
Napak Tilas
Hal yang sangat membahagiakan pada bulan Juni tahun 2021 ini adalah berkesempatan napak tilas dan berkunjung kembali ke desa Batu Kucing. Desa ini adalah ladang pengabdian sekaligus tempat pertama saya bekerja sebagai pegawai negeri sipil.
Sekitar bulan Juni 2006, saya meninggalkan desa Batu Kucing untuk melanjutkan pengabdian di desa lain. Dengan demikian, sudah lima belas tahun saya tidak mengunjungi desa itu.
Sebelumnya, lebih kurang dua belas tahun saya bersama teman-teman guru terpencil mengajar di desa itu. Sekolah Dasar Negeri 1 Batu Kucing adalah salah satu SD dari dua sekolah dasar negeri yang dibangun pemerintah di desa yang letaknya sangat jauh dari pusat pemerintahan.
Ikut Menjadi Saksi
Bukan tanpa sebab, saya bersama istri dan anak bungsu mengunjungi desa yang dulu terpencil itu. Satu di antara ratusan alumni SDN 1 Batu Kucing menjadi manajer Yayasan Assanadiyah Batu Kucing berhasil mendirikan Pondok Pesantren dan membuka madrasah tsanawiyah serta aliyah di desa kelahirannya.

Suskito Marzuki, M.Pd. adalah satu di antara putera terbaik desa Batu Kucing, alumni SDN 1 Batu Kucing, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Musi Rawas Utara. Penggagas Program Kaderisasi Ulama dan Sarjana Pondok Pesantren Assanadiyah Desa Batu Kucing itu berhasil mendatangkan gubernur Sumatera Selatan.
Gubernur bersama jajaran pemerintahan Provinsi Sumatera Selatan, hadir menumpang helikopter. Didampingi Wakil Bupati Musi Rawas Utara, Ustadz H.A. Inayatullah beserta jajaran pemerintahan Kabupaten Musi Rawas Utara, Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru berkenan memberikan sambutan dan meresmikan Program Kaderisasi Ulama dan Sarjana Pondok Pesantren Assanadiyah Batu Kucing.


Gubernur Pertama yang Berkunjung di Desa Batu Kucing
Haji Herman Deru, adalah gubernur pertama yang berkenan menapakkan kaki di Batu Kucing, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Musi Rawas Utara. Desa di kabupaten pemekaran yang sebelumnya adalah wilayah kabupaten Musi Rawas itu belum pernah dikunjungi oleh pemimpin pemerintahan setingkat gubernur. Oleh karena itu, saya merasa sebagai bagian dari penduduk Batu Kucing dan pernah menjadi salah satu pendidik di desa itu ikut merasa bangga.
Sebagai ungkapan rasa banga dan syukur, Suskito Marzuki menuliskan kesannya di dinding Facebook miliknya:
Alhamdulillah, sejarah itu terukir.
Batu Kucing dikunjungi oleh Gubernur Sumatera Selatan, Bapak H. Herman Deru.
Kedatangan beliau menggunakan Hellikopter dalam rangka meresmikan Program Kaderisasi Ulama dan Sarjana Pondok Pesantren Assanadiyah Batu Kucing.
Pak Herman Deru merupakan Gubernur pertama yang menapakkan kaki ke desa Batu Kucing. Untuk mengenang peristiwa inj, akan dibangun Tugu Tapak Kaki H. Herman Deru.
Beliau juga mengunjungi Asrama pondok, yang merupakan rumah BATUAH milik alm. Puyang Marsup bin Puyang abd Wahab bin Moneng Abu Bakar bin Moneng Depati Miji ( Moneng panjang).
Becakap, belegek-legek, sambil santuy, renyah humoris dan penuh keakraban.
Atas nama pribadi, keluarga dan pondok pesantren Assanadiyah mengucapkan terima kasih atas doa dan dukungan serta mohon maaf atas sgl kekurangab dan khilaf.
By. Alfakir. Soeskito Marzuki Rawas .
Selain flyer undangan seperti gambar di atas, saya pun diundang secara pribadi untuk ikut menyaksikan acara tersebut. Berkat doanya, saya bisa sampai di desa yang dulu hanya bisa dilewati dengan kendaraan air dari Kota Rupit, ibukota Kabupaten Musi Rawas Utara.
Setelahnya, secara khusus ia pun memberikan pesan melalui WhatsApp kepada kami.

