artikel

Belajar Menyetir, Analogi Praktik Menulis

Sale photo created by standret – www.freepik.com

Saya mulai belajar menyetir pada usia di atas empat puluh lima tahun. Anda yang beruntung, boleh jadiĀ  memulai belajar menyetir mobil pada usia dua puluhan. Mengapa saya belajar menyetir mobil pada usia di atas empat puluh lima tahun? Jawabnya mudah saja. Sejak usia dua puluh tiga tahun, saat pertama memegang SK pengangkatan menjadi guru, saya ditempatkan di daerah terpencil di tepian aliran sungai. Sungai Rawas adalah “jalan raya” bagi penduduk daerah kami.

Kendaraan yang lalu lalang di sungai itu adalah sampan atau biduk, perahu tempel (perahu diberi tambahan mesin tempel dengan PK kecil), sekoci (speedboat dengan mesin tempel 40 PK), getek (perahu berukuran sedang bermesin disel ukuran kecil), dan tongkang (perahu besar dengan mesin disel berukuran besar dan mampu mengangkut puluhan ton muatan).

Jalan darat nyaris tidak ada. Jika pun ada adalah jalan setapak yang membelah desa, dan jalan tanah dengan ukuran lebar tidak beraturan karena melewati hutan. Jalan itu menghubungkan desa kami dengan desa tetangga. Tidak ada mobil.

Setelah pindah dari sana pun, saya tidak memiliki mobil dan belum berminat belajar menyetir mobil. Namun demikian, seringnya naik mobil dan duduk di bangku samping sopir, saya sering mengamati lincah tangan dan kaki sopir mengendarai mobil yang saya tumpangi. Sedikit demi sedikit pun saya mengenal bagian-bagian yang diperlukan ketika mengendarai mobil. Pedal gas, pedal rem, pedal kopling, dan lain-lain. Tutorial menyetir mobil di Youtube pun acapkali saya tonton.

Hingga suatu hari, ada keinginan untuk mempraktikkan yang sudah saya amati dengan mobil yang sesungguhnya. Berbekal uang 900 ribu rupiah, saya mendaftarkan diri pada kursus menyetir mobil. Mahal, ya? Bila dibandingkan dengan kursus menyetir yang menjamur di daerah Jawa pada saat itu, biaya sembilan ratus ribu untuk kursus selama lima hari mungkin terhitung mahal.

Praktik Menyetir

Hari pertama belajar menyetir, saya diajak ke sebuah pelataran di depan gedung BNN (Badan Nasional Narkotika). Pelataran yang luas di dekat lapangan yang dikelilingi jalan beraspal cukup ideal untuk belajar menyetir mobil. Selama perjalanan, instruktur saya yang memegang setir banyak bercerita untuk mencairkan suasana dan membangun keakraban karena kami bakal bersama selama sepuluh jam terbagi dalam lima hari.

Sampai di lokasi, kami berganti posisi. Mas Instruktur memberikan tempatnya kepada saya dan ia duduk di jok sebelah saya. Sekilas mobil itu saya amati. Ada besi panjang yang disambung dan dilas pada pedal kopling dan pedal rem yang saya gunakan. Instruktur saya memiliki pedal yang juga saya miliki. Pedal kopling dan rem yang ia miliki untuk mengamankan jika saya melakukan kesalahan.

Hari pertama dua jam digunakan berlatih memantapkan laju kendaraan. Mobil keluaran di atas tahun 2000 ketika masuk gigi satu, tanpa menginjak pedal gas pun mobil sudah melaju. Perlahan-lahan saya diajari memindahkan ke gigi dua. Tanpa menginjak pedal gas mobil perlahan berjalan. Saya hanya memutar setir saja, meluruskan dan membelokkan laju mobil. Menjelang pulang, saya mulai diajari menginjak pedal rem dan memindahkan ke gigi tiga. Laju kendaraan semakin kencang.

Demikianlah, pelajaran semakin bertambah keterampilan yang diajarkan semakin bertambah. Pengetahuan yang pernah saya dapatkan melalui pengamatan dan menonton video, saya praktikkan di bawah bimbingan instruktur. Sang instruktur selalu memotivasi saya agar jangan ragu dan gugup. Tetap fokus dan tekun berlatih. Lima hari berlalu, meskipun belum banyak saya memiliki keterampilan menyetir mobil.

