artikel

Tinta Merah, Pelajaran Bahasa di Usia Senja

Gambar: Watercolour swatch isolated (freepik.com)

Sering kali kita menganggap tinta merah di lembar kerja sebagai vonis kegagalan, penanda bahwa tulisan kita jauh dari sempurna.

Namun, bagaimana jika coretan koreksi yang tajam itu justru merupakan wujud kasih, sebuah panggilan balik untuk menemukan kembali “jiwa” bahasa yang hilang?

Kali ini, kita akan menyelami sebuah kisah reflektif yang jujur dan menyentuh dari Telly D., seorang mantan pejabat yang selama tiga puluh lima tahun hidup nyaman dengan menyerahkan urusan kata kepada orang lain.

Melalui perjalanannya belajar menulis di usia senja, ia membuktikan bahwa proses belajar tidak pernah mengenal kata terlambat. Tinta merah yang menohok justru menjadi guru paling sabar yang menyembuhkan “kelumpuhan bahasa” dan membangun kembali daya pikir. Yuk, simak kisah selengkapnya yang dikutip dari Grup WA RVL (Rumah Virus Literasi).

Ketika Tinta Merah Menjadi Guru

Telly D

Saya masih ingat hari itu, ketika tulisan pertama saya dikembalikkan oleh guru saya.
Layar laptop menampilkan koreksi yang membuat saya terdiam lama: lembar-lembar yang penuh dengan jejak koreksi tinta merah. Setiap baris seperti luka kecil, setiap tanda koreksi seperti cermin yang memantulkan betapa saya masih jauh dari kata “bisa menulis.”

Tulisan itu, yang saya kira sudah cukup rapi, ternyata penuh salah. Tanda baca kacau, huruf besar dan kecil berkejaran tanpa aturan, kalimat berbelit seperti benang yang tak tahu ujung pangkalnya. Kata-kata yang saya gunakanpun banyak yang tidak baku seperti bahasa lisan yang tersesat di halaman tulisan.

Guru saya hanya menulis satu kalimat di bawah kertas penuh tinta merah itu:

“Mbakyu, tulisan punya jiwa, punya cara berbicara dengan benar. Teliti jika menulis.”

Kalimat itu menusuk lembut, tapi hangat. Tidak menghukum, hanya menyadarkan. Sejak saat itu, saya tahu: menulis bukan sekadar mengalirkan perasaan, tetapi juga belajar menghormati bahasa.

Tiga Puluh Lima Tahun Tanpa Menulis

Saya sadar, mungkin inilah akibat dari perjalanan panjang saya sebagai “seorang pejabat” (yang tak perlu saya sebutkan disini), selama tiga puluh lima tahun. Dalam dunia kerja itu saya dikelilingi oleh sekretaris yang menulis semua kebutuhan tulisan termasuk surat-surat penting, staf administrasi yang mengetik hasil keputusan, tim hukum yang memeriksa dampak kalimat, bahkan bagian keuangan yang menghitung biaya dari setiap surat yang saya tanda tangani.

Saya jarang menulis sendiri. Semua urusan bahasa sudah diurus oleh orang lain. Saya hanya membaca, dan memberi persetujuan, lalu menandatangani. Kata-kata tidak lagi saya rumuskan dari pikiran saya, melainkan datang kepada saya sebagai hasil kerja tim.

Tiga puluh lima tahun itu membuat saya lumpuh secara bahasa. Saya kehilangan rasa terhadap kalimat, kehilangan kecermatan pada kata, kehilangan kemampuan berpikir dalam bentuk tulisan.
Dan ketika akhirnya saya pensiun, saya baru sadar: saya tak lagi pandai menulis. Bahkan gagap mengetik sendiri.

Menulis dari Titik Nol

Pada usia enam puluh tahun saya mulai belajar menulis.
Itu bermula dari sebuah grup literasi, ketika saya membeli buku seorang penulis, yang kemudian menjadi guru saya. Dari percakapan kecil tentang buku itu, lahirlah pertemanan, persaudaraan dan kemudian bimbingan.

Guru saya meminta saya menulis. Saya menulis dengan rasa percaya diri seadanya. Tapi ketika tulisan pertama kembali, saya menatapnya dengan perasaan campur aduk: setiap paragraf penuh coretan merah.

Guru saya menulis:

“Mbakyu , Kalimatnya diteliti kembali sesuaikan ejaan dan kaidah bahasa”

Saya membaca kalimat itu berulang kali. Ada getir di sana, tapi juga kebenaran yang dalam. Saya memang sembrono terlalu lama menyerahkan urusan kata pada tangan orang lain. Kini saya harus belajar lagi dari awal, seperti anak sekolah yang baru mengenal huruf.

Suami saya, terlibat menurunkan buku-buku SMA dan SMP anak kami dari lemari tua. Debunya menebal seperti waktu yang lama tak tersentuh. Saya membaca ulang tentang tanda baca, kalimat efektif, imbuhan, dan ejaan.

Saya menulis ulang contoh-contoh kalimat, mencoba menata kata sesuai kaidah. Saya membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia setiap hari, mengecek arti dan bentuk baku dari kata-kata yang dulu terasa remeh.

Guru saya membimbing melalui WhatsApp. Ia menjelaskan teori dengan sabar:

“Koma itu napas kalimat, jangan sampai pembaca kehabisan napas.”
“Kata baku bukan sekadar aturan, tapi penghormatan terhadap pikiran yang jernih.”

Saya menulis, dikoreksi, menulis lagi. Setiap koreksi saya simpan rapi, bahkan hingga kini masih saya miliki sebagai dokumen perjalanan bukti bahwa saya memulai dari nol.

Tinta Merah yang Menyembuhkan

Teman saya, Sri Sugiastuti membantu dengan mengirimkan materi tentang ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, Saya membaca semuanya dengan sungguh-sungguh, seperti menebus masa lalu yang membuat saya kehilangan hubungan dengan bahasa.

Kini saya mengerti, koreksi tinta merah bukan tanda gagal, melainkan warna kasih seorang guru.
Setiap coretan adalah bentuk perhatian, setiap koreksi adalah doa agar saya tidak tersesat dalam kalimat.

Saya belajar melihat bahasa bukan sebagai alat formal, tetapi sebagai cermin jiwa. Setiap tanda baca yang benar membuat pikiran saya lebih teratur, setiap kata baku menuntun saya pada kejelasan berpikir.

Kini setiap kali menulis, saya seperti mendengar gema suara guru saya:

“Perhatikan kalimat Mbakyu . Jangan sembrono.”

Saya tersenyum setiap kali mengingatnya. Kata “sembrono” yang dulu menohok kini menjadi penanda kasih pengingat bahwa bahasa harus dilakukan dengan hormat.

Dari tulisan-tulisan yang pernah salah itu, saya menemukan kembali daya berpikir saya. Bahasa, yang dulu saya abaikan karena kesibukan jabatan, kini menjadi rumah baru yang saya bangun dengan hati-hati: satu koma, satu kata, satu kalimat dalam satu waktu.

Saya menghitung berapa kesalahan tanda baca, kesalahan ejaan, kata yang tidak baku jumlahnya semakin hari semakin berkurang

Menulis telah menyembuhkan saya dari kelumpuhan bahasa dan kebisuan pikiran.
Dan tinta merah yang dulu membuat saya takut, kini menjadi guru yang paling sabar mengajari saya untuk hidup kembali melalui kata-kata sendiri.

16.10.25

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.