artikel

Langgam Mari Kangen

Dok. Pribadi

Sekitar dua tahun lalu, seorang teman seangkatan menikahkan puterinya. Setelah sibuk membantu hajatan, tiba hari “H” pernikahan. Saya yang sudah lama diminta untuk mewakilinya dalam sambutan, sudah menyiapkan diri.

Tidak ada hal khusus yang dipersiapkan. Hanya, karena besan sang teman adalah orang Jawa dari daerah transmigrasi, sedikit-sedikit disisipkan ‘tembung-tembung’ atau kata-kata berbahasa Jawa. Tidak lain untuk mengakrabkan dan menghidupkan suasana Jawa.

Saya yakin sebagian besar yang hadir tidak paham beberapa kosa kata yang kami ucapkan, wakil pihak besan maupun saya sebagai wakil tuan rumah atau pihak pengantin puteri.

Nah, baso Jawo ni aku dak terti.” (Nah, bahasa Jawa ini aku tidak paham)

Demikian celoteh sebagian tamu undangan. Namun, mereka mengikuti prosesi dengan tertib penuh penghormatan.

Dua hari berikutnya, pada hari Minggu, resepsi pernikahan digelar. Tempatnya di sebuah gedung pertemuan di Universitas PGRI Silampari, Lubuklinggau. Gedung aula yang terbilang megah di perguruan tinggi transformasi dari STKIP PGRI itu sering digunakan masyarakat untuk menyelenggarakan hajatan terutama pesta pernikahan.

Sayangnya, saya tidak bisa menghadiri. Satu teman akrab lainnya mengundang pada hari yang sama. Agar keduanya bisa dihadiri, maka saya memilih hadir pada acara akad nikah dan meminta izin menghadiri resepsi pernikahan anak sahabat saya yang satunya lagi.

Pada hari yang disepakati dengan pihak sang besan, kami mengantar pengantin untuk diunduh dan dirayakan pernikahan mereka di rumah keluarga pengantin laki-laki.

Setelah menempuh perjalan sekitar dua jam lebih sedikit, kami sampai di lokasi. Yang membikin takjub, ketika rombongan kami memasuki tarup perhelatan langkah kaki kami diiringi dengan sebuah alunan gamelan dengan ‘tembang’ yang tidak asing tetapi saya lupa judulnya.

Semakin keras mengingat, saya kehilangan memori. Setelah dipersilakan duduk oleh MC dan dihibur dengan gending-gending Jawa lainnya, saya meminta Google mencarikan judul dan lirik lagu yang mengiringi langkah kaki kami tadi.

Setelah meminta bantuan Google dengan cara mengetikkan penggalan lirik lagu yang saya dengar, memori pun seakan pulih. Dahulu, ketika SMP teman-teman perempuan pernah menari Gambyong dengan iringan lagu yang belakangan saya ketahui judulnya, Mari Kangen.

E jebul kae sing tak anti-anti wis tekan kene
Wis rada suwe babar pisan ora krungu kabare
Sajake rada lalen mung tansah dadi impen
Yen pinuju nggeget lathi eseme amerak ati

E mari kangen muga-muga tansah tegen
Atiku dadi tentrem amulat netra kang tajem
Mari kangen mulat sira netra tajem tyas jatmika.
(Ki Narto Sabdo, 1980)

Satu hal lagi yang membuat takjub adalah, grup karawitan yang menjadi hiburan serta pengiring acara resepsi itu baru berdiri delapan bulan. Luar biasa.

Setelah pulang dari hajatan, saya pun menggemari lagu karangan Ki Narto Sabdo itu. Gending lancaran dengan nada gembira itu menggambarkan hilang atau berhentinya rasa rindu pada seseorang (sahabat). Hilangnya rasa rindu karena yang ditunggu-tunggu sudah datang. 

Video YouTube dengan kata kunci mari kangen saya buka dan nikmati termasuk ‘balungan’ tabuhan saron, salah satu alat musik pada perangkat gamelan yang mengiringi lagu.

Oleh karena itu, ketika desa D. Tegalrejo mengadakan kegiatan sedekah bumi dan menanggap wayang, saya sebagai MC memberanikan diri meminta izin berlatih nembang lagu itu. Ki Dalang mengizinkan dan sejak saat itu sang dalang segera mengenali ketika saya menonton pertunjukannya.

Bulan Muharram tahun ini, banyak desa di Kabupaten Musi Rawas menanggap wayang ketika acara sedekah bumi dan bersih desa. Dalang yang tampil di desa saya cukup laris di bulan yang sepi hajatan pernikahan maupun khitanan. 

Ketika menghadiri pertunjukan wayang di desa yang kadesnya ‘Orang Ngapak’ saya diminta naik ke panggung dan kembali berlatih menyanyikan lagu “Mari Kangen”, lagu favorit untuk jenis Lancaran.

https://www.facebook.com/reel/912551993967938

Musi Rawas, 31 Juli 2024

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

One thought on “Langgam Mari Kangen

  • Keren

Comments are closed.