artikel

Sapi Berkeliaran di Lingkungan Sekolah

Dok. Pribadi

Gambar di atas saya ambil pada tahun 1994. Saat itu, saya bertugas bersama seorang gadis bernama Sri Rejeki. Guru gadis itu terlihat tertangkap kamera sedang berjalan ke arah hilir. Kami berdua berangkat dari Surakarta, Jawa Tengah, menjadi tenaga pengajar muda di SD Negeri 1 Batu Kucing. Batu Kucing adalah sebuah desa terpencil di Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Musi Rawas (sekarang Musi Rawas Utara).

Jika difoto dari kejauhan, gedung sekolah itu tidak memiliki “kandang”. Kandang dalam bahasa Melayu Rawas adalah pagar. Jadi, sekolah kami tampak terbuka. Apa pun makhluk hidup dapat masuk ke sana. Jika kami pulang sekolah, kambing, sapi, dan kerbau sepertinya senang merumput dan bermain di sekitar gedung sekolah kami. Tidak jarang meninggalkan oleh-oleh beberapa tumpuk pupuk kandang. Wow!

Sampai sekarang, sekolah itu belum juga memiliki pagar keliling yang melindungi gedung. Oleh karena itu, kejadian yang saya alami selama dua belas tahun bertugas di sana (1993 – 2006), masih terjadi. Ya, sapi masih suka berteduh di depan gedung setelah kenyang makan rumput yang tumbuh subur di sana.

Apakah benar, dan apakah ada buktinya? Jangan-jangan saya dianggap ngota alias omong kosong, kata orang Lubuklinggau. Atau saya dianggap hanya mbudi alias menipu, memberi berita bohong, kata orang-orang Batu Kucing sana.

Baiklah, lelaki muda siswa kelas enam pada foto yang saya lingkari dengan warna kuning di atas adalah Sopyan, panggilannya Pyan. Mereka berfoto dengan saya, guru kelasnya dan kepala sekolah. Gedung sekolah sebagai latar pada saat itu belum direhab.

Sapi Masih Bisa Masuk ke Lingkungan Sekolah

Pada suatu kesempatan, saya mendapat kiriman foto di Facebook. Setelah saya amati, ternyata si Pyan dengan anak gadisnya. Mereka berfoto di gedung sekolah yang sama, namun tampilan sekolah sudah jauh lebih bagus daripada ketika ia masih di kelas enam dahulu. Berikut fotonya.

Sopyan (Foto: FB)

Saya takjub melihat gedung dan cat sekolah itu. Ingatan saya pun melayang pada kenangan yang terekam pada foto paling atas. Termasuk dudukan tiang bendera yang terlihat masih berada pada tempat yang dahulu. Andai saja sapi tidak menghalangi, saya akan tahu apakah gundukan semen ketiga masih ada, seperti bentuk semula.

Nah, Sapi. Ya, sapi. Mengapa mereka masih bebas keluar masuk lingkungan sekolah? Bahkan ada yang berteduh di bawah atap persis seperti yang dilakukan generasi pendahulunya ketika saya masih di sana?

Si sapi tidak bersalah meskipun perbuatannya salah, he he he. Selain karena ia adalah binatang, juga karena gedung sekolah tidak memiliki ‘kandang’ atau pagar keliling. Pagar keliling diperlukan untuk melindungi privasi sebuah gedung lembaga pendidikan agar sapi dan binatang ternak lainnya tidak bebas berkeliaran.

Namun tidak mudah untuk mewujudkan pagar keliling sekolah. Panjang pagar keliling sekolah lebih dai 180 meter tentu memakan biaya yang sangat besar. Semoga menjadi pemikiran seluruh pemangku kepentingan.

Biru kancing baju lebaran,
Hilang dua jadi ledekan,
Batu Kucing dusun kenangan,
Melajang hingga tiga momongan.

Musi Rawas, 4 November 2021

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

10 thoughts on “Sapi Berkeliaran di Lingkungan Sekolah

  • Foto-foto yang mengekalkan kenangan Pak D. Termasuk si sapi. Masih eksis hingga kini. Semoga segera terwujud kandangnya.

  • Lengalaman di sekolah sy juga, bukan sapi tp kerbau.. alasannya krn bnyk rumput. Tp ketika sudah ditanami palawija alhamdulillah kerbaunya jd sungkan hahaha..

  • Untung sapinya gak disrampang dua belas. Semoga kandang lekas terwujud.

  • MasyaAllah … Murit Pak D sudah punya anak gadis artinya pak sudah menjadi kakek. Hehe.. tapi madih kliatan Muda dan bersemangat.

  • Terima kasih, teman-teman. Kunjungan Anda menambah semangat untuk menulis.

  • Sekolah yang ramah lingkungan. Hehe. . sekalian jadi pupuk kotorannya ya Pak D. Hehe

  • Terharu saat membaca paragraf tentang Pyan..
    Foto pertama dan foto kedua menangkap kenangan berupa ingatan yang sangat berharga bagi penulis. Dimulai saat Pyan kelas 6, sampai Pyan memiliki anak yang mungkin sekarang kelas 6.
    Sehat terus Pak D…

  • Unforgetable experience. Keren, pak D. Mudah-mudahan sapi mempunyai tempat belajarnya sendiri. Semoga pemangku jabatan segera menindaklanjuti dan masyarakat sekitar bisa mengambil bagian dalam penyelesaian masalah ini.

  • Rizky Kurnia Rahman

    Itu mungkin masih mending. Di Bombana sini, malah sapi dan anjing bisa masuk, tetapi bukan di sekolah. Malah masuknya di rumah sakit. Kan mengerikan. Ada sih pagarnya, tetapi dijebol juga.

  • Pengalaman yang sama pernah saya alami. Tetapi alhamdulillah sekolah tempat saya mengajar sekarang jauh lebih tertata. Dulu kambing senang di dalam kelas, sekarang setelah seluruh lingkungan di benteng, murid saya yang nggak betah, ada saja siswa yang loncat benteng.

Comments are closed.