Kudapatkan Anakku Kembali (Cerita Pendek)

Kudapatkan Anakku Kembali
Oleh: PakDSus
Namaku Syarifa. Tetanggaku memanggilku Bu Syarifa. Ada juga yang memanggil Ibu Dini. Ya, aku ibu dari seorang anak perempuan bernama Dini. Anakku duduk di kelas delapan sebuah sekolah swasta Islam. Dini adalah anak pertamaku, gadis cerdas yang dulu selalu penuh tawa dan cerita setiap pulang sekolah. Ia banyak bercerita tentang keseruan belajarnya. Kadang berghibah tentang teman sekelasnya yang mendapat hadiah, tepatnya hukuman. Ia mendapat hukuman dari ustazah karena ketahuan menggambar ketika guru yang dipanggilnyaustazah menerangkan pelajaran. Aku larut mendengarkan cerita Dini. Bahkan, terbayang apa yang diceritakan Dini seolah seperti video yang melintas di benak.
“Untung Ustazah tidak tahu, Mah. Aku juga diam-diam ikut menggambar. Tapi segera aku sembunyikan ketika Ustazah melirik ke Rina. Ha ha … kalau ingat itu, aku jadi ngeri,” kata Dini sambil meletakkan tas sekolahnya di meja belajar.
Aku ikut tersenyum mendengar cerita Dini, anak gadisku yang meski tiga bulan lagi baru genap lima belas tahun, badannya sudah hampir sama besar dengan diriku.
Tetapi, semua celotehnya itu kini hilang. Berubah menjadi sunyi. Dini berubah sejak ia mengenal game online.
Itu bermula ketika aku memutuskan membelikannya ponsel. Selain agar tidak mengganggu pekerjaanku, banyak tugas sekolah sering berhubungan dengan perangkat canggih itu.
Awalnya, aku bangga. Dini sering bercerita bahwa ia selalu menang. Kebanggaanku bertambah ketika mendengar temannya yang bermain ke rumah menjulukinya “Ratu Strategi.” Namun, lama-kelamaan permainan itu menjauhkan Dini dari dunia nyata. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, menutup dan mengunci pintunya rapat-rapat.
“Dini, tolong, Nak, belikan Mamah cabe!” pintaku suatu sore.
“Aduh, Mah, capek! Baru juga nyampe rumah,” jawabnya beralasan setengah berteriak. Ia menjawab permintaanku tanpa membuka pintu.
Dini memang pulang petang. Pembelajaran lima hari yang dipilih sekolahnya membuatnya sampai di rumah sekitar pukul empat petang. Kadang lebih. Hari Sabtu ia libur. Itu pun hampir dihabiskannya bersama alat komunikasi merek nasional yang kubelikan untuknya.
“Din, … Dini!” Aku memanggil anakku dari luar kamarnya. Aku ketuk pintu kamarnya. Jawaban singkat keluar dari mulutnya.
“Iya, Mah, tunggu. Sebentar lagi. Tanggung, lagi turnamen, nih!”
Kata sebentar yang Dini ucapkan itu bisa berubah menjadi beberapa menit, bahkan berjam-jam. Itu pun tanpa membuka pintu kamarnya. Sebagai ibu, aku mulai kesal, juga khawatir. Apa yang dilakukan anak gadisku di dalam? Kadang sampai pukul sepuluh malam aku masih mendengar suara tombol-tombol ponsel yang ditekan.
“Tek, tek, … tek tek tek tek!”
Sesekali terdengar teriakan kecil anak sulungku itu karena menang atau lenguhan kekesalan karena kalah.
Komunikasi kami menipis, setipis kertas ulangan yang aku bagikan kepada murid-muridku di kelas. Makan malam bersama sudah jarang terjadi. Dini mengambil makanan dan membawanya ke kamar. Obrolan tentang sekolah, teman, dan mimpi-mimpinya menguap entah ke mana.
Kesabaranku perlahan retak. Aku merasa kehilangan anakku, meski ia hanya berjarak beberapa meter di balik pintu kamarnya yang lebih sering terkunci ketika Dini berada di dalamnya.
“Aku khawatir, anak kita salah bergaul, Pah,” keluhku pada suami, “Dia memang selalu berpakaian rapat di luar. Berkerudung, rok panjang, dan tanpa make-up meskipun ia sudah menjelma menjadi gadis belasan tahun, Mas. Tapi di kamar, kita tidak tahu apa yang dilakukan?”
Suamiku menghela napas. Setelah itu ia menjawab dengan kalimat pendek.
