artikel

Kurikulum Merdeka: Aku Belum Diklat, Bagaimana?

App Merdeka Mengajar

Tulisan ini sudah ditayangkan di Kompasiana oleh penulis di https://www.kompasiana.com/susantogombong/62f7d6de08a8b54f226cdd32/kurikulum-merdeka-aku-belum-diklat-bagaimana. Selamat membaca!

Kurikulum Merdeka: Aku Belum Diklat, Bagaimana?

“Merdeka belajar itu apa sih?”

“Bapak tahu Kurikulum Merdeka itu seperti apa?”

“Apakah dengan Merdeka Belajar anak-anak menjadi bebas dan belajar semaunya?”

Pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan oleh teman-teman guru secara bergurau maupun serius. Namun, jika saya balik bertanya, “Anda tahu tidak?”

Jawaban yang sering saya terima adalah, “Entah, aku belum ikut diklat. Jadi belum tahu apalagi paham.”

Sahabat Pembelajar, usia saya sekarang lima puluh tahun lebih sedikit. Rekan guru seusia saya atau beberapa tahun di atasnya pernah mengalami era penataran dan pelatihan. Apalagi, jika muncul kebijakan baru atau hal baru yang sedang atau akan diterapkan. Sudah dipastikan bakal ada penataran atau diklat. Tujuannya agar konten yang dilatihkan menyebar hingga ke pelosok negeri. Caranya dengan “menularkan” atau menyampaikan kembali kepada komunitas guru di daerah. Biasanya, materi terakhir pada penataran atau diklat tertentu adalah RTL (Rencana Tindak Lanjut).

Penataran dan/atau pelatihan tersebut acapkali dilakukan beberapa angkatan. Angkatan pertama selesai, dilanjutkan dengan angkatan kedua, dan seterusnya dan dilaksanakan di sebuah hotel atau Balai Diklat dengan fasilitas menyerupai hotel. Ada ruang pertemuan dan kamar-kamar untuk menginap para peserta. Pulang dari penataran atau pelatihan, peserta melapor kepada pemberi tugas dan menyampaikan rencana tindak lanjut. Jika gayung bersambut, peserta penataran akan menjadi narasumber untuk menularkan pengetahuannya kepada rekan lainnya. Oleh karena itu, jamak jika teman guru ditanya tentang sesuatu hal jawabnya, “Aku belum tahu karena belum ditatar atau didiklat.”

Demikian berlangsung bertahun-tahun, hingga tidak sadar memengaruhi pola pikir. Jika ingin tahu hal baru, ya ikut penataran atau diklat. Jika tidak ada penataran atau diklat maka berimplikasi pada pekerjaan. Jika ada tugas yang harus dikerjakan, karena belum paham, sering meminta orang lain yang sudah ditatar dengan mengatakan,”Kamu saja, kan kamu yang sudah ditatar.”

Contoh diklat secara luring (https://p4tkbispar.kemdikbud.go.id/)

Entah, harus disyukuri atau larut dalam rutukan bahwa pandemi Covid-19 tahun 2020 hingga awal tahun 2022 “memporakporandakan” tatanan kehidupan. Larangan berkerumun, adanya pembatasan kegiatan masyarakat memberi dampak perubahan yang luar biasa dalam berbagai bidang, termasuk transfer pengetahuan.

Pada era sebelumnya, transfer pengetahuan dilakukan pada sebuah kelas, dalam ruangan, secara tatap muka. Peserta yang mengikuti kegiatan pun terbatas, sebatas luas ruangan. Biaya yang dikeluarkan pun relatif besar. Ada biaya sewa ruang, biaya transportasi, biaya rapat, alat tulis, honor, dan konsumsi. Kemudian, pelatihan dilakukan berjenjang, dari pusat yang diselenggarakan oleh Kementerian kemudian diimbaskan ke daerah dengan pola yang sama. Sementara, waktu terus berjalan.

Hal sebaliknya terjadi pada masa pandemi Covid-19, pertemuan di sebuah ruangan secara klasikal, dilarang. Lalu, bagaiman transfer pengetahuan berlangsung? Beruntung, teknologi komunikasi sudah sedemikian maju. Kendala ruang kelas nyata, diatasi dengan menciptakan ruang-ruang maya melalui bantuan aplikasi. Sebut saja ,isalnya, Zoom dan G-Meet. Pertemuan itu idak membutuhkan ruang gedung pertemuan. Tidak ada biaya konsumsi dan transportasi. Peserta yang dijangkau pun semakin banyak dan luas. Pada masa pandemi, dimulailah era webinar. Webinar atau seminar melalui website secara gratis bermunculan di mana-mana. Pendidikan dan Pelatihan dalam jaringan yang diselenggarakan secara gratis maupun berbayar dengan biaya relatif murah pun merebak. Tidak ada paksaan untuk mengikuti. Pun guru bebas memilih topik yang disukai.

Transformasi Pendidikan

Transformasi transfer pengetahuan pun dimulai. Dari sebelumnya melalui ruang kelas dengan pelatihan berjenjang, kini melalui media sosial, khususnya media sharing networks seperti YouTube. Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, sejak tiga tahun belakangan aktif menyelenggarakan webinar. Melalui webinar tersebut kebijakan Kemendikbud disampaikan kepada masyarakat pendidikan, khususnya guru. Untuk menguatkan suatu masalah, webinar acapkali dilakukan berseri-seri. Seri satu, dua, tiga, dan seterusnya.

