bahasa

Buket Hari Guru (Cerita Pendek)

Ilustrasi Anak Sekolah Dasar (Gambar: Co-Pilot AI Generator)

Buket Hari Guru
Oleh: PakDSus

Tiga hari menjelang Hari Guru Nasional, di simpang tiga kota tempat tinggal Anam dipenuhi pedagang. Barang yang dijual beraneka warna, berupa hiasan bunga berpita yang dipadu dengan rangkaian rupa-rupa isian.

JUAL BUKET HARI GURU

Tulisan besar yang diketik rapi di atas selembar kertas HVS, meyakinkan calon pembeli bahwa barang dagangan berupa buket, sejenis karangan bunga untuk dipersembahkan pada Hari Guru.

Anam, lelaki kecil yang duduk di kelas enam itu ikut berkerumun bersama ibu-ibu muda dan paruh baya yang memilah dan memilih buket yang disukai.

Pandangan Anam memindai label harga: 15K, 20K, 25K. Bahkan, ada yang seharga 50K. Sebagai anak Gen-Z, ia paham bahwa harga buket berada pada rentang lima belas, hingga lima puluh ribu rupiah.

Anam sudah mengantongi uang dua puluh lima ribu. Bukan uang dari emaknya yang berjualan nasi uduk, atau dari ayahnya yang bekerja sebagai buruh tani. Uang itu adalah uang saku yang ia kumpulkan sebulan lalu.

Tahun lalu, pada hari guru, sang emak membuatkan roti goreng berbentuk roda dengan lubang di tengah.

“Donat, Mak? Untuk bu Tugiyem?” tanya Anam kepada Maknya.

“Iya, antar saja dan letakkan di meja guru. Mamak tidak bisa menulis rapi. Kau tulislah ucapan: Selamat Hari Guru, Bu. Semoga sehat dan berkah selalu. Dari Anam,” jawab sang emak.

Tahun ini ia ingin memberikan bingkisan berupa buket untuk Pak Eko, gurunya di kelas enam. Ia tidk mau merepotkan orang tuanya, ia sisihkan uang jajan dan hari ini ia bawa ke penjual buket.

Baca Juga: Kudapatkan Anakku Kembali (Cerita Pendek)

Pada hari Senin, halaman sekolah Anam sudah penuh warna. Balon kertas tergantung di bawah atap koridor. Spanduk sederhana bertuliskan ucapan selamat terbentang di depan gedung Perpustakaan. Pada hari Senin, sekolah Anam tidak menyelenggarakan upacara, tetapi anak-anak dibariskan rapi.

Pagi itu, Ibu Kepala Sekolah memberi pengumuman.

“Anak-anak yang saya sayangi, tolong perhatikan. Mulai tahun ini, Ibu meminta, kalian tidak memberi buket, hadiah, atau barang apa pun kepada Bapak maupun Ibu Guru. Saya baru pulang dari seminar tentang gratifikasi pendidikan. Memberi hadiah kepada guru termasuk pada hari guru dianggap tidak etis serta bisa membuat anak lain merasa terbebani.”

Ibu Kepala Sekolah baru, pengganti kepala sekolah yang memasuki masa pensiun, memberi pengumuman. Pengumuman yang diberikan membuat jantung Anam terasa mau copot.

Murid-murid saling memandang, tidak ada suara. Namun, gurat kecewa terlihat pada wajah polos anak-anak, terutama anak kelas tinggi.

“Nam, kau beli buket, nggak?” bisik Nandi kepada Anam.

Tidak bergeming, bibir Anam menjawab lirih, “Iya.”

Selesai menyanyikan lagu Hymne Guru dan Terima Kasih Guruku, barisan pun dibubarkan Pak Iyar, guru olahraga.

“Terus… kapan kita menyerahkan buket kita, Ndi?” tanya Anam kepada Nandi.

Nandi mengangkat bahu.

Baca Juga: Mengajar Seperti TikTok, Pendekatan Apa Itu?

