artikel

Jaga Iman dan Imun

Jaga Iman dan Imun, Refleksi atas Tulisan Cak Inin

Hari ini, sahabat literasi saya mengirim tulisan. Bukan tulisan mentah, melainkan tautan blog agar saya berkunjung dan berkomentar. Saya pun segera membuka dan membaca. Baris-baris kalimat yang tersaji ternyata sebuah puisi. Puisi bebas, sebebas sang penulis yang ingin mengungkapkan rasa pilu, sesak, dan hati yang tergetar.

Betapa tidak? Cak Inin dalam puisinya menggambarkan ambulan yang meraung. Seolah geram karena sehari harus lima kali lalu lalang di depan rumahnya. Desa tempat tinggal Cak Inin di wilayah Kota Wingko, Lamongan merah membara. Banyak warga terpapar Covid. Sebagian di antaranya meregang nyawa, meninggal.

Bacaan Istirja atau bacaan tarji hampir setiap hari diucapkan mengiringi kalimat tanya: Siapa lagi korban Covid hari ini? Sebab, tiga hari sebelumnya tiga jenazah tetangganya ia salati. Cak Inin bersama tetangga menyalati jenazah yang tertututp rapat dalam peti mati.

Saya yang hanya membaca larik-larik puisi bebas yang bertutur tentang wabah dan jenazah ikut merasa sesak. Apatah lagi Cak Inin yang menyaksikannya di depan mata. Yang memilukan lagi, ternyata beliau tujuh hari terpapar Covid. Tidak hanya dia sendiri, tetapi juga istri dan kakak perempuannya.

Puji syukur, hari ketiga ia bisa mencium bebauan dan sembuh pada hari kedelapan. Sebelumnya, ia merasakan suara yang serak, batuk, perut mual, badan meriang, dan sakit sekujur tubuh. Wabah Covid varian baru ini ternyata memang sangat ganas.

“Alhamdulillah, aku, istri, dan Mbakyuku selamat,” demikian tuturnya di WhatsApp.

Gerakan 3M, 4M, dan 5M

Cerita Cak Mukminin, saya panggil Cak Inin, tentang korban keganasan virus Covid varian baru mestinya membuka mata kita bahwa virus covid masih ada bahkan lebih ganas. Rubrik kesehatan kontan.com menyebutkan bahwa seiring waktu berjalan, virus corona penyebab Covid-19 mengalami mutasi dan menimbulkan beragam varian baru.

Salah satu varian baru itu adalah varian India B.1.617.2 yang disebut Delta. Varian virus corona Delta ini diangggap lebih menular dan bisa menyebar lebih cepat. Varian virus corona Delta juga sudah menyebar ke sejumlah wilayah di Indonesia.

Tidakkah kita prihatin dengan cerita di atas? Lalu, apa yang harus dilakukan agar tidak tertular?

Pemerintah, sejak tahun lalu telah mengampanyekan gerakan 3M: mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. Pada saat itu, awal bulan April 2020. Sebagian masyarakat mematuhi, sebagian lagi, mengabaikan. Bahkan kita masih ingat, lonjakan penderita covid setelah mudik lebaran tahun 2020. Misalnya lonjakan penderita Covid di Jawa Timur seperti diberitakan detik.com di sini.

Setelah gerakan 3M, dilanjutkan gerakan 4M: mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan.

Tahun 2021, pandemi belum juga mereda, namun para pemudik tetap tidak mau mematuhi anjuran pemerintah agar mengurungkan niatnya. Bahkan, di media sosial marak diberitakan “kebanggaan” atas keberhasilan menjebol pertahanan petugas. Akibatnya, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 menyatakan lonjakan kasus virus corona usai Lebaran 2021 lebih tinggi dari Lebaran tahun lalu. Pada pekan keempat usai Lebaran 2020, kasus naik 93,11 persen, sementara tahun ini naik hingga 112,22 persen (CNN).

Dari gerakan 3M, 4M, sekarang marak dikampanyekan gerakan 5M. Gerakan 5M protokol kesehatan adalah sebagai pelengkap aksi 3M dan 4M Gerakan 5M, yaitu: 1) memakai masker, 2) mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, 3) menjaga jarak, 4) menjauhi kerumunan, dan 5) membatasi mobilisasi dan interaksi.

Patuhi Pemerintah dan Amalkan Ajaran Agama

Di rumah saja, jangan keluar rumah jika tidak sangat mendesak, jangan bepergian jika tidak penting, serta bekerja dari rumah adalah contoh dari M yang kelima, membatasi mobilisasi dan interaksi. Lima upaya yang gencar disampaikan pemerintah sejatinya adalah perintah Ulil Armi yang wajib dipatuhi warga negara.

Seruan itu atau perintah itu tidak lain untuk kepentingan rakyat. Konon, virus itu tidak bisa berpindah jika tidak ada yang memindahkan, yakni udara maupun sentuhan. Jadi, jelaslah bahwa perintah melaksanakan protokol kesehatan dalam bentuk gerakan 5M adalah upaya melindungi diri sekaligus melindungi orang lain.

Mematuhi pemerintah, sejatinya juga mengamalkan ajaran agama. Bagi yang muslim, flyer di bawah ini sungguh mengingatkan Anda untuk itu.

 

Sumber Gambar: Detik.com

Cak Inin, sahabat literasi saya itu, pada akhir tulisannya mengajak:
Hampir setiap hari jenazah di peti berjatuhan
Ayo singsingkan baju patuhi syariat  agama dan patuhi protokol kesehatan jaga iman dan imun

Ajakan Cak Inin itu saya tafsirkan begini. Bukankah mematuhi syariat agama di antaranya adalah mematuhi anjuran/perintah pemerintah yakni mematuhi protokol kesehatan? Dengan mematuhi pemerintah, maka hakikatnya telah menjaga iman. Agar imun (kebal terhadap penyakit)  tetap terjaga dan meningkat, perlu menggembirakan diri. Misalnya, membaca tulisan yang bagus seperti tulisan Cak Inin! Selain itu juga berkunjung dan berkomentar di blog dan … jangan cemberut membaca tulisan ini, dong!

 

Cak Inin (Gambar: cakinin.blogspot.com)

 

 

Salam blogger sehat

PakDSus

 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

One thought on “Jaga Iman dan Imun

  • Alhamdulilah terima kasih pak D atas refleksi Puisi saya, smg atrikel Pak D sbg pengingat kembali saudar2 kita akan pentingnya mematuhi ilil Amri dlm Pandemi COVID-19. Smg artikel pak D jd amal shaleh

Comments are closed.