Menyeberang dengan Tenang
“Halo, Ayah berangkat kapan?” Sulung bertanya. Ia menanyakan kembali perihal keberangkatan kami ke Sukabumi.
“Tanggal 26 Desember, tengah hari kami berangkat,” jawab saya.
Hubungan telepon dihentikan. Selanjutnya saling berkirim kabar melalui kolom percakapan WA.
Wajar saja ia menanyakan kembali. Sebab, saya memberitahu kepadanya bahwa kegiatan ayahnya maksimal tanggal 24 Desember. Satu hari sebelum teman-teman nasrani merayakan Natal. Sedangkan tanggal tiga puluh paling lambat saya harus sampai di Desa Bang Bayang, Kecamatan Cicurug, tepatnya di Perumahan Cicatih. Sebab, keesokan harinya saya harus mendampingi si Sulung menggenapkan agamanya dengan melakukan akad nikah. Aha, akad nikah! Peristiwa yang kami, tepatnya ibunya, tunggu-tunggu! Maklum, sebayanya sebagian besar sudah menikah. Bahkan, sebayanya yang perempuan sudah banyak yang memiliki anak dan rata-rata usia anaknya adalah usia sedang lucu-lucunya.
Akan tetapi, sebelum berangkat saya mendapat banyak kabar. Kabar itu berupa tulisan maupun video di media sosial yang mengatakan bahwa cuaca pada akhir tahun cukup ekstrem. Ada sedikit was-was. Rasa khawatir tentu ada. Kabar mobil yang terjun bebas ke laut tidak luput dari pantauan. Namun demikian, sebagai makhluk Tuhan, kami terus berdoa agar perjalanan kami dari rumah hingga ke tanah Jawa selamat. Pun kami terhindar dari musibah.
Setelah menempuh perjalanan setidaknya 18 jam, kendaraan sahabat yang mengantar kami, merapat ke pintu masuk Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Menjelang waktu subuh, kendaraan pun perlahan naik ke atas kapal melalui pintu rampa yang disediakan. Para pertugas sibuk mengatur dan memandu kendaraan agar parkir dengan rapi. Tidak lupa mereka mengingatkan untuk mengunci dan mematikan mesin serta keluar dari kendaraan.
Selanjutnya, melalui tangga yang ada, para penumpang naik menuju dek penumpang. Ada yang memilih di dek terbuka. Saya dan rombongan memilih ruang penumpang yang tertutup karena di luar angin laut yang bertiup terasa menusuk tulang. Brrr … dingin minta ampun. Meskipun di dalam ruangan memiliki alat pendingin (AC) suhu dingin ruangan masih dapat saya tahan.
Satu setengah jam perjalanan di laut kami lalui. Matahari merangkak naik, menerangi laut yang terhampar luas. Angin yang bertiup terasa sejuk, tidak lagi terasa dingin menusuk. Perlahan daratan Merak makin jelas terlihat. Setelah menunggu sebentar, kapal ferry tumpangan kami pun merapat. Petugas mempersilakan para sopir kendaraan melajukan kendaraannya keluar kapal.
Perlahan Keluar dari Kapal
Tidak ada tuter yang bersahutan. Semua mobil ‘kecil’ berurutan keluar kapal dengan tertib. Para petugas terlihat puas meskipun wajah capek tidak bisa mereka sembunyikan. Kami pun mengucapkan terima kasih. Ucapan kami dibalasnya dengan anggukan dan balas mengucapkan terima kasih kembali. Hubungan relasi kami adalah penyedia dan pengguna jasa. Namun, sebagai manusia, tata krama akan menempatkan masing-masing sebagai manusia yang ternilai baik. Terima kasih para awak kapal!
Setelah transit di Kota Serang satu malam, keesokan harinya kami pun melanjutkan perjalanan. Jalan raya dan jalan tol terlihat ramai lancar. Aplikasi peta Google tidak memberi sinyal adanya warna merah tanda adanya kelambatan. Yang terlihat warna hijau dan beberapa ruas terlihat warna oranye. Setelah puas menyusuri jalan tol, kami pun keluar di pintu tol Cigombong. Nah, degub jantung dimulai dari sini.
Kendaraan besar pengangkut galon-galon berisi air siap minum melintas. Galon-galon air itu milik salah satu perusahaan air kemasan terkenal di Indonesia. Pabriknya tidak jauh dari situ. Belum lagi tidak terhitung kendaraan sedang dan kecil yang memadati jalan raya yang tidak terlalu lebar. Tak ayal, laju kendaraan pun di bawah 10 kilometer per jam. Macet! Kabarnya, inilah pemandangan sehari-hari selama 24 jam di Jalan Raya Siliwangi, jalur Sukabumi-Bogor, tepatnya di Kampung Bangkongreang, Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Jarak ke tempat tujuan masih 2,5 kilometer, namun hampir satu jam kami baru bisa keluar dari himpitan kendaraan yang tidak kunjung habis.

Kami pun lega bahwa kami dapat sampai ke tujuan di Blok D Perumahan Cicatih dengan selamat. Sulung menyambut dengan sukacita. Demikian pula kami serombongan menunjukkan mimik penuh kelegaan. Tidak henti kami mengucap syukur karena ombak berdebur yang menakutkan sebagaimana tergambar di media sosial tidak kami temui.

Peringatan BMKG
Agar masyarakat semakin waspada, BMKG merilis peringatan dini cuaca. Dikatakannya, kondisi cuaca yang dinamis di seluruh Indonesia berpotensi besar meningkatkan curah hujan di berbagai wilayah dalam sepekan mendatang. Monsun Asia telah menunjukkan aktivitas yang luar biasa dalam beberapa hari terakhir. Keadaan ini dibarengi dengan fenomena cold calling yang sangat meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah barat tengah dan selatan Indonesia.
