artikel

Lomba Lari Bendera

Sumber Gambar: alix.sch.id

Pada hari-hari menjelang peringatan kemerdekaan RI, anak-anak banyak mengikuti berbagai macam lomba. Misalnya, lomba balap karung, meskipun karung goni sudah langka sekali. Ada juga lomba tarik tambang, lomba memukul balon air, dan sebagainya. Ada satu lomba yang selalu kami selenggarakan pada setiap peringatan HUT Kemerdekaan negara kita tercinta ini. Lomba itu adalah lomba lari bendera.

Beberapa bendera kecil dipasang berjajar pada suatau tempat, sebut saja titik B. Banyaknya bendera yang terpasang disamakan dengan banyak pelari. Pada ujung tempat yang satunya, sebut saja titik A, para pelari bersiap mengambil bendera dan membawa kembali ke tempat semula. Peserta yang berlari dari titik A dan mengambil bendera di titik B, serta paling cepat kembali membawa bendera dan memasangnya di tempat ia berdiri semula (titik A), adalah pemenangnya. Permainan ini mengandung unsur kegembiraan, ketangkasan, dan tentu saja kebugaran. Para peserta berlari dan mengambil bendera “miliknya” masing-masing.

Seperti Peserta Lomba Lari Bendera

Sore ini, 8 Juli 2021 saya baru saja sampai di rumah, setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan dari Semarang, Jawa Tengah. Saya bersama istri tua (perempuan yang saya nikahi pertama sekali hingga saat ini, koreksi jika saya salah) dan juga anak bungsu (mudah-mudahan begitu), seperti berlomba lari bendera.

Kami berangkat dari titik A, yakni rumah kami di Tugumulyo, Musi Rawas, Sumatera  Selatan, menuju kota Semarang (titik B). Beberapa hari kemudian, kami kembali lagi ke rumah (titik A), tanpa pergi ke mana-mana. Begitulah jika bepergian pada saat Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat untuk Pulau Jawa dan Bali diberlakukan.

Tepat tanggal tiga malam, kami sampai di Semarang. Pada tanggal itu, tepat pukul nol nol PPKM Darurat di Jawa-Bali di berlakukan. Tanggal 3 dan 4 Juli bertepatan dengan hari libur Sabtu dan Minggu. Oleh karena itu, PPKM efektif diterapkan pada hari Senin. Saya sudah telanjur di dalam kota. Jika belum, pintu masuk ke dalam kota pasti ditutup. Teks pemberitahuan pada papan berlampu LED di atas jalan tol sangat jelas terbaca.

Teman saya yang melewati perbatasan pun bercerita. Laju kendaraannya dihentikan. Ia diperiksa dan harus bisa menunjukkan kartu vaksin minimal dosis pertama jika akan meanjutkan.

Adanya penyekatan dan larangan masuk ke dalam kota besar ditambah warning dari adik kandung agar tidak menemui di rumahnya jika datang ke kampung, menambah lesu dan hilang semangat kami bepergian. Walau demikian, saya maklum. Suasana sedang tidak baik-baik saja.

Oleh karena itu saya memutuskan. Setelah melihat tempat kos buah hati dan merundingkan sesuatu dengannya, kami pun bersiap-siap segera balik kanan menuju titik pangkal, rumah tempat tinggal.

Nyaris Tidak bisa Menyeberang

Aturan yang ada dalam PPKM semua bagus dan mengatur kegiatan masyarakat agar penyebaran virus Covid-19 tidak meluas. Namun, ada satu aturan yakni aturan nomor 15, pelaku perjalanan domestik yang menggunakan transportasi jarak jauh (pesawat, bus, dan kereta api) harus menunjukkan kartu vaksin minimal dosis pertama, serta tes PCR H-2 untuk pesawat dan antigen H-1 untuk transportasi jarak jauh lainnya.

Sertifikat vaksin pertama dan kedua sudah kami miliki dan tentu saja kami bawa. Namun PCR atau Swab Antigen belum kami lakukan. Sementara, waktu sudah mendesak menyuruh kami pulang. Oleh karena itu berbekal kartu vaksin dan hasil cetak sertifikat vaksin, saya pun masuk ke pelabuhan penyeberangan di Merak.

“Selamat malam, Pak!” sapa petugas ketika kami sampai di pelabuhan. Beliau seorang polisi.

“Selamat malam. Siap, Pak!” jawab saya.

“Bapak mau ke mana?” tanyanya lagi.

“Saya mau ke Palembang, Pak,” jawab saya sopan.

Tanya jawab antara saya dengan petugas berlangsung hingga menanyakan kartu vaksin. Saya pun menunjukkan kartu vaksin dan hasil cetak sertifikat vaksin yang sudah saya siapkan sebelum berangkat ke pulau Jawa.

Singkat cerita, meskipun agak tegang dan berdebar, e-tiket Feryzi akhirnya dapat ditukar dengan tiket fisik untuk membawa kendaraan saya masuk ke lambung kapal. Setelah pintu rampa dibuka pada bagian buritan, kami pun perlahan masuk.

Rasa lega makin bertambah setelah kapal merapat ke pelabuhan Bakauheni. Kali ini, pintu rampa dibuka pada bagian haluan. Kendaran kami bersama lima kendaraan lainnya keluar kapal. Akibat PPKM, sedikit sekali kendaraan pribadi yang menyeberang pada malam itu.

Demikianlah, andai bukan janji, pasti saya tunda perjalanan ke pulau Jawa. Ngeri, ribet, dan bikin was-was. Semoga Covid segera mereda. Itu saja.

 

Tugumulyo, 8 Juli 2021

 

 

 

 

 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

29 thoughts on “Lomba Lari Bendera

Comments are closed.