laki suka menyembunyikan sepatu. Apakah karena sepatumu disembunyikan, lalu Anita menangis?” imbuh Pak Eko. Belum juga Anita menjawab, ia mendengar ada sesuatu di luar ruang UKS. Instingnya mengatakan ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka. Perlahan, tanpa bersuara, Pak Eko keluar ruangan.

“He, kalian ngapain? Mau masuk?” tanya Pak Eko dengan nada tinggi. Ia melihat Linda dan Tyas berdiri di samping pintu masuk. Sepertinya memang benar mereka sedang menguping pembicaraan Pak Eko denga Anita.

Mendengar pertanyaan Pak Eko dengan nada tinggi, mereka berdua pun nyengir kuda. Lalu, kabur ke kelas setelah meminta maaf.

“Maaf, Pak!”

Pak Eko segera menemui Anita kembali.

“Anita percaya dengan Pak Eko?” tanya Pak Eko sambi menyebut nama dirinya.

Kali ini Anita menatap Pak Eko agak lama. Pak Eko tersenyum. Dengan penuh kebapakan guru yang sering menyelesaikan permasalahan siswanya itu tersenyum. Terlihat ia berusaha membangun kepercayaan kepada anak didiknya yang sudah mulai memasuki usia pubertas itu. Persis seperti materi pelajaran yang sedang mereka pelajari di kelas enam.

“Ya, sudah. Kalau sekarang Anita belum mau cerita. Pak guru tunggu, ya? Ketimbang Anita ceritakan kepada orang lain, alih-alih rahasiamu terjaga malah tersebar ke mana-mana,” kata Pak Eko lirih.

Guru yang sudah dua puluh delapan tahun mengajar itu menangkap ada sesuatu yang membuat Anita cukup tertekan. Tetapi ia yakin, jika Anita belum mau menceritakan pada hari ini, ia akan menceritakan pada kesempatan lain.

“Anita, percaya dengan Pak Eko. kan?” tanya Pak Eko sekali lagi.

Anita mengangguk.

“Bagus. Salaman kita, ya!” ajak Pak Eko sambil mengulurkan tangannya mengajak salaman tanda Anita sepakat, percaya, dan akan menceritakan masalahnya kepada guru kelasnya itu.

“Yuk, kita masuk lagi. Sebentar lagi bel masuk berbunyi,” ajak Pak Eko. Ia pun mengiring Anita keluar ruangan.

Gadis cilik yang memasuki usia tiga belas tahun itu pun berlari menuju ke kelasnya.

***

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

13 thoughts on “Rahasia Anita

  • Ahhh.. Saya sudah tau endingnya, karena saya sudah baca part 2 nya terlebih dahulu…

    Sehat selalu Pak D

  • Keren pak..

  • Jadi cerbung nih, Pak…..?
    Atau saya tanya ke Pak Eko saja tentang jawaban Anita ya? Hehe….

  • Ups… Ternyata oh ternyata Pak D pintar membuat pembaca penasaran? Ada apa gerangan?

  • Masih mau baca kelanjutannya p de? Masih ada

  • Nanti ya, Pak
    Kapan-kapan aku cerita deh

  • besok aku cerita pak eko.. hahahah

  • Cerita nggak ya Anita? Sepertinya sudah mulai percaya pada Pak Eko. Mudah-mudahan segera ditemukan rahasia Anita menangis.

  • Lah putus, belum selesai Pak De, lagi enak-enaknya di paksa henti. Duhhh

  • Masih bersambung ya Pak D? Anita kpan ya mau cerita … Hehe .. kepo juga ini..

Comments are closed.