Pusat tekanan rendah sedang dipantau di Australia utara, arus siklon di Laut Cina Selatan dan Filipina selatan membentuk zona konvergensi panjang di Laut Cina Selatan dan Laut Sulu. Zona konvergensi lainnya terbentang dari Aceh sampai Sumatera Utara Bengkulu dari Sumatera Selatan sampai Laut Jawa Barat Banten sampai Jawa Barat Jawa Tengah sampai Jawa Timur Kalimantan Selat Makassar Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Laut Aravuru sampai Papua dan daerah pertemuan Laut Banda dan Laut Aravuru. Kondisi ini meningkatkan peluang terjadinya awan hujan di sekitar pusat sirkulasi tekanan rendah/siklon dan di sepanjang zona konvergensi/pertemuan.
Aktivitas gelombang atmosfer masih menunjukkan kondisi penting peningkatan pertumbuhan awan hujan dan potensi cuaca buruk pada minggu mendatang. Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) terjadi bersamaan dengan gelombang tropis Kelvin dan Rossby. Kondisi tersebut menyebabkan terbentuknya beberapa zona konvergensi dan konvergensi longitudinal di Indonesia. Zona tersebut membentang mulai dari Samudera Hindia barat, Bengkulu, Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Kalimantan Timur, Mumpur Makassar dan Sulawesi Selatan.
Sahabat yang berada pada wilayah-wilayah yang disebut BMKG (Balai Meteorologi Klimatologi Geofisika) semoga makin waspada. Pesan beberapa kawan, hingga akhir tahun dan awal tahun lebih baik di rumah saja.
Kembali Menyeberang
Pasangan pergi adalah kembali. Setelah satu minggu di tanah Jawa, kami harus kembali. Tanggal 31 Desember adalah puncak acara kami di Kabupaten Sukabumi. Oleh karena itu, setelah berpamitan dengan tuan rumah, tanggal satu Januari kami harus kembali. Lebih kurang pukul 14.00 WIB, kendaraan kami merayap meninggalkan Desa Bangbayang, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Kami menyusuri Jalan Siliwangi, Jalan Raya Bogor – Sukabumi. Jalan yang hampir tidak pernah sepi, pada siang itu terlihat lengang. Mungkin efek tahun baru, 1 Januari 2023.
Pemandangan yang berbeda ketika kami datang lima hari lalu. Pada saat itu, kendaraan merayap. Bahkan, beberapa menit terhenti sama sekali. Hanya kendaraan roda dua dan kendaraan angkutan penumpang umum berwarna hijau tua yang berani menerobos, berjalan zig zag menembus kemacetan. Alih-alih menghindari kemacetan, kedua jenis kendaraan itu bahkan menambah parah.
Karena cukup lengang, akhirnya hanya beberapa menit saja kami memasuki pintu Tol Cigombong. Plong!
Lebih kurang tiga jam, kami sampai di Serang. Rumah adik saya menjadi tujuan. Sama seperti ketika pergi, kami transit di rumah yang ditempati adik ipar sebagai kantor Lembaga Bantuan Hukum. Ya, adik iparku kini meniti karier sebagai seorang pengacara.
Sedianya kami akan langsung berangkat menyeberang. Hanya butuh waktu satu jam untuk sampai ke Pelabuhan Penyeberangan Merak, Banten. Namun, lagi-lagi peringatan BMKG menjadi alasan adik untuk menahan kami semalam lagi. Keesokan hari, setelah mandi dan sarapan pagi, kami berangkat menuju pulau Sumatera.
Tiba di area pasar, kami mendapat kabar bahwa kapal ekspres yang menjadi pilihan ternyata baru ada pada pukul 12.00 WIB. Oleh karena itu, kami membeli tiket kapal feri reguler. Ketimbang menunggu di Merak, lebih baik berangsur-angsur menyeberang. Begitulah saya membatin. Namun, apa lacur. Kapal reguler yang kami tumpangi, menurut saya melaju normal. Akan tetapi, sungguh lama sekali merapat ke dermaga. Waktu pun sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB. Kami masih mengapung menunggu antrean. Huh, andai saja tadi membeli tiket kapal ekspres, kami pasti menunggu di ruang tunggu yang sangat nyaman dan kapal ekspres yang berangkat pukul 12.00 akan merapat pukul 13.30 WIB di dermaga eksekutif.
Sama-sama menunggu. Hanya saja kami menunggu di laut, sedangkan apabila naik kapal feri ekspres kami menunggu di ruang tunggu yang relatif mewah. Tidak perlu disesali, toh tetap sama-sama mendarat di dermaga pada pukul 13.30 WIB.
Satu hal yang membuat kami lega dan bersyukur, cuaca ekstrem yang dikhawatirkan, tidak terjadi. Riak ombak mengalun tenang. Tidak ada rasa ketar-ketir. Kami menyeberang tanpa rasa khawatir. Ombak tidak mengganas, kami menyeberang tanpa was-was.
Musi Rawas, 4 Januari 2023
PakDSus
Bacaan: –https://web.meteo.bmkg.go.id/id/peringatan/cuaca-ekstrem–
Amin, semoga semua rencana berjalan baik dan urusan lancar
Selamat menyambut hari bahagia mengantarkan putranya membangun keluarga yang penuh rohmah.. aamiin..
kalau gak penting bener, lebih baik di rumah aja, hehehe
Hati2 di jalan Pak D