bahasa

Hadiah yang Belum Sempurna

Memberi dan menerima adalah keseimbangan dalam pertemanan. Apalagi dalam sebuah komunitas. Seperti dalam komunitas penulis, blogger guru, semisal Lagerunal. Ada event menulis bersama bertajuk #KamisMenulis. Para peserta akan diikutsertakan dalam “undian” berhadiah. Roda nama pada aplikasi Wheel of Names menjadi media untuk mengundi mereka yang ikut dalam kegiatan itu. Bu Atik yang bertanggung jawab merekap dan mengundi mereka.

Kamis menulis tanggal 10 Maret 2022, diundi pada keesokan hari. Pukul 18.40, Bu Atik mengirimkan video pemenangnya.

“Selamat untuk Bu Mien, silahkan hubungi Pak D Sus. Hadiah dari beliau. Terimakasih.” Bu Atik memberitahu Bu Miens melalui kolom chat grup WA kami.

Aha, giliran saya memberi hadiah. Ini kali kedua saya menjadi donatur pemberi hadiah. Sebelumnya saya pernah melayangkan hadiah kepada Pak Rizky Kurniawan.

Hadiah #KamisMenulis berupa buku, antologi atau karya tunggal. Saya pernah mendapat hadiah #KamisMenulis berupa buku dari sang admin, penulis hebat, seorang guru penggerak, Mazmo Sudomo. Buku itu berjudul Pahlawan Antikorupsi. Seperti saya sebutkan, menerima dan memberi adalah bentuk keseimbangan.

Sebenarnya, #KamisMenulis yang sudah berjalan lebih dari setahun ini bisa saja memberikan hadiah berupa barang dagangan atau merchandise semacam kaos, mug, alat tulis, atau barang lainnya. Bisa juga saldo OVO, GoJek, atau paket data. Namun, buku menjadi pilihan utama. Tidak ada aturan tertulis bahwa buku hadiah harus karya pemberi hadiah, namun sudah menjadi lazim, buku yang dihadiahkan adalah karya si pemberi hadiah. Jika belum bisa membuat karya tunggal maka karya keroyokan menjadi pilihan.

Apa dampak kebiasaan ini? Motivasi menulis dan membuat buku setiap anggota meningkat. Ajang #KamisMenulis tidak hanya sebagai tukar-menukar tulisan, tetapi juga ajang bertukar karya. Asyik, ‘kan?

Hadiah yang Belum Sempurna

Saya mendapat giliran memberi hadiah pada tanggal 11 Maret 2022. Saya belum memiliki karya yang layak. Namun, saya memberanikan diri memberikan buku berjenis memoar. Nukilan perjalanan hidup hingga saat ini. Rekaman sebagian pengalaman. Ini pun atas dorongan dan motivasi seorang Bu Kanjeng, yang tercatat sebagai editor buku yang saya jadikan hadiah untuk Ibu Miens ini.

Buku ini diterbitkan oleh Penerbit OASE, Surakarta. Karena penerbitan indie, naskah harus siap dari sang penulis. Sebelum naik cetak ada draf yang harus dibaca dan disetujui. Naskah itu pun saya baca. Kala itu, saya belum tahu tentang cara menemukan dan memperbaiki typo. Terdorong rasa ingin segera menerbitkan dan draf yang saya kirimkan pun sudah berulang kali saya baca, membuat tingkat ketelitian menjadi ‘berkurang’.

Kuman di seberang lautan tampak jelas, gajah di pelupuk mata tidak tampak. Peribahasa ini berlaku bagi saya sebagai penulis sekaligus “proofreader”. Membaca tulisan sendiri ternyata tidak seteliti membaca tulisan teman. Andai saya sudah mengenal cara menemukan dan memperbaiki typo seperti video berikut ini, mungkin kesalahan itu bisa diminimalkan.

Maafkan saya, bu Miens. Juga kepada saudara-saudara saya yang sudah membantu mengganti ongkos cetak buku yang dari segi isi apalagi sajian, jauh dari sempurna.

Akan tetapi, nunggu sempurna, kapan? Maka, jadikan dulu, perbaiki kemudian. Hal biasa, ‘kan? Ha ha ha.

Musi Rawas, 11 Maret 2022

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

4 thoughts on “Hadiah yang Belum Sempurna

  • Tersenyum dan mengamati takdir sebuah buku dengan plus minusnya.

  • Menunggu giliran mendapat hadiah dari Pak D. He … he …. Terima kasih tips memperbaiki typo-nya, Pak.

Comments are closed.