bahasa

Lingkaran Merah pada Tanggal 3 Syawal 1442 Hijriyah

Lebaran tahun ini, sama dengan lebaran tahun 2020 lalu. Kedua anakku, tidak ada yang pulang. Sulung dan adiknya tahun lalu tidak pulang karena “terjebak” pandemi. Bulan Maret, si Sulung mendapat pekerjaan baru di Jakarta. Namun, semenjak diumumkannya pademi Covid-19 dan diberlakukannya WFH, ia pun harus WFH, bekerja secara remote, bekerja di depan laptop.

“Ketimbang tinggal di Jakarta, toh bekerja juga dari rumah, saya pulang lagi ke Bandung aja ya, Yah?” pinta Sulung.

“Ya, nggak papa. Jika dengan begitu Mamas lebih nyaman. Jika ada sesuatunya bilang kepada kami,” jawabku mendukung niatnya.

Akhirnya ia pun kembali ke Bandung, kota yang telah ia diami sejak tahun 2011. Saat itu ia diterima sebagai mahasiswa UPI (Universitas Pendidikan Indonesia).

“Ayah, kuliah diliburkan. Bagaimana kalau Iwi pulang ke Purwokerto, tidak ke Sumatera? Soalnya, kalau di Purwokerto kan dekat kalau sewaktu-waktu harus masuk lagi?” pinta anak keduaku melalui pesan WhatsApp.

Ia memang mempunyai pilihan, pulang ke rumah orang tuanya di Sumatera atau ke Jawa Tengah, ke tempat adik ibunya. Rupanya ia memilih ke Jawa Tengah. Harapannya jika kuliah kembali tatap muka jarak pulang ke Bandung tidak terlalu jauh jika dibandingkan berangkat dari Musi Rawas, Sumatera Selatan.

“Jika pertimbangan Mbak seperti itu, ya nggak apa-apa. Boleh. Hati-hati di jalan. Jangan lupa, bantu Bulikmu jika ia mengalami kerepotan. Pekerjaan rumah tangga dikerjakan, jangan hanya belajar. Meskipun saudara, Mbak di sana menumpang,” kataku menasihati agar ia tahu diri.

Rupanya takdir berkata lain. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, penantian kuliah tatap muka tidak kunjung tiba bahkan ia harus melaksanakan PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) dan KKN (Kuliah Kerja Nyata) tematik Covid 19 secara daring.

***

Rasa rindu ingin bertemu pun hanya bisa hanya bisa ditahan. Beruntungnya, kecanggihan teknologi abad ke-21 mampu sedikit mengobati rasa rindu. Bergantian kami menelepon mereka. Rasa haru makin membiru ketika lebaran tiba. Tidak ada kebersamaan di hari lebaran sejak mereka kuliah sudah biasa kami jalani. Namun terpisah karena adanya pandemi, tidak urung membuat kami menjadi was-was.

Tahun ini lebaran kedua di masa pandemi. Memaksakan mudik pada situasi wabah Covid 19 yang belum berakhir ini, bagiku adalah berlebihan. Lagi pula sikap itu adalah sikap tidak menghormati upaya pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran virus mematikan itu.

***

Sore ini, langit gelap. Mendung cukup tebal menggelayut di langit kelabu.

“Ibu, Iwi tidak pulang ke Sumatera, ya. Mumpung belum ada aturan larangan mudik, Iwi pulang ke Purwokerto aja.” Sekilas kubaca pesan Siwi di WA.

Untunglah ia tidak memanggil dengan panggilan video. Cuaca hari ini sedang tidak bersahabat. Hari gelap, mendung tebal, dan angin bertiup dengan kencang. Bahkan, baru saja selesai membaca pesan tadi, tiba-tiba, “Duarrrr!”

Kilat menyambar diikuti suara guntur menggelegar. Segera sambungan alat elektronik yang menancap pada stop kontak aku cabuti. Tidak ketinggalan steker modem WiFi harus ikut dicabut.

