bahasa

Pengalaman Pertama

Tiga hari yang lalu, tepatnya malam Jumat, 07 Mei 2021, ayah angkat meninggal dunia. Pada Hari Rabu sebelumnya, saya bersama istri berkunjung ke rumah beliau. Sudah menjadi kebiasaan, setiap awal puasa kami bersilaturahmi kepada mereka, keluarga ayah angkat kami. Namun pada bulan puasa tahun ini, baru sempat berkunjung pada sepuluh hari terakhir.

Di luar dugaan, hari Rabu sore itu menjadi pertemuan terakhir kami dengan ayah angkat kami. Penyakit tuanya yang menyerangnya sejak lima tahun lalu, akhirnya membawa beliau menghadap Tuhannya.

Ingatan pun melayang tahun 1993 ketika kami menginjakkan kaki pertama kali di Bumi Silampari, Musi Rawas, tepatnya di Kota Lubuklinggau. Kami adalah guru muda lulusan D2 PGSD FKIP UNS, Surakakrta. Kami adalah guru sekolah dasar dengan ijazah tertinggi pada waktu itu. Ya, fresh graduate.

Turun dari Bus ALS, kami dikumpulkan di Wisma Haji Kabupaten Musi Rawas di Taba Pingin. Ternyata di sana sudah ada teman-teman seangkatan yang berasal dari IKIP Padang. Kami pun bercengkerama sambil menunggu “nasib” kami selanjutnya. Ha ha … ya, kami kan hanya berbekal surat tugas. Surat keputusan atau SK belum kami pegang.

Hari berikutnya, setelah menerima beberapa petunjuk, kami pun dikumpulkan dalam satu ruang dan diberi pengarahan oleh bapak Bupati. Selanjutnya, kami menerima SK dan diberitahu bahwa akan djemput oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan atau oleh kepala sekolah masing-masing.

Hari-hari berikutnya, satu demi satu teman-teman dijemput oleh kepala sekolah tempat mereka akan ditempatkan. Penghuni wisma pun makin sedikit. Akhirnya tinggallah rombongan kami, para guru yang ditugaskan di Kecamatan Rawas Ilir.

Di tengah perasaan yang kian berkecamuk karena tidak kunjung ada yang menjemput, datanglah seorang bapak. Di dada sebelah kanan tertulis sebaris nama, Sucipto, B.A. Setelah berkenalan, kami tahu bahwa beliau adalah Kepala Cabang Dinas Pendidikan kami. Dengan ramah beliau menawarkan untuk berkumpul di rumahnya. Kami pun mengiyakan. Bergegas, kami pun berkemas dan segera meluncur ke kediaman beliau.

Menjadi Anak Angkat

Itulah awal mula saya bersama beberapa teman yang bertugas di kecamatan Rawas Ilir dekat dengan Bapak Sucipto, B.A. dan keluarganya. Bulan-bulan berikutnya, jika ada libur sekolah, ketimbang menginap di penginapan, saya diminta untuk tinggal di tempat beliau. Mula-mula canggung, namun lama-kelamaan kecanggungan itu sirna. Makan, minum, melakukan pekerjaan rumah, dan bercengkerama dengan ketiga anak beliau menjadi sangat biasa. Beberapa kali saya pun diajak ke desa tempat beliau berasal di daerah Tugumulyo (tempat tinggal saya sekarang).

Saya dikenalkan kepada saudara-saudara “ayah” sebagai anaknya. Saya pun segera menyesuaikan dan memelajari sedikit silsilah agar saya memanggil saudara dan kemenakan beliau dengan panggilan kekerabatan sebagaimana berlaku dalam adat Jawa. Ada yang harus saya panggil paman atau bibi (Paklik dan Bulik), ada juga yang harus kami panggil adik, meskipun mereka lebih tua hanya karena mereka anak dari adik ayah.