PraktikĀ Menulis

Agar semakin terampil, saya pun melanjutkan latihan menyetir pada hari-hari selanjutnya. Itu pun tidak sendirian. Saya meminta adik angkat saya untuk mendampingi. Bersamanya, saya makin tahu banyak hal yang harus saya lakukan.

Kisah saya menyetir di atas dapat dijadikan analogi ketika kita menulis. Ketika saya mengikuti pelatihan pada kelas menulis, para narasumber tidak memberikan teori atau penjelasan yang bersifat teknis tentang jenis-jenis tulisan dan sebagainya.Ā  Dorongan dari para narasumber untuk segera menulis saya jadikan motivasi untuk segera menulis.

Namun demikian, meskipun sedikit saya sudah memiliki pengetahuan, teori menulis. Tentang struktur kalimat, penggunaan tanda baca, huruf besar, dan beberapa aturan ejaan lainnya. Seperti menyetir, sebelumnya saya belajar teori meskipun melalui video dan pengamatan langsung. Saya tidak “ujug-ujug” memegang kunci mobil, menyalakan mesin, dan menginjak pedal gas hingga mobil berjalan. Teori selanjutnya tentang cara agar perpindahan gigi terasa halus, mengerem tidak mengejut, dan sebagainya saya pelajari didampingi adik saya.

Jadi, benarlah apa yang dikatakan sang Blantik Literasi bahwa menulis itu menyangkut teknik menyusun kalimat, menyusun kalimat yang terdiri dari subjek, predikat, objek dan seterusnya. Lalu cara mengembangkan paragraf serta teknik menulis berbagai jenis tulisan. Oleh karena itu, pengetahuan tentang teori menulis tidak boleh diabaikan. Sebab hakikatnya, siapa yang mau menafikan teori tidak diperlukan.

Meskipun begitu, praktik menulis itu wajib dilakukan. Terlalu lama belajar teori tanpa mempraktikkannya, tidak akan ada satu tulisan pun yang dibuat. Tulisan tidak semakin baik karena kurang praktik. Jadi, membuat artikel atau cerpen dan mempraktikannya sekali dua kali, mungkin masih jelek. Tetapi, kalau sudah 100 kali artikel atau cerpen yang dibuat pasti akan semakin bagus dan hasilnya makin baik.

 

Salam Literasi, Salam blogger sehat

PakDSus

 

 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

21 thoughts on “Belajar Menyetir, Analogi Praktik Menulis

  • Persis. He he, terima kasih ya, Bu!

  • Meski belum belajar nyetir, analogi bisa dipahami, harus tetap belajar teori dan perbanyak praktek untuk mahir menulis ya Pak D?

  • Jadi inget belajar mobil saat itu…
    Instruktur sigap dengan rem dan kopling yang tersambung dengan rem dan kompling pengemudi.

    Semoga cepat lancar belajr mobilnya Pak D

  • Mengemudi juga membutuhkan keterampilan, begitu juga dengan menulis. Seorang sopir belum tentu bisa menulis, tetapi seorang penulis mestinya bisa menyetir mobil. Kenapa? Sebab, dia ketika akan melalukan riset menulisnya, gampang saja tinggal bawa mobil, pergi ke tempat-tempat tertentu yang menjadi bahan tulisannya.

  • Betul pak D….. terutama harus paham pedal gas dan rim……jika salah injak tulisan menjadi momok….jika serasi wah langsem jalannya. Salam literasi pak Dh

  • Belajar teori dan praktik
    Terima kasih tulisan bergizinya Pak D

  • Betapa bahagia dikunjungi dan diberi komentar oleh sang Blnatik Literasi. Terima kasih, Pak Haji.

  • Yah, beda daerah beda “kemahalannya”.

  • Terima kasih, berkat suhu Emcho saya makin paham.

  • Salam Pak D.. Setuju.. TerUs belaJar menulis agar tulIsan kita semakin Meningkat.. Jangan takut gagal.. Terus mencoba perbaiki sedikit demi sedikit.. .

  • Analogi yang mantab dan cerdas. Pada sisi lain, ini tulisan yang bergizi. Siip

  • Luar biasa artikrl Pak D Susanto menganalogkan belajar menulis dengan belajar menyetir mobil. Sama-sama harus dilatih terus dengan paraktik bukan hanya teori saja. Semaki Mantab

Comments are closed.