Bakso Terakhir

Cerpen oleh: PakDSus
Pulang Jumatan, perut berontak minta diisi.. Udara siang di kota kecil ini cukup panas. Bau bakso dari warung gerobak di seberang masjid sudah memanggil dari jauh. Aku duduk di bangku kayu dengan meja berlapis poster plastik produsen kecap. Aku menunggu sebentar, perempuan penjual bakso mengantar mangkuk berisi makanan yang identik dengan kota Solo itu ke mejaku. Enam bakso kecil mengambang, dan satu yang sedang-besar di tengah, seolah kakak di antara adik-adiknya.
Kuah bening aku tuang kecap, lalu saus, kuaduk pelan. Sedikit sambal cukup membuat lidah seakan meledak. Aku kunyah satu per satu. Bakso kecil itu lembut. Rasanya juga gurih, seperti bakso buatanku di hari lebaran. Yang besar kutinggalkan terakhir. Sayang sekali jika kenikmatan ini segera berakhir.
“Bapak datang dari jauh, ya?” Ibu penjual bakso itu memulai basa-basi. Kebetulan di warung ini baru aku pengunjung pada siang ini.
“Tidak kok, Bu. Saya orang sini kok,” jawabku sambil menyeruput kuah berwarna kecoklatan.
“Motor Bapak platnya BG. Sumatera ya, Pak?” Perempuan penjual bakso itu terlihat antusias.
“O, itu motor anak saya. Dia kuliah di sini. Benar sekali, motor di rumah saya kirim ke sini.”
Obrolan kami terhenti ketika terdengar ucapan salam dari seorang anak laki-laki. Pulang Jumatan juga rupanya.
“Assalamualaikum!”
Anak laki-laki berkopiah dan berkain sarung itu belalu dan masuk ke dalam rumah mereka, bagian belakang warung kecil ini.
“Kok tahu plat motor saya dari Sumatera?” tanyaku dengan heran.
“Saya pernah merantau di Palembang.” Sambil tersenyum, perempuan itu menjawab sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
“O, pantas paham BG plat motor mana,” batinku sambil tersenyum.
Beberapa menit kemudian, ia keluar bersama seorang lelaki. Usianya sekitar lima tahun lebih muda dariku.
Ketika kami beradu pandang, jantungku seperti berhenti berdetak. Wajah itu…, sorot matanya, bahkan kerutan di ujung bibirnya begitu kukenal. Aku berhenti mengunyah ketika mulut lelaki itu berkata.
“Loh, Mas?”
Perempuan penjual bakso itu bergantian memandang kami.
“Kalian … saling kenal?” Lelaki itu menunduk. Pelan-pelan ia menjawab, “Dia bukan kenalan.” Matanya mulai berkaca-kaca. “Dia kakakku.”
Kuah di mangkuk semakin dingin. Separuh daging bakso besar masih tersisa., tapi aku tak sanggup mengunyahnya lagi.
Lubuklinggau, 1 Agustus 2026