artikel

Menjadi Pengajar Praktik Pendidikan Guru Penggerak Kabupaten Musi Rawas Angkatan 9 (Bagian 3)

Pada formulir Google yang dibagikan Bu Rina, Fasilitator PGPA9 Musi Rawas dan Musi Rawas Utara untuk kelas 09.31 BGPSUMSEL ada kolom isian akun Facebook. Penasaran, saya pun membuka laman Facebook bu Fasil. Wow, luar biasa. Tanpa pikir panjang segera ajukan pertemanan dengan Guru SMA Negeri 2 OKU ini.

Setelah berteman, barangkali teman yang kelima ribu sekian, saya menemukan banyak hal yang menginspirasi. Anda tahu, bahwa guru yang sangat baik adalah yang mampu menginspirasi rekan guru lainnya, umumnya juga orang-orang di sekitarnya. Unggahan atau postingannya di FB banyak memberikan informasi dan pengetahuan.

Aneka informasi sangat membantu teman-teman FB-nya yang mungkin ‘tidak punya waktu’ mencari sumber informasi. Misalnya pengumuman webinar, kursus, atu lomba-lomba tertentu.

Dokumentasi dan proses pendokumentasian yang diunggah dapat menjadi sumber belajar. Belajar itu kan tidak hanya mendapat pengetahuan dari seorang secara oral? Tulisan dan tayangan gambar serta video adalah media pembelajaran yang baik.

Awalnya meniru. Ketika sudah mampu, hal yang ditiru dimodifikasi, dikreasikan sesuai kemampuan. Bukankah setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda? Demikian pula , minat yang beragam, dan gaya belajar yang tidak sama? Bu Rani paham betul tentang ini sehingga postingannya di FB seolah memfasilitasi ‘teman-temannya’ yang beragam.

Dalam postingan-postingan bu Fasil banyak terdapat tulisan yang setelah selesai, pada bagian bawah terdapat tanda pagar (tagar) atau hastag. Di antaranya tanda pagar #30HariBerkarya, #menulismenebarkebaikan, #semuabisamenulis, dan sebagainya.

Keren, fasilitatorku ternyata hobi menulis dan aku selalu kagum dengan para penulis, siapa pun itu.

Bahkan, ketika saya berselancar pada postingan-postingan terdahulu, ternyata ada buku yang sudah beliau terbitan. Keren, buku solo pula!

Gambar Tangkap Layar Gramedia Digital, Buku Bu Rani Nawang Sari (Sumber: https://ebooks.gramedia.com/)

Saya memiliki blog sejak 2009 karena coba-coba dan ikut-ikutan. Isi blog pun masih copas. Selanjutnya berusaha mengisi blog dengan konten tulisan sendiri. Pengetahuan tentang blog masih sangat minim. Oleh karena, meskipun sudah tua saya berusah belajar. Meskipun sekarang belum ahli, namun setidaknya sudah ada keberanian berbagi, meskipun video sederhana cara membuat blog sederhana pada blogger dot com.

https://www.melintas.id/video/detail/189/membuat-blog-di-blogger-com-bagian-1-membuat-blog

https://www.melintas.id/video/detail/188/membuat-blog-di-blogger-com-bagian-2-memilih-tema

https://www.melintas.id/video/detail/186/membuat-blog-di-blogger-com-bagian-3-membuat-postingan

Pada waktu pandemi, ketika WfH, konten blog terus ditambah. Saya belajar menulis. Menulis apa yang saya alami dan hal-hal yang saya kuasai. Lalu, ada tawaran ikut kelas belajar menulis melalui WA. Resume pelatihan menulis diunggah di blog. Tulisan-tulisan resume materi dikumpulkan minimal 20 judul.

Kompilasi rangkuman materi pelatihan dirangkai sedemikian rupa dan menjilidnya menjadi buku. Selanjutnya, belajar menulis buku antologi.

Penggiat literasi mengajak anggota grup menulis tema-tema tertentu. Saya pun ikut, agar memiliki buku antologi sambil menikmati tulisan rekan-rekan lain dalam buku antologi itu.

Lahirlah beberapa buku antologi selama mengikuti komunitas Belajar Menulis Nusantara. Meskipun sederhana, muncul rasa senang jika memiliki karya bersama yang dibukukan.

Oleh karena itu, ketika melihat teman memiliki buku solo, duh, saya jadi iri. Dari tantangan menulis kelas berbayar dan juga tulisan yang diunggah di blog, Ibu Kanjeng Sri Sugiastuti menyarankan agar dibukukan menjadi buku memoar. Saya pun dikirimi contoh buku memoar.

Selama satu bulan bersama Bang Tebe, kelas menulis berbayar, saya harus menyetor tulisan setidaknya 3 halaman kuarto. Setelah bersusah payah, akhirnya kumpulan tulisan itu saya himpun dan menjadi buku memoar. Sekadar menjadi benda koleksi. Selebihnya untuk hadiah dan kenang-kenangan teman sejawat.

Selanjutnya, ada keinginan membukukan cerita-cerita atau fiksi mini yang bertebaran di Kompasiana dan blog ini. Yah, hanya kisah sederhana, kisah tentang anak-anak sekolah bersama gurunya. Namun, itu semua masih tahap rencana karena sejatinya masih menunggu proyek antologi cerita anak bersama AISEI yang kabarnya sudah berproses dan memasuki tahap akhir.

Karena saya lupa, cerita apa saja yang diikutkan dalam antologi bersama AISEI, saya khawatir ada beberapa cerpen anak yang diikutkan dalam proyek antologi bersama AISEI itu ikut masuk dalam rencana buku tunggal ketiga.

Ketika mengulik FB bu Fasil saya mendapati beliau sudah menulis buku, saya bertambah kagum. Andai uang saya lebihnya banyak, saya selalu ingin membeli karya teman-teman itu. Sebab, salah satu bukti bahwa kita peduli dengan teman dan menghargai karyanya, ya dengan membeli bukunya.

Sebab, sahabat tidak selalu meminta rabat. Teman tidak selalu meminta potongan, apalagi meminta gratis, bukan? Membeli dengan harga pasar tentu lebih baik dan itulah bentuk apresiasi tertinggi kepada kanti.

Ketika mendampingi Calon Guru Penggerak yang sekarang sudah menjadi Guru Penggerak Angkatan 5, saya mengajak beberapa orang yang berkenan untuk menuliskan kisahnya mengikuti Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 5 sebagai angkatan pertama di Musi Rawas.

Sebagian naskah sudah fix, namun selebihnya masih harus disunting agar menjadi bacaan yang renyah. Semoga sebelum hari Sumpah Pemuda Tahun 2023, buku itu bisa diterbitkan dan menjadi kenangan indah dan menjadi legasi bagi penulisnya.

Semoga, di bawah bimbingan Fasilitator yang juga penulis, teman-teman CGP Angkatan 9 termotivasi untuk ikutan meninggalkan jejak digital maupun jejak fisik berupa buku antologi atau buku tunggal. Amin.

Musi Rawas, 19 Agustus 2023
Salam Blogger Sehat,
PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.