artikel

Ngerjain Anak Baru

Cerita pendek anak SMP. Selamat menikmati.

“Ada anak baru, tuh!” kata Nungki sambil tetap mengunyah bakso bakar yang tinggal satu-satunya.

“Mana? Aku nggak lihat,” tukas Beje penasaran.

“Bude, bakso bakarku Beje yang bayar. Aku mau nyamperin anak baru itu.”

Secepat kilat Nungki berlari. Rok panjangnya tidak menghalangi kelincahan gadis berkaca mata itu.

“Sialan, kena lagi,” gerutu Beje.

***

“Namanya, Setiana. Di rumah biasa dipanggi Tia. Tapi, teman-temannya memanggilnya Nana. Jago karate. Jangan macam-macam, kau! Bisa lumpuh kalau itumu kena tendang dia,” kata Nungki nyerocos menceritakan teman barunya.

“Haa? Bisa lumpuh kalau punyaku kena tendang?” tanya Beje sambil mendelik.

“Iya! Kakimu, Piktor!” Gantian Nungki balas mendelik.

Tawa Beje pun pecah seketika.

“Besok ajak dia ke Kantin. Pengin dibayarin aku sama anak baru itu. Lagi pula uang saku dari mamaku lagi mengalami pengurangan juga. Gegara lambat ngambil air galon di rumah mang Udin, uang saku yang cuman sepuluh ribu disunat jadi lima ribu,” kata Beje berlagak seperti preman penguasa lapak di pasar.

“Beres, besok aku ajak ke Kantin,” janji Nungki.

“Tos!” Meskipun tidak beradu, telapak tangan kedua sahabat itu pun sama-sama diangkat tanda sepakat.

***

Kantin Bude Tini sudah buka. Ia satu-satunya penjual yang diizinkan berjualan sejak pembelajaran tatap muka terbatas diberlakukan di SMP 3. Pada jam istirahat, Beje sudah menunggu Nungki. Ia berjanji mengajak Setiana makan di Kantin langganannya. Kok, langganan? Iya, dulu ada tiga penjual. Nah, Beje selalu berjajan di warung Bude Tini. Orangnya ramah dan mudah kasihan. Jadi, Beje bisa jajan meskipun tidak bawa uang. Ngutang! Iya, itu.

“Hai, Beje. Kenalin teman baru kita, Nana!” teriak Nungki dengan suara khasnya.

“Hai,” kata Beje pendek.

“Hai, juga,” jawab gadis mungil bernama Nana itu.

Beje yang menginjak usia pubertas hatinya bergetar. Suara Nana sangat merdu terdengar. Tapi ia tidak ingin terpesona. Beje yang sengaja tidak membawa uang karena berniat mengerjai Nana untuk membayar makanan, tidak ingin larut dan terkagum dengan kemerduan suaranya. Modusnya tidak jauh-jauh dengan cara Nungki minta bayari. Makan dipercepat, lalu tiba-tiba bilang dengan Bude Tini. “Beje yang bayarin, Bude!” Wus, Nungki pun segera berlalu dari pandangan Beje yang menggerutu kesal.

“Kata Nungki, dari Lampung, ya?” tanya Beje sok akrab.

“I … iya.” Agak terbata Nana menjawab karena mulutnya penuh dengan mi bakso yang menjulur panjang.

Beje pun bersiap menjalankan aksinya.

“Nung, aku …,” kata Beje yang segera dipotong Nungki,” sebentar, aku ambil uang ke kelas dulu.

Beje pun terpaksa duduk kembali. Nana, masih asyik dengan baksonya yang tinggal satu atau dua suap lagi. Pas pada suapan terakhir, Nungi tiba-tiba datang.

“Nana, bentar lagi bel masuk. Guru Matematika suka marah kalau kita terlambat!” kata Nungki sambil menarik tangan Nana.

“Tapi, aku belum bayar bakso ini,” kata Nana.

“Udah, ada Beje. Bude, bakso kami Beje yang bayar, ya!” teriak Nungki.

Bude Tini hanya mengangguk, mengiyakan perkataan Nungki.

“Nung …! Nungki! Kampret, aku nggak bawak duit malah suruh bayarin mereka berdua!” gerutu Beje.

“Bude, bayarnya besok, ya?”

***

Musi Rawas, 1 Maret 2022

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

7 thoughts on “Ngerjain Anak Baru

  • Kena kan si Beje.. niat hati nge Prank. Haha

  • hehehehe, baksonya enak tuh kalau duitnya banyak bisa beli lebih dari semangkok

  • Ini niatvngerjain malah dikerjain

  • Nungki Kampret!!!

    Seru juga Beje jadi dikerjain balik!!!

Comments are closed.