“Mamah yang dekat dengan Dini, pasti bisa mengatasi.”
Aku berharap ayahnya bisa membantuku. Namun, sejak Dini masuk SMP, kedekatan dengan ayahnya berkurang. Ayahnya yang bertambah sibuk dengan pekerjaannya dan Dini sibuk dengan permainannya. Aku pun tidak bisa berharap banyak.
Hari demi hari, hati dan perasaanku terhadap Dini bagai cermin retak seribu, tinggal menunggunya pecah berkeping-keping.
Sampai suatu malam, setelah berkali-kali kupanggil tetapi tak ada jawaban, aku menggedor pintu kamar Dini kuat-kuat. Suaranya melebihi suara bedug masjid di malam takbiran. Jantungku berdentum keras. Dini keluar kamar sambil menatap layar ponselnya. Wajahnya lelah namun tidak bergeming.
“Dini, berhenti!”
Suaraku menggema memenuhi kamar kecil itu.
Tidak ada reaksi. Seolah aku bukan ibunya, melainkan sekadar suara bising yang lewat. Tanpa berpikir panjang, aku merebut ponselnya. Teriakan Dini tertahan di tenggorokan.
Lalu, … brak!
Ponsel itu kurebut. Karena licin, ponsel itu tergelincir dan melanting. Jatuh ke lantai. Layar kacanya pecah. Penutup belakangnya terlepas dari badannya yang sekarang menjadi seonggok benda tidak berguna. Ponsel yang aku beli untuk memudahkan Dini belajar berhamburan seperti serpihan kemarahan yang selama ini kutahan.
Dini terpaku. Ia tidak menangis. Tidak pula membalas. Hanya sorot matanya yang entah kenapa aku sulit menerjemahkannya. Tapi, tatapan matanya membuat dadaku seperti ditimpa batu yang berat: sedih dan kecewa. Kami berdua terpaku beberapa saat.
Sejak hari itu, ponsel itu tidak pernah kembali. Jika Dini membutuhkannya untuk tugas sekolah, aku meminjamkan ponselku untuk dipakainya.
“Jika ada panggilan, tidak usah diangkat. Kalau ada WA biar Mamah balas lewat laptop.” Aku berpesan kepada anakku yang sekarang tidak punya fasilitas ponsel lagi.
Memakai gawai yang aku pinjamkan tidak bebas seperti sebelumnya. Awalnya ia terlihat canggung, tapi ia menerimanya tanpa protes. Namun, sejak kejadian itu, Dini jarang mengurung diri di kamar. Bahkan ketika libur hari Minggu, ia meminta ikut kami ke kebun. Ke mana pun aku pergi, ia mengikuti. Ke warung untuk berbelanja, ia ikut. Bahkan, Dini sering meminta agar ia yang pergi belanja.
“Mah, sabun cuci piring kita habis?”
Aku menatapnya, terkejut. Sudah lama sekali Dini tidak mencuci piring. Hari ini ia menanyakan deterjen pencuci piring.
Perlahan, Dini mulai berubah. Ruang antara kami terbuka kembali. Kami mulai berbicara. Tentang sekolah, tentang guru favoritnya, tentang cita-citanya menjadi dokter. Di sore hari, aku mendengar suara tilawah dari kamarnya. Bukan karena tugas agama seperti dulu, melainkan atas kemauannya sendiri.
Pada suatu malam, ketika kami duduk bersama di teras, Dini berkata lirih, “Maafkan Dini ya, Mah.”
Aku terdiam. Malam ini langit bertabur bintang. Seperti hatiku yang bertabur bunga.
“Tidak, Nak. Justru Mamah yang minta maaf. Mamah hampir kehilangan kamu. Mamah janji, ketika Dini sudah mampu bertanggung jawab, Mamah akan belikan hape lagi.”
“Kan masih bisa pakai hape Mamah. Tapi, kalau Dini minta belikan buku, boleh, ya!” Dini menyodorkan tangkapan layar hape dari akun TikTok Ringkasan Malam.
“Akun apa itu?” tanyaku.
Dini pun menjelaskan bahwa Ringkasan Malam adalah akun TikTok yang mereviu buku-buku bacaan yang sudah dibaca sang admin. Lalu, ia merekomendasikan kepada penonton untuk membaca atau membeli buku yang sudah ia reviu.
“Mamah pasti belikan!” janjiku sambil memeluk anak gadisku yang makin dewasa.
Tuhan, malam ini kudapatkan anakku kembali.
Musi Rawas, 27 November 2025
PakDSus