Sosialisasi program melalui kanal YouTube Ditjen GTK Kemdikbud RI. Guru dipelajari oleh guru secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Dengan mengikuti webinar tersebut diperoleh pengetahuan baru secara komprehensif. Yang tidak sempat mengikuti kegiatan pada hari “H” dapat membuka dan memelajari pada lain hari. Video rekaman yang diunggah pada kanal YouTube menjadi modul digital yang sewaktu-waktu dapat diakses dan dipelajari secara mandiri.

Dari kanal YouTube Ditjen GTK Kemdikbud RI tersebut, pemahaman tentang transformasi pendidikan berdasarkan pemikiran Ki Hajar Dewantara diperoleh. Kata transformasi berkonotasi dengan perubahan. Perubahan yang dimaksud adalah berubahnya keadaan dari keadaan sebelumnya menjadi sesuatu yang lebih baik. Berubah sebagian atau sama sekali baru. Itulah transformasi.

Kunci transformasi pendidikan yang digagas Mendikbud Nadiem Makarim adalah gotong royong. Sebagaimana dilansir kemendikbud.go.id, nilai gotong royong menginspirasi dan menjadi kunci guna menciptakan pendidikan berkualitas untuk semua demi masa depan yang lebih baik.

Mendikbud Nadiem Makarim pun menegaskan bahwa gotong royong telah mengakselerasi transformasi. Gotong royong menjadi solusi atas krisis pembelajaran yang telah terjadi. Sebagaimana kita tahu, krisis pembelajaran makin menjadi, terlebih dengan datangnya pandemi. Oleh karena itu, tranformasi pendidikan adalah suatu keharusan.

Aksi transformasi pendidikan dilakukan dengan diluncurkannya paket program Merdeka Belajar dan aneka program pemulihan pembelajaran. Pemuliha pembelajaran yang dilakukan antara lain dengan menghadirkan Kurikulum Merdeka, Asesmen Nasional, dan Program Guru Penggerak.

Pertanyaan dari sebagian guru terkait dengan berbagai program tersebut adalah, “Bagaimana memahami itu semua sedangkan saya belum ditatar atau didiklat?”

Aku Belum Diklat, Bagaimana?

Di atas sudah diuraikan perihal diklat luring di ruang gedung secara klasikal. Tampaknya, dengan adanya kemajuan teknologi, Kementerian sudah sangat membatasi kegiatan pendidikan dan pelatihan dengan pola-pola seperti sebelumnya. Webinar melalui Zoom dan direkam serta disiarkan pada kanal YouTube dirasa lebih murah dan mudah serta menjangkau guru dalam jumlah yang besar.

Webinar tentang Kurikulum Merdeka yang disiarkan langsung atau direkam melalui Youtube itu berisi informasi yang disampaikan para pakar dan praktisi. Guru dapat melakukan pelatihan mandiri dengan memutar ulang video rekaman pelatihan. Tidak ada biaya yang dikeluarkan selain biaya sambungan internet.

Platform Merdeka Mengajar versi web maupun aplikasi android, mengubah paradigma dan pola pikir baru bagi guru. Sebelumnya, guru biasa diajari, sekarang harus mau belajar sendiri. Adanya penataran dan diklat luring memberi kesan, yang belum ditatar maka belum tahu atau belum berkewajiban melaksanakan. Pola pikir berikutnya adalah, dari sebelumnya malas membaca dan menulis, menjadi mau membaca dan menulis. Pada Platform Merdeka Mengajar, selain menonton kita juga membaca secara saksama soal dan petunjuk yang ada. Selain itu, kita harus menuliskan refleksi. Menulis refleksi perlu keterampilan merangkai kata agar kalimat yang dihasilkan mudah dibaca dan dipahami.

Bapak dan Ibu Guru Hebat, jangan berharap lagi ada penataran atau pelatihan seperti masa lalu lagi. Kemajuan teknologi memungkinkan ribuan orang hadir dalam ruang virtual yang sama. Jutaan orang dapat mengakses materi pelatihan secara bersamaan. Oleh karena itu, memanfaatkan paltform digital berupa aplikasi android Merdeka Mengajar atau Merdeka Mengajar melalui laman web https://guru.kemdikbud.go.id/ adalah keharusan. Selamat belajar, salam dan bahagia.

Musi Rawas, 13 Agustus 2022

PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

13 thoughts on “Kurikulum Merdeka: Aku Belum Diklat, Bagaimana?

  • Sekarag Diklat gak menarik lagi?

  • Betul mengubah pola pikir bahwa belajar dan pelatihan harus di sebuah ruangan memang perlu waktu. Guru harus berubah.

  • Searching di Youtube. Pasti akan ada banyak ilmu yang bisa kita pelajari. Bahkan kita juga bisa memilih ilmu apa yang ingin dipelajari. Tinggal mau apa tidak untuk meningkatkan kompetensi.
    Betul gak Pak D?

  • Jaman sekarang untuk meng upgrade diri sudah sangat mudah ya
    Tinggal sering duduk di depan leptop
    Tapi ya tentu ilmu yang didapat harus diterpkan
    Tes tes

  • Guru belajar secara mandiri harus sabar dan semangat. Kadang mengendur.
    Semangat…..
    Terima kasih Pak D.

  • Betil Psk D..kita harus bisa belajar Mandiri. Ruang sudah di sediakan tinggal kemauan kita untuk membuka dan mempelajarinya. Jika hanya menunggu. Mka kita tak akan pernah tau dan bisa. Selamat belajar wahai sahabar guru dimanapun berada. Salam..

Comments are closed.