Selama pelajaran berlangsung, Anam tidak bisa fokus. Baris demi baris kalimat yang ia salin dari tulisan Pak Eko sekadar disalin. Pikirannya kacau. Hingga baris terakhir, sambil menulis Anam membuat beberapa rencana.

“Hadiahmu tidak usah diserahkan! Ingat pesan ibu Kepala Sekolah!” bisik kata hatinya.

“Tapi aku sudah susah payah mengumpulkan uang untuk membeli buket itu.” Anam beralasan kepada diri sendiri.

“Kalau begitu, serahkan di rumah saja,” bisik kata hatinya lagi.

“Malu, tau!” Anam memprotes.

“Anam, sudah selesai mencatat?” Tiba-tiba suara berat Pak Eko menegurnya. Matanya menatap papan tulis, tetapi bolpoin ia putar-putar seolah larut dalam percakapan dengan dirinya sendiri.

“E … anu, Pak. Hampir selesai,” jawab Anam mengiringi rasa terkejutnya.

Selesai jam pelajaran ketiga, bel istirahat berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar kelas.

Alfa, Siska, Nandi, Anam dan beberapa anak kelas enam duduk di bawah pohon. Mereka membahas pengumuman ibu kepala sekolah, tapi mereka tetap ingin memberi hadiah kepada gurunya pada hari guru nasional esok hari.

“Kita ajak Pak Eko merujak saja,” usul Alfa.

“Terus?” tanya Nandi.

Keenam anak itu pun terus berdiskusi. Entah apa keputusan yang mereka ambil, ketika bel masuk berbunyi mereka baru membubarkan diri.

Baca Juga: Mengajar Seperti TikTok, Pendekatan Apa Itu?

Di dalam kelas, Pak Eko kembali menegaskan bahwa mulai tahun ini, anak-anak dilarang memberi ucapan selamat disertai dengan hadiah apa pun.

“Yah, …. Gak seru dong, Pak!” keluh salah satu murid, diikuti gumaman setuju dari yang lain.

Pak Eko tersenyum tipis, matanya menyapu wajah-wajah polos di depannya.

“Seru atau tidak, kita ikuti aturan. Yang penting, kita belajar menghargai guru dengan cara yang benar. Tidak selalu dengan hadiah, tapi dengan sikap dan prestasi kalian.”

Anam diam saja, tapi hatinya bergejolak. Buket yang sudah dibeli sudah ia selipkan kertas ucapan itu masih tersimpan di kamarnya.

Pulang sekolah Anam mengadu kepada emaknya.

“Mak, kalau kasih hadiah ke guru dilarang, gimana caranya bilang terima kasih?” tanya Anam sambil melepas kaus kaki.

Emaknya yang sedang memarut kelapa berhenti sejenak.

“Loh, kenapa. Bukankah kamu sudah membeli buket untuk gurumu?” tanya sang emak heran.

“Nggak jadi, Mak. Ibu kepala sekolah melarang anak-anak memberi hadiah pada hari guru besok. Tidak seperti tahun lalu, kita ngasih donat ke Bu Tugi, ya, Mak,” jelas Anam.

“Jadi, apa rencanamu?” Emak balik bertanya.

“Entahlah!”

Menjelang Ashar, Nandi dan kawan-kawan datang ke rumah Anam.

“Aku ada ide!” seru Alfa. Mereka pun segera berunding. Setelah berunding, Siska diberi tugas untuk mengirim pesan WA kepada teman-temannya di grup.

Mata Anam berbinar. Ide itu muncul bagai pelita di kegelapan. Laksana embun penyejuk dalam kehausan. Besok adalah Hari Guru Nasional. Mereka harus bertindak cepat.

Pagi harinya, sekolah kembali ramai. Pak Misdi dan Pak Nori mengikuti upacara di kecamatan. Kepala sekolah mengikuti upacara di halaman kantor Bupati. Guru yang tersisa, termasuk Pak Eko upacara di sekolah.

