Menjadi Koki
Mungkin karena maraton pergi-pulang sejak Jumat hingga Minggu malam, istri saya kecapaian. Hari ini ia jatuh sakit. Kondisi kesehatannya menurun, ada rasa sakit pada persendian di kaki. Kabar baiknya, ia merasa kurang enak badan pada hari Senin, dokter keluarga masih buka. Semoga setelah ia meminum obat dari dokter besok ia bisa pulih. Agak repot jika istri kurang sehat.
Kok, repot? Ha ha iya lah. Dengan begitu saya harus menggantikan tugasnya di ruangan rumah yang biasa ngebul. Apa itu? Apalagi kalau bukan dapur.
Ada anak perempuan, sudah dewasa, rupanya hari ini hari sibuk. Kegiatan daring perkuliahan dan kegiatan kemahasiswaan membuat saya agak sungkan meminta bantuannya. Bagaimana dengan bujang kecil yang kelas dua SMP? Nah, untungnya mau membantu.
Urusan bersih-bersih, cuci-mencuci, rasanya ringan, ya. Ada mesin cuci dan mesin penyedot air yang membantu meringankan pekerjaan. Hanya satu yang agak merepotkan: m-e-m-a-s-a-k.
Untung saya pernah menjadi anggota pramuka dan menjadi ‘anak kos’ maka urusan memasak bukan hal yang berat.

Dibantu lelaki kecil di rumah kami, saya membuat sop ayam. Lelaki kecil membantu mengiris-iris wortel, kentang, dan kubis. Ayahnya memotong sayap ayam menjadi tiga potong. Dengan dipotong menjadi tiga bagian, setengah kilo sayap ayam bisa menjadi banyak potongan.
Sambil membersihkan ayam, saya menjerang air. Maksudnya, setelah daging ayam selesai dibersihkan, air rebusan sudah mendidih dan ayam siap dimasukkan. Kata simbok dulu, jika memasak daging, usahakan air rebusan sudah mendidih, menggelegak. Dengan begitu aroma amis tidak tercium. Yang ada harum daging rebusan. Hmm ….
Sambil menunggu ayam melunak dalam rebusan air, saya bikin bumbunya. Beberapa siung bawang merah, tiga siung bawang putih, sahang alias merica, dan garam secukupnya segera saya haluskan. Setelah itu, bumbu pun saya masukkan. Sebenarnya mau saya tumis dulu, tetapi sudah telanjur. Setelah itu, sayuran dan kentang yang sudah dipotong-potong saya masukkan. Sesekali diaduk. Aha, hampir lupa memberi gula.
Merebus dan Menggoreng
Setiap hari, selalu saja ada jagung manis mentah. Istri saya suka sekali makan rebusan jagung. Biasanya jagung dipipil lalu direbus. Jagung pipilan yang sudah masak, biasanya kami blender lalu ditambahkan es batu. Jadilah jus jagung segar. Ingin tambah manis, tinggal tambahkan gula. Kali ini, jagung sebatang itu saya potong melintang menjadi beberapa potongan dan direbus begitu saja.
Selain jagung, bahan makanan yang hampir dipastikan setiap hari dibeli adalah tempe dan tahu. Kedua bahan makanan yang terbuat dari biji kedelai itu pun segera saya goreng. Tempe dan tahu goreng menjadi kudapan dan lauk makan. Sejauh ini, menu buka puasa kami adalah sop ayam dengan lauk tempe dan tahu goreng.
Sedang asyik memasak di dapur, pintu diketuk seseorang. Rupanya seorang tetangga menawarkan ikan nila. Katanya sekilo isinya empat. Ikan itu masih di rumah. Jika kami setuju maka ia akan menimbang dan membawa ke rumah.
“Beli!” teriak saya kepada istri.
Meskipun kurang enak badan, ia masih bisa berjalan-jalan. Rasa sakit yang menyebabkan istri tidak kuasa memasak di dapur.
Urusan masak sudah selesai, mestinya saya istirahat dulu sebentar. Masih satu lagi yang belum, menggoreng empek-empek atau pempek. Pempek rebus saya beli dari pedagang. Rencananya akan digoreng mendekati jam buka puasa. Karena jika digoreng digoreng sekarang, saat berbuka puasa empek-empek sudah dingin. Rasanya tidak sedap lagi.
Menumis Kepala Ikan Nila
Baru saja mau keluar dari dapur, e … ikan nila segar pun datang. Tidak empat, tetapi tiga ekor dalam satu kilo. Besar juga, pikir saya. Setelah saya siangi dan bersihkan, bagian badan hingga ekor saya potong menjadi beberapa potongan. Karena sudah ada lauk makan, ikan itu pun saya bagi dua dan dibungkus dala, dua plastik berbeda lalu saya simpan di dalam lemari pendingin.
