Mengganti Lampu Sepeda Motor

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Aku bergegas mengajak ibunya anak-anak.
“Ayo, jadi tidak ke loket bus?” ajakku kepada istriku.
“Loh, bukannya Ayah yang belum siap? Aku sih sudah dari tadi. Situ, celana panjang saja belum dipakai,” jawabnya.
Ha ha ha … benar juga. Aku masih memakai celana pendek, meskipun baju kaos sudah aku kenakan dari tadi.
“Gampang, tinggal pakai, lalu caw!” Aku menjawab sambil menyarungkan celana panjang.
“Awas, jangan lupa resleting dikancing. Malu!” ingat istriku.
Ya, kebiasaanku memakai celana panjang adalah memasang kaitan dulu, resleting kemudian. Kadang, karena terburu-buru, resleting lupa dinaikkan.
Mengendarai motor matik, kami berboncengan menuju kota Lubuklinggau. Tujuan kami adalah loket bus Siliwangi Antarnusa atau SAN. Jaraknya tidak lebih dari lima belas kilometer dari rumah. Sebenanrnya, perusahaan otobus itu sudah menjual tiket secara daring. Namun, aku malas pasang aplikasi. Lagipula, pihak loket bisa membantu. Selain itu, sekalian cuci mata dan jalan-jalan sore ke kota.
Sebelum sampai ke loket, kami melewati bengkel resmi sepeda motor HONDA. Bengkel AHASS ini langganan kami. Ganti oli dan perawatan berkala kami percayakan kepadanya.
“Kita mampir dulu. Ganti lampu utama. Lampu pendek kita mati. Kalau malam hari menyilaukan kendaraan di depan yang berpapasan,” kataku kepada istri.
“Sudah sore, Yah!” kata istriku mengingatkan.
“Tenang saja. Kan cuma ganti lampu,” jawabku meyakinkan.
Sepeda motor kami parkir. Lalu, aku menemui Cici yang juga bertindak sebagai kasir.
“Ci, ini sudah sore. Bisa tidak kami ganti lampu. Lampu depan,” tanyaku.
“Iya, Pak. Aku tanya dulu sama mekanik, ya?” jawabnya sopan.
Terdengar suara agak ketus keluar dari mulut mekanik.
“Besok saja, sudah mau tutup. Sore!” Begitu ucapan sang mekanik. Ia berada di balik dinding.
Si Cici pun menemuiku. Dengan sopan ia mengatakan,” Pak, besok saja katanya. Sudah sore.”
“Hmm, Ci. Siapa nama mekanik kita itu? Su … su … siapa?” tanyaku kepada Cici.
“Suhadi,” jawabnya.
“O, iya. Dia itu wali murid kami, lo.”
“Iya, Pak?” tanya si Cici.
Mas Suhadi pun kelihatan. Segera aku memanggil.
“Mas, Mas Hadi!”
Sang mekanik menoleh dan segera mengenaliku.
“Piye, Pak? Sudah sore nih,” jawab sang mekanik. Kami sudah saling kenal.
“Heh, cuman ganti lampu. Ini hampir malam. Lampu pendekku mati,” jawabku dengan gaya khas merayu.
“Lah, ngopo sore nian. Bawa masuk!” jawab Mas Hadi. Logat Jawa bercampur Melayu-nya sangat khas.
“Lha, tadinya mau siang-siang. Tapi, ada kerjaan,” jawabku beralasan.
Mendengar percakapan kami, istriku kelihatan tidak enak hati. Sebab, waktu sudah menunjukkan pukul empat lewat. Waktunya sang mekanik bersiap-siap menutup toko dan pulang bseristirahat.
“Ayah ini, orang sudah mau pulang,” katanya dengan mimik merengut.
Aku tidak menggubris. Tidak sampai sepuluh menit, sepeda motor sudah diantar ke depan.
Aku membayar ke kasir.
“Tiga puluh ribu, Pak,” kata Cici memberitahu ongkos yang harus aku bayar.
“Makasih, Cik.”
“Iya, Pak. Sama-sama,” jawabnya.
Kepada Mas Hadi saya pun mengucapkan terima kasih.
“Mas Hadi! Makasih, Bos!” Tidak lupa memberinya senyuman.
Sepeda motor segera aku starter. Sambil berjalan, aku katakana kepada istriku.
“Nah, berbuah juga kan keihkalasan yang kita berikan kepada orang lain. Ingat tidak ketika orang mengetuk pintu jam sepuluh malam? Kita mau tidur, tetangga datang membeli pulsa listrik. Katanya alarm listriknya sudah berbunyi. Lalu, kita layani dia dengan baik. Ingat, ‘kan? Semoga masih ada sisa keihlasan yang bisa dibalas Tuhan di akhirat kelak,” kataku sambil sesekali menoleh ke belakang agar suaraku tidak melayang terhempas angin.
#KamisMenulis; #keihlasan

Musi Rawas, 7 Juli 2022
PakDSus
Wah pakD ..Nama Su memabg nama kembaran se dunia.
Hua ha ha … Su … anu?
Saya kira nama mekaniknya Pak Su….
Hihi
Ikhlas ‘kan berbuah manis tidak di dunia tp bs d akhirat.