Nggak Nyangka Bertamu di Kantor SDN 5 Gombong

Pukul setengah enam waktu Indonesia bagian Gombong Kebumen, aku megajak ibu negara berjalan-jalan. Ya, berjalan kaki keluar dari ‘rumah pusaka’ yang sekarang didiami oleh adik, kakak bungsu.
Kami berpakaian seadanya karena hanya berniat berjalan-jalan sambil menghirup udara segar. Cuaca cerah dan semburat sinar mentari yang menerangi pagi membuatku tidak percaya bahwa jarum jam belum lurus pertanda pukul enam pagi tiba.
Kami berdua menyusuri lorong. Sebenarnya bukan lorong melainkan jalan beton dengan lebar lebih dari lebar satu unit mobil pribadi. Hanya, dari arah selatan, di sisi barat berdiri kokoh dinding tinggi Gereja Kristen Kerasulan Baru dan sisi kanan atau sisi timur berdiri kokoh bangunan tinggi milik Muhammadiyah.
Dahulu, ketika aku masih anak-anak dan remaja, jalan itu masih berupa jalan tanah berkoral, dibatasi pagar gereja dan pekarangan dengan sebagian besar ditumbuhi semak belukar. Jika malam hari terkesan seram. Bahkan, aku mendapat cerita bahwa di jalan itu, ayahku ketika aku belum lahir pernah dihantui sosok yang menakutkan.
Kaluar dari gang, kami berbelok ke kiri. Kami menyusuri Gang Anggarek I. Sampai di perempatan gang kami berbelok ke kanan menyusuri Gang Mawar. Di mulut Gang Mawar ada penjual bubur ayam: “Bubur Ayam Pak De”.
Kami berhenti dan memesan dua mangkuk bubur ayam dan memakannya di meja yang disediakan. Harganya murah, satu porsi hanya 8.000 rupiah.

Mengelilingi Lapangan Manunggal dan Bertemu Ibu Wahyu Widayati
Selesai makan, kami menyeberang jalan raya dan sampai ke depan masjid Kauman lalu melanjutkan hingga ke kantor kelurahan Gombong.
Perjalanan kami lanjutkan hingga tiba di halaman gedung SDN 1 Gombong. Aku berhenti sebentar dan menatap halaman gedung sekolah itu sambil berkata kepada ibu negara.
“Dulu aku PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) SPG tahun 1989 di sekolah ini.”
Kegiatan PPL adalah kegiatan wajib bagi murid kelas 3 SPG. Selesai PPL, aku melanjutkan wiyata bakti di SD itu hingga pertengahan tahun 1990 saat ketika aku dinyatakan diterima di Program D2 PGSD UNS.

Perjalanan kami lanjutkan. Sampai di Gang Giyombong, kami berbelok ke kiri. Di gang ini masih ada satu guru SDN 1 Gombong yang masih sehat, Ibu Munfajiyah. Pensiunan pendidik berusia sekitar 80-an tahun itu kami sapa. Ingatan Ibu Mun (panggilan akrab beliau) masih sangat baik.
“Ini kan Mas Santo yang jadi guru di Sumatera?” katanya.
Selesai beramah-tamah dengan Bu Mun, kami lanjutkan perjalanan menyusuri gang Giyombong hingga Gang Tidar, kemudian menyeberang jalan raya dan menuju lapangan alun-alun manunggal Gombong.
Di lapangan yang selalu ramai pada pagi dan malam hari itu banyak orang yang berolah raga, berlari maupun berjalan cepat mengelilingi lapangan.
Aku berharap bisa bertemu dengan orang-orang yang mungkin saja aku kenal. Hingga hampir satu putaran tidak satu pun teman sewaktu kecil yang aku temuai. Kami pun mengajak ibu negara berhenti karena pandanganku tertuju kepada seorang ibu yang wajahnya sangat aku kenal, Mbak Tatit, putri ibu kepala sekolah yang menandatangani ijazah SD-ku.
Mbak Tatit sedang berada di lapak jualan putrinya di sebelah timur gedung SD 5 Gombong, masih di kawasan alun-alun Manunggal. Ketika kami datang, beliau segera mengenaliku dan akhirnya berbincang akrab.
Di tengah keasyikan kami berbincang, datang seorang ibu berkaca mata, berpakaian kebaya, di dada kanan tertulis “WAHYU WIDAYATI”. Rupanya beliau adalah kepala sekolah yang gedungnya bersebelahan dengan lapangan dan Masjid Al Muttaqin.
Berkat Mbak Tatit kami pun terlibat perbincangan yang penuh keakraban dengan ibu Wahyu, sang kepala sekolah.
Aku adalah alumni SDN Srampadan, sebuah sekolah kecil di Dukuh Srampadan Desa Gombong. Sementara SDN 5 Gombong adalah wujud baru dari SDN Srampadan. Sayangnya, aku lupa menanyakan kapan SDN Srampadan berubah menjadi SDN 5 Gombong yang pada tahun 2021 mendapat nilai akreditasi 94/100 (terakreditasi A).
Mungkin karena aku adalah alumni SD itu sebelum bermetomorfosis, dengan penuh keramahan beliau mengajak kami masuk ke ke ruang kantornya yang saat itu masih sepi karena pendidik dan tenaga kependidikan lainnya belum hadir.
Demi menghormati ibu kepala sekolah, aku pun mengikuti beliau di sampingnya menuju ruang kantor. Tidak banyak perbincangan. Setelah berfoto, aku buru-buru berpamitan sebelum guru lain datang. Semoga lain waktu bisa datang kembali dan bercengkerama lebih lama.
Jam di tangan menunjukkan pukul delapan kurang sedikit. Kami bergegas pulang. Sudah dekat dengan rumah adik sehingga tidak ada lagi tempat yang perlu disinggahi. Sungguh, jalan-jalan pagi yang mengesankan.
Purwokerto, 26 Desember 2023
Salam dan Bahagia,
PakDSus
Bagus
Alhamdulilah… Asiknya jalan-jalan pagi di tanah kelahiran…
Sehat dan bahagia sll Pak D…
Indahnya bernostalgia di sepanjang jalan kenangan. Saya ikut merasakan bahagia membaca kisah ini.
Purwokerto juga tempat (Alm) Bapak saya dilahirkan, Pak D.
Senang baca tulisan Pak D, serasa diajak nostalgia bersama
Nostalgia yang indah. Bubur ayamnya juga mengingatkan masa lalu. Selamat jalan2 Pak D. Hehe
Alhamdulillah bisa bernostalgia dengan kenangan masa lalu.
Alhamdulillah bisa bersilaturahmi, bahagianya bisa bertemu dengan Ibu guru