Rasa bahagia tiada terperi, melihat salah satu anak didik berhasil dan memiliki semangat membangun pendidikan generasi muda di desanya.
Rasa lelah menempuh perjalanan jauh melaui jalan tanah liat yang sebagian licin diguyur hujan, terobati sudah. Selesai acara, kami pun mohon diri. Kami takut jika hari hujan. Jalan tanah merah yang menanjak dan menurun dengan lekukan roda truk pengangkut minyak sawit amat menakutkan jika tersiram air hujan. Lengket sekaligus licin.

Sedikit Kenangan
Foto di bawah ini adalah foto tahun 1995 (sekitar April atau Mei), ketika anak pertama saya berumur empat atau lima bulan. Pada saat itu, banjir tahunan melanda. Halaman rumah terendam. Untuk mobilitas di dusun, kami berperahu. Bagian bawah rumah panggung itu adalah tempat kami tinggal.

Pada tanggal 28 Juni 2021 saya berkesempatan datang ke dusun, tempat tinggal saya 27 tahun yang lalu masih sama dengan cat yang sama. Namun, rumah itu kini telah kosong. Saya tidak bisa bertemua dengan kakak angkat pemilik rumah itu. Bisa dibayangkan ‘kan, berapa dalam air yang menggenang dengan membandingkan foto di bawah ini dengan foto sebelumnya.

Salam blogger sehat
Hi there, the whole thing is going sound here and ofcourse every one is
sharing information, that’s in fact fine, keep up writing.
Napak tilas
Banyak nian iklan sponsornya…
Sebuah perjalanan waktu yang panjang, namun bekerja dan mengabdikan diri dengan segenap ketulusan, waktu yang lama itu seperti baru kemarin hari dilewati. Semangat dan sehat selalu pakdheku, ketikan jari-jemarimu suluh abadi bagi nyalanya lentera motivasi, yess.
Senangnya bisa napak tilas dan melihat keberhasilan salah satu anak didiknya. Luar biasa pasti sangat berkesan.
Seru sekali napak tilasnya Pak D.
Ada peristiwa banjir juga….
Dibuat memoar sepertinya keren nih Pak D
Napak tilas yang menyenangkan ya pak .. mudah mudahan bapak selalu sehat dan sukses selalu ya .pak .
Alhamdulikah bisa naoak tilas Pak D..bahagia terasa tatlala meluhat kesuksesan anak didik kita. Guru Hebat Melahirkan murid Dahsyat. SelaMat Pak D
Wah kayaknya ini juga proyek buku bab 1 pak D….kisah yang luar biasa. Salam Literasi
Napak tilas sejarah perjalanan Pak D yang luar biasa. Berbahagia dapat mencetak generasi penerus yang juga luar biasa.
Wah, bener-bener napak tilas yang menggugah semua kenangan ya Pak. Tempat yang menyejarah. Saksi hidup Pak D. Di sanalah banyak kenangan hidup.
Terimakasih pak telah menyempatkan waktunya untuk main ke desa kami.
Desa batu kucing
Barakallah telah melahirkan generasi yang mumpuni yang peduli dengan pendidikan di desanya, generasi anak-anak setelahnya…sukses selalu Pak D..
Oke tenan Pak karyanya…hebat…tetap semangat utk berkreasi dan berkarya..
Kisah yg menarik perlu diabadikan dlm buku. Tulisan menarik dan memberi inspirasi. Lanjut pak D
Kebahagiaan seorang guru yang amat luar biasa tak kalah melihat kesuksesan anak-anak yang pernah dia didiknya.
Sukses pak De
Mantap pak D. Napak tilas sangat perlu ya. Sangat menginspirasi.
Tulisan PakDe ini mantap sekali, layak utk dijadikan bagian dari aebuah buku. Perlu tambahan penekanan thd rasa bangga atas keberhasilan anak didik tsb.
Terima kasih. Luar biasa kisahnya. Salut dengan pakde Susanto.
Kalau saya tahun 2006 perdana menjadi guru…di kota Cimahi..Jawa Barat..be….
Pasti senang ya bisa mengenang kemabali masa2 itu..
Btw…runah di batu kucing itu skg siapa yg menghuni?