artikel

Jeruk Angka 8 dari Mas Yamto

Jeruk Purut (Gambar: dibuat dengan AI)

Momen arisan Keluarga IKAS (Ikatan Keluarga Alumni Solo) tanggal 19 di Semangus, Muara Lakitan, Musi Rawas, menyisakan kenangan yang membekas hingga hari ini. Semoga hingga kapan pun.

Diawali dengan drama penolakan lokasi di grup WA dengan alasan jalan yang rusak, akhirnya tumbuh kesadaran, bahwa sang tuan rumah selama ini pun mendatangi lokasi arisan. Apa bedanya? Ha ha ha …. Benar juga, sih.

Selesai arisan dan makan-makan, kami melaksanakan salat Zuhur di bagian belakang rumah megah teman seangkatan ini. Sesudahnya, seperti biasa jika berkunjung ke rumah saudara kami ini, mesti jalan ke kebun belakang.

Aneka tanaman buah menggugah selera untuk memiliki. Mereka seolah bersahutan memanggil.

“Hai, petik buahku, dong!”

Saya pun seakan mendengar ajakan sang pohon kelapa genjah. Ada buah yang masih muda tersenyum.

“Aku bisa menghilangkan hausmu, PakDe.”

Kami pun meminjam parang dan memetik serta mengupas kelapa muda yang tingginya beberapa senti lebih tingi dari badan kami.

“Segar …!” Beberapa teguk air kelapa muda yang segar pun habis. Setelah dibelah, Mas Iswandi, teman saya yang lainnya memangkas kulit kelapa muda. Ia mengubahnya menjadi sudu yang tajam untuk mengeruk daun kelapa muda yang sebagian masih berbentuk lendir.

Selesai minum air kelapa muda yang menyegarkan, ekor mataku menangkap cangkokan batang jeruk yang lama kuidamkan, jeruk purut. Jeruk ini khas dan cukup lama ingin menanamnya di pekarangan.

Tidak ada alasan lain, selain karena bentuk daunnya. Bertumpuk dua, berlekuk di tengah seperti angka delapan dan aromanya menguar mengingatkan pada warung nasi padang di kota.

Nama aslinya adalah jeruk purut, salah satu tanaman yang kini tumbuh di pekarangan rumah saya. Tanaman itu datang bukan dari toko bibit, bukan juga dari pasar melainkan dari cangkokan yang sedang aku perhatikan.

“Kayaknya sudah berakar, Pakde!” ujar si pemilik, Mas Yamto.

Saya dan Mas Yamto satu angkatan. Ia guru juga, tapi lebih dari itu, ia adalah seorang guru plus-plus. Selain pengawas sekolah, Mas Yamto adalah pencinta kebun dan tanaman bunga dan buah-buahan. Rumahnya punya pekarangan luas, dan sebagian besar dipenuhi tanaman bermanfaat.

Mendapat tawaran, tanpa banyak basa-basi, saya segera memangkas cangkokan dan membungkus si Angka Delapan, purut yang mampu menghipniotis indra pembau dan pengecap saya.

Hari itu, saya pulang tidak hanya membawa bibit jeruk, tapi juga dengan semangat baru: semangat untuk menanam, memanfaatkan pekarangan rumah, dan berbagi cerita sebelum saya membagikan daun atau buahnya.

Daun jeruk angka 8 ini kini mulai tumbuh subur di samping rumah. Pagi ini, Ibu Negara memetik beberapa lembar daunnya dan mencampurnya pada masakan kesukaan saya: mangut ikan.

Aroma yang mengepul dari makanan itu mengingatkan kami kepada sang pemilik bibit, Mas Yamto.

Mas Yamto tidak pernah minta imbalan dari buah atau bibit tanaman yang kami bawa. Tapi sejak itu, saya jadi lebih sadar: berbagi itu menular. Kebaikan kecil bisa menyebar, seperti aroma jeruk purut yang menyebar di dapur kecil saya.

Yuk, mulai dari satu tanaman, satu pot, satu bibit, siapa tahu nanti kita menjadi Mas Yamto berikutnya, yang kebaikannya tumbuh dan mewangi di banyak dapur orang lain. ***

Musi Rawas, 15 November 2025
Salam bahagia,
PakDSus

PakD

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.