Bagaimana dengan kepalanya? Setelah berpikir sebentar, kepala ikan itu saya putuskan untuk ditumis saja. Itulah proses memasak yang paling mudah, bagi laki-laki seperti saya yang bukan seorang chef.
Tiga siung bawang putih saya geprek. Empat siung bawang merah, sedikit merica, sedikit kunyit, sepotong jahe merah, dan tiga buah cabe merah besar saya giling. Garam kasar yang saya taburkan mempermudah saya menggiling bumbu itu menjadi halus. Bumbu dah siaaaaap!
Wajan kecil saya ambil, saya tuang minyak goreng secukupnya. Setelah minyak goreng panas, bumbu giling beserta bawang putih geprek tadi saya tumis.
“Sreng…!” bunyi minyak panas beradu dengan bumbu keras terdengar.
Tidak sampai hangus, kepala ikan nila sebanyak tiga buah itu saya masukkan. Bunyi mendesis pun segera muncul ketika kulit ikan menyentuh dinding wajan panas. Belum lagi aroma “harum” bumbu buatanku betul-betul sangat mengganggu. Menganggu perut yang keroncongan!
Tidak ada yang tidak berakhir. Termasuk kegiatan memasak sore ini. Sore yang melelahkan pun berakhir. Happy ending, bahkan. Menu yang direncanakan dan menu yang tiba-tiba terlintas di pikiran dapat diselesaikan dengan baik. Yang membahagiakan adalah sop ayam dan lauk dimakan oleh istri dan lelaki muda di rumah kami. Sementara anak perempuan diajak teman SMA-nya buka bersama.
Pembaca, saya bisa merasakan betapa bahagianya jika masakan kita dimakan dengan lahap oleh anggota keluarga. Sebaliknya sedih dan kesal, jika rasa capai menyiapkan makanan, ternyata mereka tidak menyentuh apalagi memakannya.
Penutup
Setelah membatalkan puasa dengan minum sirup dan memakan sepotong empek-empek, saya pun melaksanakan ibadah Maghrib. Biasanya, sesudah salat Maghrib, saya akan makan dengan lahap. Heran, nafsu makan saya seperti hilang. Perut terasa seperti kenyang.
Segera saya dekati istri yang sedang berbaring.
“Perut lapar, tapi nggak kepengin makan ya, Bu?” Saya pun mengeluh.
“Itu baru sehari, bayangkan jika tiap hari,” jawabnya pendek seolah mengejek.
Tanpa pikir panjang, saya pun segera memeluk sambil berbisik.
“Segera sembuh, besok aku bantu deh!”
Tugumulyo, Musi Rawas
PakDSus
Buat semua sahabat, terima kasih sudah mampir, ya!
Terima kasih juga buat doa-doanya.
Sehat selalu semua ya pak D. Semoga Allah sembuhkan semua.
Memeluk sambil berbisik, so sweet sekali…
Namun, kegiatan di dapurnya lebih so sweet lagi…
aiiih mau dipeluk juga jadinya…
Waduh, Pak D Sus memang multi talenta. Kalau saya lebih memilih beli lauk di luar, karena ga bisa masak. Heheh. Semoga istri Bapak cepat sembuh.
Hebat!, ayah yg serba bisa. Aku mau coba jus jagungnya, sampai saat ini belum pernah buat jus jagung.
Kurasa isterinya Pak D langsung sembuh deh, kan sudah dipeluk, he…he
Mantull chef dadakan. Moga segera sembuh istrinya pak D
Cie..cie…pelukannya itu obat mujarabnya Pak D… Dapat ilmu baru yang saya petik, masukkan ayam ketika air sudah mendifih untuk menghilangkan bau amis ayam ketika merebusnya..
Segitu repot nya…hebatlah..klo bpk nya ank² paling teriak ” beli aja deh..”
Seandainya semua bapak bisa merasakan repot nya di dapur setiap hari..mgkn tidak akan ada yg nama nya KDRT…kenapa biduk rumah tangga itu bisa oleng jika peran ibu di abaikan? Salah satu nya sudah bisa di rasakan…repot nya jadi koki…
Luar biasa Pak D suami siaga. Semoga istri segera sehat kembali dan bisa aktivitas sperti biasa. Aamiin..
Semoga segera pulih lagi istrinya pak D. Ternyata pintar juga urusan dapur ya. Benar juga pengalaman di pramuka membuat kita bisa survive dan cepat bisa mengatasi masalah yg dihadapi. Semangat pak D. Itu tidak nafsu makannya karena memang hati sedang gundah pak D. Biasa kan istri sakit, suami ikut gak enak body. Cepat sembuh ya istrinya.