bahasa

Kata Satu di Hari Pertama

Tahun pelajaran baru telah tiba. Pembelajaran tatap muka terbatas yang dijanjikan belum bisa dilaksanakan. Covid-19 semakin mengila. Bupati tidak mau mengambil risiko munculnya klaster baru, beliau melarang pembelajaran tatap muka berlangsung di daerahnya. Sekolah tempat Manto bekerja pun terkena imbasnya. Rencana pembelajaran tatap muka (PTM) meskipun terbatas yang sudah disimulasikan pupus sudah. Murid dan guru lagi-lagi melakukan pembelajaran jarak jauh.

Pada pertemuan pertama dengan para muridnya, melalui HP, Manto mengajak peserta didiknya untuk belajar berliterasi. Maklum, ia adalah guru pembimbing literasi di sekolahnya. Ia ingin menjajagi kemampuan literasi anak-anak kelas tujuh yang baru saja diterima. Anak-anak lulusan kelas enam dari berbagai sekolah tentu memiliki kemampuan literasi yang berbeda-beda. Sebagai penggerak literasi sekolah dan juga seorang guru blogger, Manto mempraktikkan kegiatan komunitasnya kepada anak-anak didiknya. Pada kesempatan pertama, ia mengajak siswa menulis dengan tema satuĀ pada gawainya masing-masing melalui WA. Sederhana saja.

Beberapa notifikasi pun bermunculan. Di antara mereka ada yang menulis cerita tentangĀ kue satu, anak lainnya menulis cerita berjudul Satu Tekadku. Manto hanya tersenyum ketika membaca tulisan seorang siswa yang menulis teks lagu Satu Nusa Satu Bangsa. Namun ia tertegun ketika ada seorang siswa yang menulis agak lain dari teman-temannya. Ia membaca tulisan dengan tipografi angka satu yang terbentuk dari kata “satu”. Perlahan ia membaca: Satu satu satu satu satu satu satu satu satu satu satu satu satu satu satu satu satu satu satu satu satu satu satu satu satu satu satu satu satu itu bukan aku satu itu Dia.

 

Salam satu kata: Menulis

PakDSus

 

 

#KamisMenulis, #Lagerunal, #Satu, #Pentigraf

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

8 thoughts on “Kata Satu di Hari Pertama

  • Jika bacaan anak melebihi usianya kadang bisa saja seperti itu.

  • Sejatinya kehabisan ide menulis.

  • Rizky Kurnia Rahman

    Kok kalimatnya jadi panjang banget, penuh kata satu? Wah, ini termasuk pemikiran yang out of the box!

  • Satu itu Dia…. Twistnya nggih Pak D . Kalau boleh ditafsiri Dia berarti kata ganti orang kedua …artinya orang lain bisa jadi temannya. namun jika ditulis huruf kapital apakah bisa diartikan Tuhan maha Pencipta. Tapi ada pertanyaan juga jika yang menulis siswa setara SD atau SMP sudahkah menjiwai sedalam itu atau hanya kata ganti orang yang sangat dihormati.
    Akhirnya penafsiran bisa berkembang bebas dan diserahkan pembacanya. Hanya pak D akhirnya yang bisa menjawabnya.

    Ini ceritanya mencoba jadi ‘pengamat.” Hehehe. Mantap pentigrafnya pak. Saya juga berpendapat tidak harus kejutan di twistnya … Tapi membuat penasaran juga boleh. Salam Literasi pak D

  • Ada yang nulis cerita “Satu aku sayang Ibu”. Lanjut pinter pak D memangnya

Comments are closed.