Memandikan Jenazah

Kabar duka ayah angkat meninggal saya terima Kamis malam. Adik menelepon dan memberi kabar. Setelah beristirahat sebentar, segera kami berdua berangkat ke rumah duka malam itu juga. Jaraknya lumayan, sekitar 20 kilometer dari rumah. Setelah hampir dua jam kami pun pamit pulang.

Keesokan harinya, adalah hari pemakaman. Kami pun kembali ke rumah duka. Pada pukul sembilan, secara tiba-tiba adik angkat menawari, tepatnya meminta, agar saya ikut memandikan jenazah. Tanpa bisa menolak, saya mengiyakan. Namun, saya pun meminta agar teman saya yang juga anak angkat beliau yang masih dalam perjalanan agar diikutkan.

Pada waktu yang ditentukan, setelah menanggalkan pakaian dan hanya mengenakan kain sarung dan berkaos oblong, kami berempat bersiap di tepi sumur. Saya, teman saya, cucu laki-laki ayah, dan anak laki-laki almarhum menerima dan memangku tubuh renta yang membujur kaku itu dengan posisi kaki berselonjor.

Selanjutnya, secara bergantian, ahli waris mengguyurkan air pemandian dari arah kepala hingga ujung kaki. Kami membantu menggosok-gosokkan badan yang ditutupi dengan kain batik panjang. Yang bertugas membersihkan najis yang masih menempel di badan adalah adik angkat, cucu, dan menantunya yang laki-laki.

Setelah itu, prosesi pemandian jenazah dilanjutkan oleh tokoh agama setempat. Sambil mengguyurkan air, sesekali memerintahkan kami agar terus menggosok dan membersihkan sela-sela badan hingga bersih.

Air bercampur kapur barus baunya menyengat. Namun bau itu mengelabui hidung agar tidak tercium bau mayat. Selain itu air yang bercampur sabun mandi pun diguyurkan hingga air dalam gentong habis. Terakhir, jenazah disiram dengan air bersih layaknya orang mandi. Setelah dirasa cukup, petugas mengambil handuk dan mengelap kering jenazah lalu menggantinya dengan kain batik panjang. Dengan dibantu para pelayat, jenazah pun diangkat.

Pengalaman Pertama

Setelah jenazah diangkat, kami yang bertindak sebagai alas jenazah segera berdiri dan menuju ke kamar mandi, membersihkan badan. Sungguh ini pengalaman pertama selama saya hidup. Memangku jenazah dan membantu memandikan jenazah. Bahkan jenazah orang tua sendiri tidak sempat ditemui karena jarak yang sangat jauh. Perjalanan dari kota Gombong ke Lubuklinggau bisa memakan waktu dua hari satu malam. Jadi tidak mungkin ketika mendengar kabar orang tua sendiri meninggal, dalam waktu singkat segera datang. Semoga allah SWT mengampuni saya.

Meskipun hanya orang tua angkat, orang lain yang diaku sebagai orang tua, beliau memperlakukan kami seperti anak sendiri. Rasanya adil, jika pada akhir hayatnya, kami berbakti, meskipun hanya dalam bentuk memandikan jasad beliau untuk yang terakhir kali.

Saya dan Wartono (tanda panah kuning), anak yang memandikan jenazah ayah angkat.

 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

3 thoughts on “Pengalaman Pertama

  • Ya..
    Allah lapangkan kubur Bapak kami….tempatkan di tempat yg layak di sisiMu ya Allah..
    Mas Antok anak yg berbakti….buat saya berkaca2

  • Innalilahi wainailaihi rojiun smg husnul khotimah dan anak Shalih sll berbakti ketika hidup, ketika meninggal dan sll mendoakan setelah meninggal.

    Anak shalih yg Sll mendoakan org tua harapan org tua. Slmt telah berbakti

  • Semoga mbah husnul khotimah di akhirnya.. sy jg Belum pernah dhe memandikan jenazah..waktu. Sulung sy berpulang..ayahnya dan karib kerabat yg memandikan..waktu bapak dan adik sy berpulang..sy justru tidak bisa datang karena jarak yg jauh..hidup adalah pejalanan.. kita sedang menunggu giliran..

Comments are closed.