artikel

Kulkas, Musuh dalam Selimut

Kulkas terguling akibat banjir (Gambar kiriman teman di grup WA)

Siapa yang tidak kenal kulkas? Lemari pendingin itu sangat mudah ditemui. Hampir setiap rumah tangga memiliki benda yang dahulu tergolong barang mewah.

Ya, ketika aku kecil, kulkas adalah barang yang mahal. Keluarga kami tidak memilikinya. Orang tuaku tidak mampu membeli, walaupun hanya kulkas kecil satu pintu. “Pabrik pembuat es” di kampung itu menjadi salah satu barang yang ingin kami miliki.

Angan pun melayang. Tahun 1993 aku menjadi guru di daerah terpencil. Listrik yang kami nikmati adalah listik yang dihasilkan oleh dinamo yang diputar mesin disel. Itu pun menumpang. Kami membayar hanya untuk dua buah lampu TL 10 watt. Satu di ruang tamu dan satu lagi dipasang di dapur.

Listrik dinyalakan oleh tuan dinamo pukul 18.00 dan dipadamkan sekitar pukul 22.00 WIB. Sesekali dipadamkan pukul sebelas malam, jika sang pemilik dinamo kebetulan ada keperluan.

Uang iuran tiga puluh ribu kami bayarkan sebagai uang sewa. Dalam bahasa daerah disebut “sen listrik”. Sen berarti uang. Jadi, sen listrik adalah uang yang dikutip oleh pemilik mesin listrik kepada para pemakai yang ikut menikmati aliran listriknya.

Mengapa tidak memiliki dinamo sendiri? Karena kami merasa tidak memerlukannya. Selain alasan kepraktisan, pada saat itu belum mengenal peralatan seperti komputer. Maka, aku merasa tidak perlu memiliki mesin yang memerlukan banyak perawatan itu. Selain itu, dinamo dan mesin disel harganya mahal. Harga barang yang mahal maupun ongkos angkut ke desa terpencil yang tidak murah membuat aku menganggap bahwa barang itu bukan kebutuhan yang mendesak.

Daya listrik yang kecil dan waktu menyala yang pendek menjadi alasanku untuk tidak memiliki lemari pendingin yang memerlukan daya listrik cukup besar itu.

Kulkasku Hari Ini

Dua tahun semenjak pindah ke pinggiran kota dan mampu memasang instalasi listrik sendiri, lemari pendingin yang belum pernah aku miliki itu dapat kubeli. Kami bisa menyimpan bahan makanan lebih lama. Bisa membuat es batu, es mambo, es krim, dan mendinginkan air minum sepuasnya.

Itu dahulu, ketika anak-anak masih bersekolah dan berkumpul di rumah. Memiliki lemari pendingin memudahkan kami melayani mereka. Membuatkan makanan menjadi lebih cepat. Simpanan bahan makanan tinggal diambil sesuai keperluan.

Ketika hari panas terik, anak-anak tidak harus berjajan es di luar. Cukup membuka pintu kulkas. Es yang mereka inginkan segera dapat dinikmati.

Seiring dengan waktu, satu demi satu anak-anak meninggalkan rumah. Mereka harus melanjutkan pendidikan ke luar kota bahkan menyeberang Selat Sunda. Tinggallah kami bertiga. Bahan makanan yang dibutuhkan tidak sebanyak ketika ketiga kakak bungsu ada di rumah. Pun penjual makanan matang setiap hari berseliweran. Makanan ringan, gorengan, sayur masak, sayur mentah, bahkan daging ayam dijajakan. Setiap hari.

Apa yang terjadi? Istri pun memasak sayuran dan daging segar. Beli hari ini, dimasak hari ini. Pernahkah kesiangan? Sesekali, pasti. Pedagang sayur matang menjadi solusi. Kami cukup menanak nasi. Rendang jengkol, orek tempe, oseng kangkung, tempe bacem, dan lain-lain mudah dibeli. Bibi penjual lewat depan rumah, setiap pagi.

Sayur matang (postmediabekasi.poskota.co.id)

Usia yang semakin tua, melarang mengonsumsi air dingin terus-menerus. Botol-botol minuman yang dahulu berisi air putih, sekarang kosong. Es batu pun cukup dibuat pada cetakan es. Si bungsu hanya sesekali saja mengonsumsinya.

Sayuran di kotak sayuran mulai menguning. Seharusnya sayuran hijau seperti kangkung yang disimpan di kulkas, dimasak hari ini. Tetapi karena terburu waktu, ia dibiarkan begitu saja. Sayur matang “bibi sayur” menggantikannya. Pun sayuran hijau hanya mampu bertahan tiga hari saja. Lewat dari itu sudah tidak bagus lagi dimasak. Alhasil, mereka harus terbuang dan menjadi makanan ayam. Untungnya punya ayam, ya!

