artikel

Litak Karena Lupa

 

Satu lagi, setelah kanti pada tulisan sebelumnya adalah kosa kata kami sehari-hari di Musi Rawas, Sumatera Selatan (juga beberapa daerah seperti Sumbar dan Jambi) yang menjadi kata baku bahasa Indonesia, kata berikutnya adalah litak. Selama lebih kurang dua belas tahun (1993-2006), saya akrab sekali dengan kata tersebut.

Para kanti dan kerabat di dusun sering menyatakan letih, capai, atau lunglai dengan sebutan litak. Kata litak, ternyata sudah menjadi kata baku bahasa Indonesia dengan ditemukannya lema tersebut dalam KBBI Edisi V. Termasuk dalam kelas kata adverbia, yaitu kata yang menerangkan nomina atau pronomina.

Nomina, jika para pembaca lupa, dalam sebutan sehari-hari diartikan sebagai kata benda. Nomina adalah kelas kata yang dalam bahasa Indonesia yang ditandai oleh tidak dapatnya bergabung dengan kata tidak. Misalnya kata rumah. Kata ini tidak bisa disandingkan dengan kata tidak arena tidak ada bentuk tidak rumah. Dalam kalimat, nomina berfungsi sebagai subjek atau objek dari klausa

Sedangkan pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengganti orang atau benda. Misalnya aku, engkau, dia, mereka adalah contoh dari pronomina. Jadi jika kata “litak” disandingkan dengan pronomina, misalnya:

  • Aku litak.
  • Engkau litak belum?
  • Kelihatannya ia belum merasa litak.
  • Amir litak, Bu!
  • Kanti, aku litak nian.

Kalimat terakhir adalah kalimat yang biasa kami jumpai dalam percakapan bahasa daerah saya, terutama di tempat saya bertugas sebagai ASN di daeah Muratara (Musi Rawas Utara) dulu.

Dengan masuknya kata “kanti” dan “litak”, meskipun baru saya ketahui, menambah kemantapan saya untuk menggunakan keduanya dalam percakapan formal, baik lisan maupun tulisan. Demikian juga para pembaca, penutur asli bahasa Melayu maupun kanti-kanti dari seluruh Indonesia, dapat menggunakannya  tanpa rasa khawatir disalahkan karena mencampuradukkan bahasa baku bahasa Indonesia dengan bahasa daerah.

Ikut Pelatihan Menulis

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti pelatihan pada sebuah kelas menulis. Meskipun tidak besar uang kontribusinya, namun tetap saja namanya berbayar, alias tidak gratis. Setelah mendaftar dan menunggu beberapa bulan, akhirnya saya dimasukkan ke dalam kelas menulis tersebut. Narasumber pada pelatihan di grup KPPK Batch III adalah Mas Nanda Putra. Gambar profil WA-nya seperti di bawah ini.

Gambar Profil WA Nanda Putra (Dok. WA)

Materinya menarik, diawali dengan membaca modul yang berisi beberapa teori/teknis menulis, lalu dilanjutkan dengan praktek. Quote-nya yang melakat dalam ingatan adalah no praktek, no ngefek. Siapa saja yang mengumpulkan tugas sesuai waktu yang ditentukan mendapat predikat golongan 3, 2, 1. Tidak dijelaskan bagaimana pembagiannya, namun saya pikir itu didasarkan pada lamanya waktu mengumpulkan tugas. Terlambatnya mengumpulkan tugas mengakibatkan turun golongan.

O, ya! Satu hal lagi yang menarik adalah pelatihan itu tidak mengenal kata maaf dengan alasan apa pun. Mas narasumber  selalu memberi pesan dalam postingan WA-nya dengan sebaris frasa: “no excuse, ya”. Oleh karena itu saya pun berusaha untuk memenuhi tugas. Hingga akhirnya kami mendapat tugas cukup berat, yakni membuat ikhtisar berupa mind map tulisan yang akan dibuat menjadi ebook. Yang “mengerikan” adalah death line pengumpulan tugas pukul 23.00 setiap malam.

Akibat kurang teliti, saya pikir mengumpulkan tugas seperti biasa, pukul 06.00 keesokan harinya. Akhirnya, saya pun ditempatkan pada golongan 2.

No excuse, ya! Tidak ada alasan apa pun untuk tidak mengumpulkan tugas, terakhir kumpul tugas tiga lembar halaman A4 menggunakan  font Calibri margin normal, batas waktu pengumpulan jam 23.00 setiap harinya.

Resign

Pada awal April, ada niat akan melakukan perjalanan ke luar kota. Sementara, latihan dan tugas yang harus dikumpulkan pada pelatihan KPPK Batch III ini “no excuse“. Sebagai orang tua, saya menghubungi Mas Nanda tentang kepentingan saya itu dan meminta izin tidak melanjutkan.

 

Nah, bahasa seorang penulis santun, ya. “Siap pak, kalau gitu, saya izin antar pulang Pak D dari grup ya, pak. Sukses selalu, Pak D,” kalimat balasan yang santun dari seorang mentor menulis. Tidak lama kemudian saya pun di-remove dari grup. Tidak ada rasa kecewa atau sakit hati.