“Akbar, tolong ayah cabut kabel WiFi. Jangan-jangan nanti ada petir lagi!” teriakku kepada Akbar.

Lelaki muda yang masih duduk di kelas delapan itu pun segera beranjak dan segera mencabut kabel modem yang masih tertancap. Hal ini harus aku lakukan untuk menjaga agar tidak terjadi hal-hal yang menimbulkan penyesalan.

***

Lima hari menjelang Idul Fitri, kami kehilangan salah seorang orang tua angkat. Ayah angkat yang sudah sakit tua sejak lima tahun lalu, malam Sabtu dipanggil Tuhan. Dua hari berturut-turut kami takziyah. Adat kebiasaan warga Kota Lubuklinggau jika ada yang meninggal adalah takziyah dengan membaca Surah Yasin dan tahlil serta memanjatkan doa bersama dipimpin seorang pemuka agama.

Pada hari Minggu, acara takziyah berakhir. Setelah dua hari yang cukup melelahkan itu berlalu, tiba saatnya kami bersiap-siap menyambut datangnya hari kemenangan.

“Yah, lebaran tanggal tiga belas,” kata Akbar. Kami yang baru datang dari kota langsung mendapat laporan dari anak bungsu kami itu.

“O, ya? Apakah sidang itsbat sudah selesai?” tanyaku sambil menutup pintu.

“Tuh, tadi menteri agama mengumumkan,” katanya lagi.

“Baguslah. Berarti lebaran tahun ini kita merayakan bersama-sama. Muhammadiyah dan pemerintah menggelar perayaan Idul Fitri bersama-sama,” kataku memberi penjelasan.

“Nah, uniknya lagi, di saat umat Muslim merayakan lebaran, umat nasrani juga merayakan Kenaikan Yesus Kristus, pada tanggal yang sama,” sambil mengeluarkan barang belanjaan, aku pun menambahkan penjelasan.

Rupanya bungsu sudah tidak terlalu tertarik dengan obrolan kami. Dua bungkus bakso segera kami buka dan nikmati bersama.

“Hmm, kayak nggak selera Mamas, nih?” tanyaku heran.

“Bukan nggak selera, kan baru saja makan. Buka tadi aku makan banyak,” tukas si Bungsu.

“Ha ha … o iya. Ya sudah, kita lanjutkan nanti sesudah tarawih, ya!” Usulku pun diterima.

***

Pada hari terakhir puasa, kakak bungsu sudah tidak ada kegiatan daring. Hari itu libur. Demikian pula kegiatan UKM-nya libur. Pada hari itu kami fokuskan untuk beres-beres rumah.

“Kamarmu diberesin, Mbak. Kalau nanti ada temanmu yang datang, meskipun tahun ini tidak ada acara kunjung-mengunjungi, masa ditolak? Nah, jika ia numpang masuk ke kamarmu, kamarmu sudah beres,” ibunya anak-anak berpesan kepada Anis, anak perempuan kedua kami.

Banyak sekali kertas berserakan bekas ia menulis dan mengitung-hitung rumus fisika dan matematika. Belum lagi benang nilon yang ia pakai untuk merajut tas, konektor masker, atau gantungan kunci. Gulungan maupun potongan benang berserakan di sana-sini. Waduh, orang bilang seperti kapal pecah.

Benang dan Hasil Rajutan Anis

Gadis berusia sembilan belas tahun itu pun sambil memonyongkan bibir ia ikuti perintah ibunya. Ibunya adalah wanita penyabar namun ia pantang memberi perintah hingga dua apalagi tiga kali. Oleh karena itu, anak gadis kami itu segera memberesi barang-barang miliknya.

“Nah, bagus juga kalau bersih begini, anak gadisku!” aku berdiri di tengah pintu kamarnya sambil memuji.

“Iyo … iyo …,” jawab Anis ketus dengan bahasa Melayu Musi Rawas.

“Ha ha ha …,” aku pun tertawa.

Mahasiswa yang belum mengenal kampusnya secara fisik itu pun hanya mencibirkan bibir karena tersindir.