Meskipun guru yang ada tidak lengkap, anak-anak tetap bersemangat. Bahkan, beberapa lomba sudah disiapkan bapak dan ibu guru. Anam dan teman-temannya, Alfa, Siska, Nandi, dan yang lain, setelah mengikuti lomba berkumpul diam-diam. Mereka telah sepakat semalam lewat pesan singkat di grup WA.

“Buket yang aku beli sudah kuambil barang-barang hadiahnya seperti kesepakatan. Tapi, kopi bungkus aku taruh pada bagian paling bawah. Kita tahu, kan? Pak Eko suka kopi. Alfa sudah mengatur kertas-kertas ucapan menjadi batang-batang indah pada buket yang telanjur aku beli. Kita tidak memberi barang karena dilarang. Tapi buket ini berisi gulungan-gulungan kertas,” kata Anam bak seorang komandan.

Baca Juga: Mengurai CP IPAS Fase B Menjadi TP yang Mudah Dipahami

Bel sekolah berbunyi, anak-kembali ke kelas. Begitu juga Anam dan kawan-kawan. Mereka cepat-cepat masuk ke kelas. Takut keduluan guru tua paruh baya, guru kelas mereka.

Pagiku cerahku, matahari bersinar
Kugendong tas merahku di pundak
Selamat pagi semua, kunantikan dirimu
Di depan kelasmu menantikan kami

….

Anak-anak kelas enam serentak berdiri mereka menyanyikan lagu Guruku Tersayang ketika Pak Eko masuk kelas.

Guru senior itu tersenyum. Bahkan ia ikut bertepuk tangan mengiring lagu yang viral setiap Hari Guru Nasional diperingati.

Alfa maju ke depan kelas. Ia menjadi pemimpin lagu. Masih berdiri, anak-anak kelas enam menyanyikan lagu Hymne Guru dan lagu Terima Kasih Guruku.

Suasana khidmat. Ketika anak-anak bersenandung dengan irama lagu Terima Kasih Guruku, Anam maju ke depan Pak Eko. Setelah lagu selesai, Anam berkata.

“Selamat hari guru, Pak. Kami semua mengucapkan semoga Pak Eko dan para guru di sekolah kita selalu sehat dan bersemangat. Kami tidak memberi apa-apa. Buket ini berisi gulungan kertas rahasia. Mohon dibuka jika kami sudah pulang.”

Anam memberikan buket yang sudah dibongkar isinya dan diganti dengan gulungan kertas sebanyak tiga puluh tiga buah.

Ketika Pak Guru menerima, semua bertepuk tangan.

Mata Pak Guru berkaca-kaca. Hampir saja menagis haru.

“Terima kasih, Anak-anakku.”

Di ruang guru, setelah anak-anak pulang, Pak Eko membuka satu per satu ‘gulungan rahasia’.

“Guru lain nggka ada yang dapat hadiah, kok Pak Eko bisa sih menerima hadiah. Kan sudah dilarang kepala sekolah,” ucap Bu Tika, guru kelas satu.

“Lo, ini bukan hadiah. Mereka berkreasi bikin sendiri. Katanya, kami tidak memberi hadiah, hanya gulungan kertas rahasia yang minta saya buka setelah anak-anak pulang,” jawab Pak Eko membela diri.

Gulungan Pertama.
“Terima kasih, Pak Eko, karena sabar ajari saya matematika. Muridmu, Nandi”

Gulungan Kedua
“Pak Eko asyik, bikin pelajaran jadi menarik! (Keisya)

Gulungan Ketiga
“Semoga Pak Eko sehat selalu, dari Siska.”

Sang guru kelas tersenyum. Tidak lupa mengabadikan tulisan tangan anak-anak dalam bentuk foto dan video.

Gambar buket utuh dan gulungan kertas berisi ucapan ia pasang dan dijadikan status WA.

Bukan main. Anak-anak masih berani memberi hadiah meskipun sudah dilarang. Tapi, ini kreativitas. Apakah aku harus menolak hasil karya kreatif?


Musi Rawas, 28 November 2025

Salam Literasi,
PakDSus

PakD

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

One thought on “Buket Hari Guru (Cerita Pendek)

  • The best dulurku

Comments are closed.