Bayangkan jika saya tidak berpamitan, meskipun “no excuse” dengan alasan apa pun, di-kick dari grup karena tidak mengumpulkan tugas, hmm … ada sesuatu yang bernanyi di dalam hati.

Sejak saat itu, setelah tugas ke-6 saya kumpulkan, praktis saya tidak mengikuti lagi modul maupun bentuk pelatihan lainnya karena sudah tidak menjadi anggota grup.

Tidak berapa lama, saya dimasukkan ke dalam grup yang ternyata isinya adalah para “alumnus” yang, karena sesuatu hal, tidak bisa melanjutkan kegiatan. Namun demikian, mereka yang masih aktif pada kelas menulis tetap mau dan ikut bergabung. Rupanya ada hal positif yang akan mereka, para peserta yang masih “sign in”, dapatkan. Dengan bergabung di grup baru, mereka bisa meminta review tulisan mereka dalam bentuk ebook kepada teman lain.

Saya masih pasif mengikuti dinamika para anggota. Lama-kelamaan saya pun berpikir, mengapa tidak menawarkan diri untuk membaca ebook mereka. Dengan demikian saya bisa mengintip bagaimana mereka menyelesaikan tugas yang separuh jalan saya ikuti. Selain itu, jika mereka berkenan, saya bisa ikut mengkritisi tulisan yang mereka buat. O, ya, satu lagi. Saya memiliki bacaan “gratis”.

Selamat dini hari. Ttd Pa D Sus. Ada yang berkenan saya ikut membaca e-booknya. Biar Bapa Tua ini ikut belajar.

Aku Litak karena Lupa

Setelah saya menulis komentar, tidak lama kemudian beberapa teman siap mengirimkan naskahnya. Akhirnya tidak kurang dari 11 naskah dikirimkan. Wow, bagus-bagus. Di antaranyany seumuran anak saya yang nomor dua. Bahasanya sesuai untuk kawula muda namun penguasaan PUEBI sudah bagus.

Satu demi satu saya baca di sela-sela kesibukan. Satu demi satu saya kembalikan. Baru sampai naskah kelima, ada beberapa kegiatan yang harus saya kerjakan. Selain itu, beberapa hari menjelang bulan Ramadhan tidak luput dari hal-hal yang harus dipersiapkan. Lalu mengapa subjudul di atas ‘Aku Litak karena Lupa’?

Litak sebagai suatu kondisi pasti ada penyebabnya. Jika subjudul di atas diterjemahkan apa adanya berdasarkan susunan kata yang membentuknya tentu frasa tersebut tidak benar. Hampir mustahil lupa menyebabkan litak atau lelah. Namun akibat lupa lalu ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan, sangat mungkin kita menjadi litak.

Naskah yang belum sempat dibaca masih enam buah. Pesan WA salah satu teman sudah mengingatkan. Ups, ini dia. Akibat beberapa kegiatan, saya hampir lupa. Akhirnya dalam dua hari saya kebut. Memang litaknya tidak seberapa, namun beban dan tanggung jawab yang harus saya selesaikan lumayan menguras tenaga dan pikiran.

Membaca ebook berisi tidak kurang dari 25 halaman tiap naskah dengan berusaha cermat memang cukup berat. Apalagi sebagian naskah berbentuk PDF. Saya harus membuat gambar tangkap layar lalu memindahkan ke file word dan memberikan komentar atau saran perbaikan jika ada kata atau tanda baca yang, menurut saya, keliru.

Satu per satu, naskah saya selesaikan. Akhirnya, tulisan #AprilChallenge pun memulur. Sesudah makan sahur hari pertama 1 Ramadhan, saya selesaikan naskah yang tersisa lalu menulis tantangan hari kedua belas. Terima kasih, teman-teman anggota KPPK Batch III, sebagian kepercayaan Anda membuka jalan saya untuk melanjutkan tulisan.

Terima kasih kepada pembaca yang berkenan berlama-lama menuntaskan tulisan.

Salam blogger sehat
PakDSus
https://blogsusanto.com/

 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

5 thoughts on “Litak Karena Lupa

  • Mantap Pak D.
    Hatur Nuhun Pisan. Sudah berbagi ilmu.
    Pak D , memang sosok Guru Teladan.
    Yang tiada henti Belajar dan Berbagi Ilmu.
    Luar Biasa.
    Salam Literasi.

  • Sedep bener Pak D…tau2nya udah diujung bacaan….salutlah !…tulisannya renyah…kalau lihat tulisan begini, saya merasa masih perlu belajar lagi…dan, berteman dan melirik tulisan Pak D….saya bergumam: “saya sedang berada diantara orang hebat di dunia tulis menulis”…..Keren !!

  • Keren… Master Susanto, trimks share ilmunya. Emak… baru tahu ada kata litak.Bahasa daerah yg sdh terkenal di daerahnya mantap…

  • Pelatihan ysng penuh komitmen. Btw Litak bahasa minangnya lapar Pak D

  • Litak, kenal kata tersebut dari tahun 1994 saat bertugas di SDN talang unggar muara Rupit. SD terpencil. Litak bhasa Rupit ygvarrinya lelah, capek. Alhamdulilah sudah dibakukan menjadi bahasa Indonesia. Semakin kaya kosakata nya

Comments are closed.