bahasa

Memaknai Sila Kedua Pancasila


Celebration vector created by freepik – www.freepik.com

 

Badan Pembinaan ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia menjelaskan bahwa Pancasila diperkenalkan pertama kali oleh Ir. Sukarno pada sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tanggal 1 Juni 1945. Di sidang tersebut, nama “Pancasila” diucapkan oleh Soekarno. Itulah sejarah tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila oleh Presiden Joko Widodo tahun 2016 dengan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016. Pada tulisan sebelumnya sudah dibahas sekelumit memaknai sila pertama, tulisan kali ini tentang memaknai sila kedua.

Tuhan menciptakan makhluk bernama manusia. Konon, makhluk ini adalah ciptaan-Nya yang memiliki derajat paling tinggi di antara yang lain. Pembeda terpentingnya adalah ia dilengkapi dengan akal, pikiran, perasaan, dan keyakinan untuk mempertinggi kualitas hidupnya di dunia. Dengan kata lain manusia merupakan makhluk yang berbudaya, bermoral, dan beragama.

Sebagai manusia, ia memiliki sisi kemanusiaan. Kemanusiaan secara harfiah berarti sifat-sifat manusia atau secara manusia/sebagai manusia. Sebagai manusia mereka memiliki jenis kelamin, warna kulit, agama/kepercayaan, derajat, hak asasi, dan kewajiban asasi yang melekat dalam diri pribadi. Selain itu, secara sosial, mereka memiliki suku, adat budaya sesuai suku atau kelompoknya.

Jadi, bagaimana makna sila kedua dasar negara yang menjadi pedoman hidup bangsa Indonesia? Tentu, bangsa kita yang majemuk ini mengakui dan memperlakukan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi. Oleh karena itu, tidak boleh membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.

Bangsa Indonesia adalah Bagian dari Bangsa Lain di Dunia

Oleh karena kita tidak membeda-bedakan maka akan tumbuh sikap saling mencintai, menghargai, tenggang rasa. Dengan demikian diharapkan tumbuh sikap tidak semena-mena terhadap orang lain. Ia akan ikut terusik manakala sesamanya mendapat perlakuan tidak semestinya. Mendukung saudara, tetangga, dan saudara sebangsa untuk membela kebenaran dan keadilan. Inilah yang dinamakan kegiatan kemanusiaan.

Sebagai bangsa, tentu tidak bisa lepas dari bangsa lain. Oleh karena itu, bangsa Indonesia tanpa memandang SARA, harus merasa dirinya sebagai bagian dari warga dunia. Sikap hormat-menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain tidak bisa tidak harus ditumbuhkembangkan.

Mengapa ketidakadilan masih saja ada?

Adanya kasus perundungan terhadap siswa di sekolah, kasus pesekusi, tidak menghormati orang tua, pelecehan, dan sebagainya menghiasi halaman media mainstream maupun media sosial. Ada apa ini? Katanya pengamalan Pancasila sila ke-2 harus diterapkan? Jangan-jangan hanya slogan saja?

Setiap kita bebas berkomentar jika ada pertanyaan seperti pertanyaan subjudul di atas. Boleh saja berkomentar bahwa selain diberi akal, manusia juga diberi nafsu dan nafsu ini mudah tergoda. Lagipula, selain manusia juga ada makhluk bernama iblis yang memang diciptakan untuk menggoda manusia agar senantiasa berjalan di jalan yang salah. Ha ha, silakan saja.

Anda juga boleh berkomentar bahwa hal itu terjadi akibat hukum di Indonesia masih bisa dipermainkan. Kekuatan harta dan “tahta dan pengaruhnya” bisa membuatnya terbebas dari jeratan hukum. Contohnya saat ditilang polisi, melanggar prokes pada masa pandemi sekarang ini, dan sebagainya.

Apa yang harus dilakukan? Begini, bangsa ini sesuai sila pertama adalah makhluk yang memercayai adanya Tuhan. Makhluk yang bertakwa kepada-Nya. Jadi, jadikan anak-anak Indonesia orang yang bertakwa. Yang mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya sesuai tuntunan agamanya masing-masing.

Sila kedua hanya memberikan tuntunan dan pedoman dalam pelaksanaan nilai-nilai kemanusiaan yang … pasti diajarkan oleh agama-agama yang ada di Indonesia. Jadi, perkuat pendidikan agama, bersikaplah sesuai tuntunan sila kedua, mudah-mudahan Indonesia akan tenteram dan damai.

Anda punya pendapat?

 

 

Salam Literasi, Salam Blogger Sehat,

PakDSus

#HariKesaktianPancasila, #AISEIWritingChallenge, #Juni2021Challenge, #SilaKeduaPancasila

Logo AISEI

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

5 thoughts on “Memaknai Sila Kedua Pancasila

  • Penutupnya mantabs, PakDe. Sepakat.

  • Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.

  • Pada prinsipnya manusia sudah memiliki dasar nurani di mana manusia tahu mana yang salah dan benar. Tentunya setiap kita melakukan kesalahan, atau berbuat tidak sesuai aturan, pastilah kita tahu dan menyadarinya, tetapi mengapa masih kita lakukan juga. Mungkin karena kita selalu dikuasai oleh nafsu syaitan yang selalu merayu dan mengajak ke jalannya. Kesadaran untuk berbuat sesuai dengan norma dan aturan dengan dilambari iman yang kuat akan menciptakan pengamalan yang sesungguhnya dari tujuan yang diamanatkan oleh Pancasila.

  • Aamiin.. dengan memahami isi dari sila kedua pancadika berharap kita bisa mewujutkan kehidupan yang adil dan beradab. Beradap deng tetao mengedeoankan akhlak dalam bertindak dan bersikap. Saling menghormati, menghargai dan tidak melanggar aturan-aturan yang ada. InsyaAllah hidup akan tentram dalam kemajemukan yang ada.

Comments are closed.