Menulis Kata Sapaan dan Kata Acuan

Hari ini saya membaca artikel dalam bentuk feature. Penulis mengungkapkan pengalaman perjalannnya dalam gaya tutur bercerita dengan sudut pandang orang pertama. Penuis menggunakan kata ganti orang pertama, saya.
Pada akhir tulisan sebelum paragraf penutup, saya membaca selarik kalimat sebagai berikut.
Akhirnya kunjungan selesai, beliau dan keluarga mengantar Saya ramai-ramai kembali ke hotel di mana Saya menginap.
Kata “saya” ditulis dua kali pada bagian tengah kalimat dengan huruf kapital. Tidak hanya pada artikel tersebut, ketika saya menguji baca naskah buku seorang teman, saya pun menemukan hal tersebut. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah penggunaan huruf kapital pada penulisan kata tersebut dibenarkan. Jika benar, apa alasannya. Jika tidak benar, apa pula alasannya.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita perlu mencermati kembali kata ganti, kata sapaan, dan kata acuan dalam bahasa Indonesia.
Kata Ganti, Kata Sapaan, dan Kata Acuan
Sebagaimana kita ketahui, kata ganti orang merupakan kata yang berfungsi untuk menggantikan orang dalam sebuah teks atau wacana. Ada kata ganti orang pertama tunggal (saya, aku) dan jamak (kami, kita). Kata ganti orang kedua tunggal (kamu, engkua, Anda) dan jamak (kalian, kamu sekalian). Kata ganti orang ketiga tunggal (dia, ia, beliau) dan jamak (mereka).
Dalam teks atau wacana, kata ganti orang atau pronomina persona, digunakan untuk menyapa atau memanggil kawan bicara atau mitra tutur ketika bercakap-cakap. Kata ini dinamakan kata sapaan. Kata sapaan biasanya berkaitan dengan kesantunan bahasa danya perbedaan (usia, jabatan, kedudukan, status sosial).
Misalnya, seorang guru menyuruh murid bernama Simon untuk mengambil sesuatu.
Simon, tolong ambil buku yang di atas meja itu!
Simon adalah kata sapaan berbentuk nama diri.
Adanya hubungan kekerabatan: ayah, ibu, bibi, paman, uak, eyang, kakek, nenek, opa, oma, mbak, uda, dan sebagainya menyebabkan seseorang menyapa dengan kata-kata tersebut.
Ayah belum berangkat?
Mbak, bus jurusan Medan sudah berangkat?
Ada pula sapaan karena adanya hubungan khusus, misalnya: tuan, nyonya, nona, sayang.
Sayang, jam sebelas tolong telepen aku, ya!
Tuan, silakan menunggu di sebelah sana!
Selain digunakan sebagai kata sapaan, kata ganti kerap dipakai dalam teks sebagai kata acuan. Kata acuan adalah kata yang digunakan untuk menyebut orang yang dirujuk dalam suatu tuturan, baik lisan maupun tulis.
Contoh kalimatnya sebagai berikut.
Kemarin saya meminta Toni menulis surat izin.
Minggu depan ayah akan berangkat ke Jakarta.
Kata acuan adalah kata sapaan yang digunakan untuk menyapa langsung kawan bicara atau sifatnya hanya memberitahukan. Dalam tulisan kata tersebut tidak ditulis degan huruf besar kecuali ia berada pada awal kalimat.
Nah, kembali ke kalaimat yang saya cuplik di atas, kesimpulannya bagaimana?
Akhirnya kunjungan selesai, beliau dan keluarga mengantar Saya ramai-ramai kembali ke hotel di mana Saya menginap.
Kata “saya” yang ditulis dengan huruf kapital pada kalimat di atas penulisannya tidak benar. Yang benar ditulis dengan huruf kecil semua.
Akhirnya kunjungan selesai, beliau dan keluarga mengantar saya ramai-ramai kembali ke hotel di mana saya menginap.
Ketika kalimat itu saya kirimkan ke grup dan meminta komentar dari teman-teman, ternyata mereka sepaham bahwa kata saya harus ditulis dengan huruf kecil.



Musi Rawas, 4 November 2021
Saya semakin kagum dengan Pak D
Terima kasih pak, jadi bahan referensi
Mantap Pak D Sus, menambah pengetahuan, tks.
Tetimakasih Pak D… Ilmunya. Hehe .sudah sering Pak D ingatkn namun karena apa diri ini kadang jg msh salah.hehe
dari percakapan WA saja bisa jadi satu tulisan ya Pak D. Kereen
Mantab ilmunya pak D
Mantap, Pak D..