Kulkas Musuh dalam Selimut

Begitulah cerita tentang kulkasku hari ini. Perlu dan tidak perlu. Kabel listrik kulkas ingin kami cabut. Tetapi, untuk hal-hal tertentu kami masih memerlukan kulkas itu. Akhirnya, kabel terus-menerus tertancap, sementara isinya tidak seperti dahulu. Seperti kukatakan, seakan tidak diperlukan lagi.

Pernah suatu ketika, ada gangguan listrik dari pagi hingga petang. Hal itu terjadi beberapa hari. Tentu saja kulkas tidak dinyalakan. Seluruh isinya kami bersihkan. Sebab jika tidak, bau aneka sayuran dan bumbu sangat tidak sedap. Oleh karena itu, nyaris kulkas tidak dibutuhkan selama beberapa hari. Sayuran disimpan di luar, bumbu pun demikian. Air es? Kami tidak terlalu membutuhkan. Tiga atau empat hari kami hidup tanpa kulkas, kami baik-baik saja.

Temanku mungkin benar. Kulkas adalah musuh dalam selimut, katanya. Enemy in the blanket, kata orang sana. Arti harfiah musuh dalam selimut adalah orang terdekat yang diam-diam berkhianat. Arti lainnya adalah musuh yang dekat dengan kita dan dapat mencelakai kita.

“Kulkas benda mati, ‘kan? Mengapa jadi musuh dalam selimut?”

Pertanyaanku di grup belum juga dijawab oleh yang bersangkutan. Namun aku menduga, bahwa kulkas masa kini, tidak terlalu diperlukan. Gaya hidup ibu-ibu yang cenderung instan dalam memenuhi kebutuhan makanan keluarga menjadikan fungsi kulkas sebagai tempat menyimpan bahan makanan menjadi berkurang. Namun, tetap saja kulkas dibutuhkan sehingga sayang jika tidak digunakan. Itu artinya, meskipun tidak terlalu penting lagi, kulkas tetap digunakan dan menyedot anggaran karena tagihan listrik tetap saja besar. Benar-benar musuh dalam selimut. Wallahualam.

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

22 thoughts on “Kulkas, Musuh dalam Selimut

  • Hello there, just became aware of your blog through Google, and
    found that it is really informative. I am going to watch out for brussels.
    I’ll appreciate if you continue this in future.
    Lots of people will be benefited from your writing.

    Cheers!

  • Hey there! I just wanted to ask if you ever have any problems
    with hackers? My last blog (wordpress) was hacked and I
    ended up losing months of hard work due to no data
    backup. Do you have any methods to prevent hackers?

  • Pokoknya bijak-bijak memakaianya.

  • Mak, terima kasih. Maksimalkan penggunaannya agar tidak menjadi musuh dalam selimut.

  • Masih dan akan terus dibutuhkan, Pak. Namun, ya dimaksimalkan.

  • Yups, itulah cara agar dia tidka menjadi musuh dalam selimut.

  • Oke, tergantung bagaimana kita. Mesti dibaikin agar tidak menjadi musuh dalam selimut.

  • Ha ha ha, terima kasih Bung Keren. Itu hasi obrolan di grup. Teman yang kecewa karena kulkasnya “tidak berfungsi” dengan semestinya.

  • Gak sepakat ah sama Pak D.
    Kulkas di rumah sangat dibutuhkan untuk menyimpan makanan olahan (frozen food) kesukaan anak-anak. Bahkan buah-buahan yang selalu dibeli oleh istri juga langsung masuk ke lemari pendingin. Ohh.. Iya ada lagi, makanan yang masih ada juga tidak ketinggalan akan dimasukkan juga.

  • Ulasan yang sangat seru Pak D, aku suka dengan menu makanannya jengkol, tempe orek ,sayur . Bikin laper sehat selalu Pak D.

    Memenag kulkas terkadang menguntungkan , terkadang juga merugikan. He…he….

  • Impian yang sama waktu itu pak. Dan alhamdulillah sekarang masih menjadi kebutuhan. Apabila lelah untuk menghangatkan makanan, kulkaslah tempat persinggahannya sebelum esok pagi dihangatkan kembali.

  • Masih diperlukan untuk ibu-ibu yang lebih senang masak sendiri. Beli bahan sayuran mentah sekali untuk seminggu. Disimpan dengan cara benar di frezzer, dikeluarkan untuk diambil seperlunya lalu dimasukkan lagi. Begitulahj kisah teman sekantor guru. Nyatanya masih dibutuhkan.

  • Keren…Tulisannya, PakD…Kalau bagi emak, kulkas sangat dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari. Untuk menyimpan sayuran dkk.

  • Kulkas sangat diperlukan saat lebaran, tempat stok empek-empek dan tekwan. He … he …

  • Hehe..ibu- ibu jaman now… Pinginya cepet karena di kejar deatline Pak D..yang terpenting ada lauk untuk di makan. Namun sesekali memang kulkas tetep di butuhkan.

  • Setuju pak D. Kulkas itu mmng gak terlalu diperlukan tp untuk hal2 tertentu butuh juga sih..

Comments are closed.