artikel

Panduan Memahami Deep Learning Gagasan Fullan untuk Guru di Era Modern

Asian mother enjoy teach and explain homework to child daughter for online study during homeschooling at home, home quarantine, online learning new normal lifestyle (https://www.magnific.com/author/lifestylememory)

Bayangkan seorang siswa yang bisa menjelaskan perubahan iklim, lalu mengajak teman-temannya membuat kampanye daur ulang di sekolah. Itulah gambaran sederhana dari apa yang disebut Michael Fullan sebagai deep learning. Bukan siswa yang pintar menjawab soal, tapi siswa yang tahu apa yang harus dilakukan dengan pengetahuannya.

Deep learning atau pembelajaran mendalam bukan istilah baru dalam dunia pendidikan. Michael Fullan, bersama rekan-rekannya, menuangkan gagasan ini secara mendalam dalam buku Deep Learning: Engage the World Change the World sebagai respons atas sistem pendidikan yang dirasa terlalu sibuk mengukur hasil tapi lupa membentuk manusia. Dalam pandangan Fullan, deep learning adalah proses pembelajaran yang bermakna, relevan, dan mendorong siswa untuk bertindak nyata di dunia sekitar mereka.

Selama bertahun-tahun, banyak sistem pendidikan di berbagai negara membangun standar keberhasilan di atas angka ujian. Siswa berlomba menghafal, guru berlomba menuntaskan kurikulum, dan sekolah berlomba masuk peringkat. Hasilnya? Studi PISA dari OECD menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah siswa di banyak negara masih jauh dari memuaskan, bahkan di negara-negara yang nilai ujiannya tergolong tinggi.

Fullan melihat celah itu. Menurutnya, pendidikan yang hanya berfokus pada penguasaan konten ibarat mengajari anak berenang di darat. Terlihat terstruktur, terlihat berhasil, tapi begitu siswa menghadapi arus kehidupan nyata, mereka tidak tahu harus berbuat apa.

Pembelajaran mendalam hadir sebagai tawaran yang berbeda. Ia tidak menolak pengetahuan, justru menjadikan pengetahuan sebagai jembatan menuju tindakan. Siswa tidak hanya belajar apa, tapi juga mengapa dan bagaimana pengetahuan itu bisa membuat dunia menjadi sedikit lebih baik.

Mengenal 6C: Kompetensi Inti dalam Deep Learning Fullan

Salah satu kontribusi terbesar Fullan dalam diskusi pembelajaran mendalam adalah kerangka 6C, enam kompetensi yang ia yakini harus tumbuh dalam diri setiap siswa abad ke-21.

Character atau karakter adalah fondasi pertama. Ini bukan soal sopan santun semata, melainkan soal tanggung jawab, empati, dan integritas dalam menghadapi pilihan-pilihan sulit. Citizenship atau kewarganegaraan global mengajak siswa memahami bahwa mereka bukan hanya bagian dari satu desa atau satu negara, melainkan bagian dari ekosistem dunia yang saling terhubung.

Collaboration menekankan kemampuan bekerja bersama, bukan sekadar berkelompok lalu satu orang yang mengerjakan semuanya. Communication dimaknai lebih luas dari sekadar berbicara dengan jelas, yakni kemampuan menyampaikan ide dengan cara yang menggerakkan orang lain. Creativity mendorong siswa untuk tidak berhenti di solusi yang sudah ada, melainkan berani membayangkan yang belum pernah dicoba. Terakhir, Critical Thinking atau berpikir kritis, yakni kemampuan memilah informasi, mempertanyakan asumsi, dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang matang.

Keenam kompetensi ini tidak diajarkan satu per satu seperti mata pelajaran. Dalam pendekatan Fullan, 6C tumbuh melalui pengalaman belajar yang dirancang untuk bermakna, kontekstual, dan berdampak nyata.

Deep Learning di Kelas: Bisa Dimulai dari Mana?

Banyak guru yang pertama kali mendengar tentang pembelajaran mendalam langsung berpikir bahwa ini membutuhkan teknologi canggih, kurikulum baru, atau pelatihan bertahun-tahun. Fullan sendiri tidak pernah mengatakan itu.

Yang dibutuhkan, menurut Fullan, adalah pergeseran niat. Guru tidak lagi hanya bertanya “Apakah siswa saya sudah menguasai materi ini?” tapi mulai bertanya “Apakah siswa saya tahu bagaimana menggunakan pengetahuan ini untuk sesuatu yang berarti?”

Pergeseran itu bisa terlihat dalam hal-hal kecil. Saat guru matematika mengajak siswa menghitung anggaran untuk proyek nyata di sekolah. Saat guru bahasa Indonesia meminta siswa menulis surat kepada kepala desa tentang masalah sampah di lingkungan mereka. Saat guru IPA mengajak siswa merancang solusi sederhana untuk permasalahan air bersih di desa terdekat.

Fullan juga mengingatkan bahwa guru bukan satu-satunya agen perubahan. Sekolah, keluarga, dan komunitas adalah bagian dari ekosistem pembelajaran yang saling menopang.

Musi Rawas, 17 Juni 2026

Salam Guru Pembelajar

Sumber Bacaan: 49 Ide Deep Learning, Jangan Jadi Guru @janganjadiguru

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.