Sementara itu, aku dibantu si bungsu beres-beres bagian ruang lainnya. “Kanjeng Mami” yang berangsur pulih dari sakitnya pun mulai disibukkan dengan ritual menjelang lebaran. Memasak dan mempersiapkan hidangan untuk esok hari. Sekedar menyesuaikan dengan tradisi.

***

“Tin … tin …,” dua kali bunyi klakson mengagetkan kami. Seorang pemuda berjaket merah dengan helm merah tertulis huruf logo sebuah perusahaan ekspedisi berhenti di depan rumah.

“Benar ini rumah Bapak Susanto?” tanyanya.

“Saya sendiri,” jawabku sambil mendekati pemuda itu.

“Ini pak, ada paket. Boleh tanda tangan di sini,” jawab kurir itu sambil meminta tanda tangan.

“Yak, terima kasih.” Sambil menerima bungkusan aku mengucapkan terima kasih.

Setelah membalas ucapanku, sang kurir pun segera ngacir, mengantarkan kiriman paket kepada pelanggan lainnya.

“Buku lagi?” tanya istriku.

“Bukan. Masa buku terus?” jawabku.

Ha ha ha …, sejak bulan Oktober tahun lalu, aku sering mendapat kiriman buku. Buku-buku antologi yang aku ikuti maupun buku-buku antologi dan buku tunggal karya teman-teman penulis. Apakah aku membeli? Sebagian iya, sebagian lagi, tidak. Buku-buku yang tidak kubeli adalah hadiah dari penulisnya. Ada namaku di bukunya sebagai editor. Meskipun belum profesional, kepercayaan teman-teman membuat namaku ada di dalam buku mereka.

Selain itu, sejak mengikuti grup menulis aku pun membeli beberapa buku dari narasumber. Buku UKTUB karya Bung Zainuddin, Buku Omjay, dan juga buku karya Pak Roma, narasumber kami yang berhasil menulis dan menerbitkan bukunya di Penerbit Andi, Yogyakarta.

Ada juga buku-buku kiriman sebagai hadiah. Buku hadiah dari Bu Ditta, Bu Musiin, Bu Aam, Ambu Tini, dan Bu Rofiana Jogja. Ada juga buku hadiah dari Penerbit Andi Yogyakarta melalui Omjay. Jadi, tidak heran jika si Ibu bertanya, “Apakah kiriman buku lagi?”

He he he … sebenarnya senang apa kesal sih dia nanya seperti itu? Aku yakin dan percaya diri saja bahwa si ibu senang. Paling-paling yang bikin kesal adalah buku yang berserakan ketika selesai kubaca tetapi lupa mengembalikan ke tempatnya.

Kembali ke paket kecil. Paket kecil berupa amplop hitam dari kurir tadi aku unboxing. Ternyata STNK motor. Aku baru teringat motor Verza yang dipakai sulung belum dibayar pajaknya.

***

Rabu petang, tanggal 12 Mei 2021 adalah hari terakhir berpuasa. Tahun ini puasa digenapkan tiga puluh hari. Dalam sidang itsbat, Menteri Agama RI metetapkan 1 Syawal jatuh pada hari Kamis, 13 Mei 2021 karena hilal masih empat derajat di bawah ufuk. Jadi, hilal belum kelihatan.

Setelah shalat Shubuh, kami pun bersiap-siap untuk pergi ke masjid. Berbeda dengan tahun lalu, tahun ini masjid dibuka dan dipakai sebagai tempat pelaksanaan salat Idul Fitri. Tentu dengan protokol kesehatan, di antaranya wajib memakai masker.

Para jamaah sudah banyak yang memadati bagian dalam masjid. Kami sudah tidak kebagian tempat. Akhirnya kami menggelar sajadah di halaman samping, tepatnya di jalan aspal samping kanan masjid. Dengan tetap memakai masker kami mengumandangkan kalimat takbir, tahlil, dan tahmid sebelum salat dimulai. Setelah khatib membacakan khutbahnya, kami pun pulang ke rumah masing-masing.

