Memahami Deep Learning ala Kemendikdasmen dan Bedanya dengan Konsep Michael Fullan

Kemendikdasmen pada Januari 2025 meluncurkan Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam sebagai acuan baru bagi satuan pendidikan. Dokumen ini memperkenalkan konsep deep learning yang disesuaikan dengan konteks Indonesia, mulai dari profil lulusan yang ingin dibentuk hingga pengalaman belajar yang diharapkan dialami peserta didik.
Pembelajaran mendalam yang dirumuskan Kemendikdasmen memiliki karakteristik tersendiri. Meski menggunakan istilah yang sama dengan konsep yang dikembangkan oleh Michael Fullan, kerangka yang ditawarkan pemerintah Indonesia dirancang sesuai dengan kebutuhan, nilai, dan tujuan pendidikan nasional. Fokus utamanya bukan pada penerapan metode yang rumit, melainkan pada upaya menghadirkan pengalaman belajar yang benar-benar membekas, relevan, dan bermakna bagi siswa.
Delapan Dimensi Profil Lulusan
Salah satu perbedaan paling menonjol terletak pada profil lulusan yang menjadi tujuan pembelajaran. Jika Michael Fullan memperkenalkan enam kompetensi global atau 6C sebagai fondasi deep learning, Kemendikdasmen merumuskan delapan dimensi profil lulusan.
Delapan dimensi tersebut meliputi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.
Keberadaan dimensi keimanan dan ketakwaan menjadi pembeda yang cukup jelas. Unsur ini tidak ditemukan dalam kerangka Fullan. Hal tersebut menunjukkan bahwa konsep pembelajaran mendalam yang diadopsi Kemendikdasmen bukan sekadar mengambil teori yang berkembang di tingkat internasional, melainkan menyesuaikannya dengan karakter bangsa dan tujuan pendidikan nasional.
Delapan dimensi tersebut menjadi arah yang ingin dicapai melalui proses pembelajaran di sekolah. Guru tidak harus menghadirkan seluruh dimensi dalam setiap kegiatan belajar. Namun, setiap pembelajaran diharapkan memiliki tujuan yang jelas dalam membentuk kompetensi dan karakter peserta didik.
Dalam pelajaran fisika, misalnya, guru dapat mengembangkan penalaran kritis dan kolaborasi melalui kegiatan eksperimen. Pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, siswa dapat mengasah kemampuan komunikasi dan kemandirian melalui debat atau penulisan esai. Sementara itu, pembelajaran matematika dapat menjadi sarana untuk melatih kemampuan berpikir kritis sekaligus kerja sama dalam menyelesaikan proyek yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Tiga Prinsip Utama
Naskah akademik tersebut juga menegaskan tiga prinsip utama yang menjadi landasan pembelajaran mendalam, yaitu berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Prinsip berkesadaran menempatkan siswa sebagai pembelajar yang memahami tujuan belajarnya. Mereka tidak sekadar mengikuti instruksi guru, tetapi mengetahui alasan mengapa suatu materi perlu dipelajari dan bagaimana manfaatnya bagi diri mereka. Dalam praktiknya, guru dapat mengajak siswa mendiskusikan tujuan pembelajaran sebelum kegiatan dimulai atau memberikan ruang refleksi setelah pembelajaran selesai.
Prinsip bermakna menekankan keterhubungan antara pengetahuan yang dipelajari dengan kehidupan nyata. Siswa tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi didorong untuk menerapkannya dalam berbagai situasi yang mereka temui di lingkungan sekitar.
Sementara itu, prinsip menggembirakan berkaitan dengan terciptanya suasana belajar yang aman, nyaman, dan mendorong keberanian untuk mencoba. Dalam lingkungan seperti ini, siswa tidak takut melakukan kesalahan karena kesalahan dipandang sebagai bagian dari proses belajar. Kondisi tersebut memungkinkan peserta didik lebih aktif bereksplorasi dan memiliki motivasi belajar yang lebih kuat.
Dari Memahami hingga Merefleksikan
Selain merumuskan profil lulusan dan prinsip pembelajaran, Kemendikdasmen juga memperkenalkan kerangka pengalaman belajar yang terdiri atas tiga tahapan, yakni memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan.
Tahap memahami merupakan proses ketika siswa membangun pengetahuan melalui berbagai sumber belajar. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi, tetapi berperan sebagai fasilitator yang membantu peserta didik mengonstruksi pemahamannya.
Tahap berikutnya adalah mengaplikasikan. Pada tahap ini, siswa menerapkan pengetahuan yang telah dipelajari melalui berbagai aktivitas nyata, seperti proyek, pengamatan lapangan, eksperimen, atau pemecahan masalah yang dekat dengan kehidupan mereka.
Tahap terakhir adalah merefleksikan. Siswa diajak meninjau kembali pengalaman belajar yang telah dilalui, mengevaluasi proses yang terjadi, serta mengidentifikasi hal-hal yang perlu diperbaiki atau dikembangkan.
Naskah akademik memberikan contoh yang cukup konkret. Dalam pembelajaran IPA tentang ekosistem, siswa tidak hanya mempelajari rantai makanan melalui gambar atau buku teks. Mereka dapat membuat terrarium dari botol plastik bekas, mengamati kondisi ekosistem di lingkungan sekolah, kemudian menuliskan refleksi mengenai hasil pengamatan dan pengalaman belajar yang diperoleh.
Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran tidak berhenti pada penguasaan materi, tetapi berkembang menjadi pengalaman yang membantu siswa memahami hubungan antara pengetahuan dan kehidupan nyata.
Empat Pilar Pendukung
Kerangka pembelajaran mendalam yang disusun Kemendikdasmen juga didukung oleh empat pilar utama, yaitu praktik pedagogis yang autentik, lingkungan belajar yang fleksibel, pemanfaatan teknologi digital, dan kemitraan pembelajaran.
Kemitraan pembelajaran menjadi salah satu aspek yang menarik karena menempatkan orang tua, komunitas, dan berbagai pihak di luar sekolah sebagai bagian dari proses pendidikan. Dengan demikian, tanggung jawab pembelajaran tidak sepenuhnya berada di tangan guru, melainkan menjadi upaya bersama yang melibatkan berbagai unsur.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam tidak hanya berbicara tentang apa yang terjadi di dalam kelas, tetapi juga tentang bagaimana ekosistem pendidikan secara keseluruhan mendukung tumbuh kembang peserta didik.
Tantangan Implementasi
Tentu saja, sebuah dokumen kebijakan tidak akan mengubah praktik pembelajaran secara instan. Implementasi pembelajaran mendalam memerlukan pemahaman yang baik, dukungan sekolah, serta kesiapan guru dalam merancang pengalaman belajar yang lebih bermakna.
Meski demikian, konsep yang ditawarkan Kemendikdasmen memberikan arah yang cukup jelas. Guru didorong untuk tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga pada kualitas pengalaman belajar yang dialami siswa. Pertanyaan yang perlu terus dihadirkan dalam setiap perencanaan pembelajaran adalah apakah kegiatan yang dirancang mampu meninggalkan pemahaman, keterampilan, dan pengalaman yang akan diingat serta berguna bagi peserta didik di masa depan.
Di titik inilah pembelajaran mendalam menemukan maknanya: membantu siswa belajar dengan sadar, memahami dengan utuh, menerapkan dalam kehidupan nyata, dan tumbuh menjadi manusia yang siap menghadapi berbagai tantangan zaman.