artikel

Inikah Alasan Cincin Kawin Dipakai di Jari Manis?

Dok. Pribadi

Sesuai jadwal KKG, aku berkunjung ke sekolah tetangga. Banyak alasan kami berkumpul sesama guru dan berpindah tempat untuk menyegarkan suasana. Selain itu, dengan berkunjung ke sekolah lain boleh jadi ada hal-hal yang bisa diduplikasi atau dimodifikasi untuk kepentingan pembelajaran. Tentu, ini cerita sebelum tragedi Maret 2020, pandemi Covid-19.

Di sela-sela kunjungan, biasanya aku sempatkan untuk bercengkerama dengan para siswa di sana. Sekedar menyapa, “Kelas berapa, sudah makan atau belum, kesukaannya apa?” Dan sebagainya. Ada kebahagiaan tersendiri jika merasa dekat anak-anak karena itulah dunia profesiku.

Bermain Lipat dan Angkat Jari

Sambil menunggu acara resmi dimulai, aku dekati beberapa anak, kebanyakan perempuan. Mereka ada yang sudah kelas enam, kelas lima, ada juga yang masih duduk di kelas empat. Kepada mereka aku berikan permainan. Permainan sederhana saja. Mereka aku suruh memasangkan kelima jari tangan kanan dan kiri mereka. Satu jari yaitu jari tengah, aku suruh mereka melipatnya ke dalam dengan menyentuhkan ruas tengahnya.

Dok. Pribadi

Permainan dimulai! Aku meminta mereka menggerakkan satu demi satu jari yang berpasangan agar saling bersentuhan. Jempol kiri dengan jempol kanan diangkat lalu disentuhkan. Telunjuk kiri dan telunjuk kanan diangkat dan kembali disentuhkan. Syaratnya, jari tengah tetap rapat berimpit. Dengan riang mereka melakukannya. Perintah berikutnya, aku meminta mereka mengangkat kelingking dan menyentuhkannya kembali. Dengan berbinar-binar mereka juga berhasil melakukannya. Terakhir, aku merogoh kantong. Uang pecahan sepuluh ribuan aku tunjukkan kepada mereka sambil berkata.

”Siapa bisa membuka jari manis dan menyentuhkannya kembali Pak Guru beri uang sepuluh ribu!”

Sampai di sini suasana mulai riuh. Satu demi satu dari mereka berteriak.

“Bisa! Aku bisa, Pak!” teriak gadis kecil berkerudung coklat dengan riangnya.

Aku hanya tersenyum karena yakin pasti jari tengahnya tidak lagi bersentuhan dengan erat.

“Ha ha ha, kenapa jari tengahnya lepas?” tanyaku sambil tertawa.

Gadis kecil berkerudung coklat itu pun tersipu.

Iyo, Pak! Nek gak lepas gak iso, Pak!” (Iya, Pak! Kalau tidak lepas, tidak bisa, Pak!) Dengan tersipu ia beralasan. Teman-temannya yang lain pun mengiyakan tentang alasan jari tengahnya terlepas ketika mengangkat jari manis.

Cincin Di Jari Manis

Sumber: lazada.com

Sayup-sayup di radio FM yang sengaja kubuka di gawai, terdengar lantunan lagu keroncong pop dari Koes Plus. Lagunya berjudul “Cincin”. Segera kusambar gitar ukulele kesayangan, lalu bersenandung.

Lihatlah di jari manisku
Cincin melingkar selalu
Tanda ikatan kasih sayang Dan bukan hanya kenangan
Cobalah kau ingat kembali, selama kau memiliki
Apa saja yang kau alami, senang dan sedih berganti

Cincin yang dijari manismu, pengikat kasih yang suci
Asalkan kau mau memiliki, selama kau menghendaki

Lihatlah dijari manismu, cincin melingkar selalu
Seperti janjimu yang dulu, setia tanpa batas waktu

Jari manis menjadi pilihan untuk menyematkan cincin. Cincin apa saja, apalagi cincin kawin. Hmm, benarkah ada hubungannya dengan permainan yang aku lakukan dengan anak-anak SD itu?

Segera kucari tahu. Jangankan dibuat posisi seperti itu. Jika kita menggenggam jemari, lalu diangkat satu demi satu mulai dari ibu jari, ketiga jari bisa sejajar. Jempol, jari telunjuk, dan jari tengah terangkat sejajar. Giliran mengangkat jari manis, ia terangkat namun terhenti sebelum posisinya sejajar dengan ketiga jari itu.

Katanya, hal itu disebabkan karena saraf penggerak pada jari-jari tersebut berbeda letaknya. Ada saraf radial yang terhubung dengan ibu jari, telunjuk, dan jari tengah. Fungsinya menggerakkan lengan dan jari-jari tersebut ketika menerima rangsangan dari luar yang diterima oleh jari-jemari itu.

Ada lagi saraf yang terbentang dari bahu hingga ujung jari kelingking dan separuh jari manis. Saraf ini dinamakan saraf ulnar yang berfungsi mengatur fleksibilitas tangan.

Kedua saraf terkait satu sama lain dan interkoneksi keduanya berada pada punggung tangan dengan jarak lebih kurang 2 hingga 3 sentimeter. (lihat: https://muffingraphics.com/jari-manis/).

O, mungkin inilah alasan cincin kawin dipasang pada jari manis. Pada permainan dengan anak-anak SD jari manis sama sekali tidak bisa digerakkan.

Lihatlah di jari manismu, cincin melingkar selalu
Seperti janjimu yang dulu, setia tanpa batas waktu

Filosofinya, jika sudah terikat jodoh yang ditandai dengan cincin di jari manis, jangan cari yang lain, dong! Wallahu a’laam.

Musi Rawas, Kamis, 14 Juli 2022

PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

14 thoughts on “Inikah Alasan Cincin Kawin Dipakai di Jari Manis?

  • Wah seru sekali pengalamannya pak Susanto, terima kasih telah berbagi!

  • Luar biasa pak…anak2 sampai terkesan begitu, kedatangan guru seperti bapak pasti dirindukan.

  • Anak-anak akan selalu ingat dengan orang yg berkesan bagi nya,

  • Lucuu..ngebayangin anak2 itu coba praktikin yg bpk minta..

  • Munasifatut Thoifah

    Pada dasarnya anak-anak menyukai hal-hal baru, apalagi yang sifatnya eksperimen. Rasa ingin tahunya tinggi.
    Itung2 melatih gerak motoriknya ini y Pak.

  • Dan saya pun yakin, anak-anak murid bapak pasti selalu merindukan bapak untuk selalu bercengkerama dengan mereka. Bener-bener luar biasa bapak…membangun karakter dengan penuh perhatian dan kasih sayang, dalam hal kecil sekalipun. Semoga saya bisa mencontohnya..

  • lesi leo puspitasari

    keren pa, permainan ini masih belum terbayang di kepala say, namun nanti coba sy praktekan dg anak2 sy di rumah, sepertinya mereka akan sangat suka sprti anak2 SD itu. cerita bapa seperti cerpen dan mengalir begitu saja sepertinya, semoga bisa seperti bapa, salam kenal dar bogor. kapan2 mampir ke sekolah saya jika ke berkunjung ke bogor ya pa Susanto

Comments are closed.