***

Hari pertama dan kedua lebaran, diwarnai dengan saling kunjung antartetangga. Suasana lebaran tahun ini agak lebih ramai dari pada tahun lalu, meskipun masih pada masa pandemi. Orang-orang tampaknya lebih “berani”. Sebagian besar dari mereka tidak memakai masker. Air cuci tangan yang tersedia di depan rumah pun tampaknya tidak terlalu banyak yang menggunakan.

Untunglah, seminggu lalu aku sudah menyiapkan handsanitizer, cairan pencuci tangan. Setelah bersalaman dengan tetangga, segera cairan itu aku semprotkan ke telapak tangan. Tetangga yang datang dan berkenan aku tawari agar menyemprotkan cairan pencuci tangan itu juga.

Suasana gembira dan akrab terpancar di wajah kami masing-masing. Anak-anak tetangga semakin gembira ketika mereka berpamitan mendapat uang saku. Selembar pecahan lima ribuan yang masih baru cukuplah menyenangkan hatinya. Jika ia dua puluh kali berkunjung dan setiap rumah memberi uang saku yang sama, lumayan juga. Sambil bergurau aku pesan, “Awas, jangan dibelikan petasan, ya!”

***

Hari ketiga lebaran aku merencanakan keluar rumah. Bukan ke tempat wisata. Hanya jalan-jalan saja. Namun pukul sembilan pagi, seorang sahabat datang ke rumah. Kunjungan balasan. Malam sebelumnya aku sudah mampir ke rumahnya. Tidak lama kemudian datang lagi seorang teman, teman kami! Obrolan pun makin seru. Setelah ngobrol berbagai hal dan mencicipi kue lebaran, mereka pun pamit pulang.

Baru saja aku mau masuk ke ruang tengah, tiba-tiba si Bungsu bertanya, “Ayah, kenapa tanggal hari ini dilingkari?”

“Apa ada acara?” sambungnya lagi.

“Tidak ada apa-apa,” jawabku sambil tersenyum.

“Kita akan pergi ke tempat seseorang, lalu kita akan jalan-jalan. Keliling ke desa-desa tetangga melihat suasana lebaran di masa pandemi di desa-desa tetangga kita. Ayo, siap-siap. Nanti keburu datag tamu lagi,” jawabku tanpa menjelaskan terlalu detail perihal tanggal hari ini yang aku beri lingkaran merah.

Setelah semuanya siap, kami berempat segera berangkat. Keluar dari gang, kami memasuki jalan provinsi. Jalan itu jalan poros yang menghubungkan kecamatan kami dengan kecamatan lainnya. Lalu lintas cukup lengang. Tidak banyak mobil maupun sepeda motor. Mungkin mereka sudah lebih dahulu keluar pagi tadi. Atau mereka belum banyak yang keluar menikmati liburan.

Setelah sepuluh kilometer perjalanan, mobil kubelokkan dan memasuki jalan kecil penghubung desa. “Masih di sini rupanya mereka,” gumamku melihat banyaknya kendaraan roda dua yang melintas.

Ramai sekali. Sesekali terdengar bunyi tuter meminta mendahului atau sekedar memberi peringatan kendaraan di depannya. Aku harus lebih berhati-hati berpapasan dengan mereka karena ada saja anak muda yang memacu motornya begitu kecang. Belum lagi kondisi jalan dengan lubang menganga yang cukup besar, membutuhkan kewaspadaan.

Jalan yang dibangun pemerintah kabupaten itu membelah sawah sehingga pemandangan di kanan kiri jalan itu sangat indah. Padi-padi yang sudah menguning siap dipanen jika lebaran usai. Tanaman pawalawija dan kebun pepaya kalina yang berderet, daun hijaunya menyejukkan mata. Sungguh perjalanan yang cukup menyenangkan.

 ***

Sumber: Pinterest

Sampai di sebuah warung mi ayam, aku hentikan kendaraan. Mi ayam di warung ini, meskipun berada di desa, rasanya enak. Ketika kami masuk ke warung, Mbak penjualnya menyambi menerima tamu. Ya, kan hari ini baru hari ketiga lebaran. Masih banyak tamu berdatangan. Tidak terkecuali rumah penjual mi ayam ini.

Sambil menikmati mi ayam, aku bercerita kepada si bungsu.

“Tahu kenapa tanggal ini ayah lingkari merah?” tanyaku.

“Iya, kan aku tadi nanya?” jawab bungsu.

“Hari ini, menurut tahun hijriyah, usia pernikahan ayah sama ibu sudah 28 tahun. Pada waktu itu, tanggal 3 Syawal 1414 Hijriyah bertepatan dengan 16 Maret 1994 ayah jadi pengantin dengan ibumu.” Aku menjelaskan.

“Hmm …,” jawab bungsu sambil memasukkan mi yang menyulur panjang ke mulutnya.

Setelah mi itu tertelan, ia menanggapi.

“Seharusnya kan baru 27 tahun?” tanya si Bungsu.

“Kok malah 28 tahun?” tanyanya heran.

Aku pura-pura tidak mendengar. Mi ayam jawa ini terasa nikmat sekali. Sayang ditinggalkan karena tinggal dua kali suapan mi dalam mangkok ini habis tanpa sisa.

“Kenapa?” Aku pura-pura tidak mendengar dan meminta ia mengulangi pertanyaannya.

“Maksud aku, kok bukan 27 tahun malah ayah mengatakan sudah 28 tahun. Kan tahun 1994?” Bungsu mengulangi pertanyaannya.

“Ya, betul. Menurut kalender Masehi, usia pernikahan kami adalah 27 tahun. Sekarang tahun 2021, kami menikah tahun 1994. Pada waktu itu, menurut kalender Hijriyah, kami menikah tanggal 3 Syawal 1414 Hijriyah. Tahun ini adalah tahun 1442 Hijriyah. Jadi benar ‘kan usia pernikahan kami sudah 28 tahun?” jawabku meyakinkan.

“Kok bisa begitu?” tanyanya lagi.

Aku pun menambahkan penjelasan, “Dalam satu tahun, jumlah hari di penanggalan Masehi adalah 365 hari atau 366 hari. Pada penanggalan Hijriyah, banyaknya hari adalah 354 atau 355 hari. Jadi, bedanya 11 hari. Satu tahun sebelas hari dalam kalender Hijriyah sama dengan satu tahun dalam kalender Masehi.”

“Sudah tahu tanggal hari ini diberi lingkaran merah?”

***

Musi Rawas, 3 Syawal 1442 H (15 Mei 2021)

Salam Blogger Sehat

PakDSus

 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

9 thoughts on “Lingkaran Merah pada Tanggal 3 Syawal 1442 Hijriyah

  • Mas akbar makan bakso ma mie ayam dalam serangkaian ini ya….heeee
    Ibuk..dikit bingit be ulasannya..heeee
    Trrus apa tugas babe waktu beres2?

    Siap dibukukan ni kayane…

  • Algamdulilah Pak D.. Luar biasa cerita yang begitu indah.. Yg menarik.. ” buku lagi yah? Hehe.. Hal yang sana yg saya dengar di rumahku..

  • Bisa dijadikan novel pak D. Tambahkan lgi ceritanya. Enak bacanya, bahasanya renyah.

  • Yang penting bukan cerita saru, he he he!

  • Banyak cerita, seru!

  • Ambu, hanya merekam dan membumbui dengan sedikit imajinasi.

  • Menarik sekali ceritanya, Pak D. Selamat hari pernikahan, semoga selalu sakinah mawadah warohmah. Salam untuk ibunya anak-anak..

  • Terima kasih banyak apresiasinya, Bu Kanjeng.

  • Hmm paket lengkap Pak D ..Saya ikut dalam suasana yang aneka rasa kehidupan yang melekat dalam aktivitas keseharian

Comments are closed.