artikel

Optimis Bisa, Ternyata Bisa

Tulisan ini adalah lanjutan dari https://blogsusanto.com/optimis-bisa/ yang saya tulis satu tahun lalu. Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Ulang Tahun Pertama PAKEM Dusun Kami” oleh penulis. Baik, mari simak cerita saya ini!

Sumber: kompasiana.com/susantogombong/

Ada satu hal yang dirahasiakan Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, atas diri manusia dari beberapa hal yang dirahasiakan yaitu, kematian atau ajal. Konon, hal tersebut dimaksudkan agar hamba-Nya mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum ia meninggal dunia.

Jika ajal telah tiba tentu mendatangkan duka bagi ahli waris, terutama orang yang serumah dengan almarhum/almarhumah. Selain itu, keluarga yang ditinggalkan harus mengurus dan merawat jenazah sebelum diantarkan ke tempat peristirahatan yang terakhir, lazimnya dimakamkan.

Masyarakat desa yang masih kental dengan gotong royong, jika ada tetangga meninggal pasti membantu. Ada yang menyumbang uang ala kadar, barang atau makanan, serta menggali kubur di tanah pemakaman desa. Perawatan jenazah, meliputi memandikan, mengafani, dan menguburkan tentu membutuhkan biaya. Berangkat dari pemikiran itulah, tetua Dusun 2 desa kami bermufakat untuk membentuk sebuah paguyuban dengan tujuan membantu keluarga yang tertimpa musibah. 

Sosialisasi dilaksanakan pada bulan Agustus 2021. Bulan ketika itu banyak sekali peristiwa kematian akibat sakit terkena Covid-19. Sosialisasi yang dilakukan dihadiri warga dan unsur pemerintah desa. Hasilnya, rencana para sesepuh disambut baik. Pada bulan September 2022, Paguyuban Amal Kematian, disingkat PAKEM, Dusun 2 Desa D. Tegalrejo, Kecamatan Tugumulyo Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan resmi dibentuk. 

Program Kegiatan

Program pertama kegiatan pada tahun pertama adalah mengumpulkan dana dari 280 kepala keluarga. Tanpa memandang latar belakang sosial ekonomi, para anggota bersepakat iuran sebesar sepuluh ribu rupiah setiap bulan. Dengan asumsi setiap bulan terkumpul uang sebesar 2.800.000 rupiah, uang itu digunakan untuk membantu ahli musibah sebesar 1.500.000 rupiah dengan rincian, 1.000.000 sebagai bantuan biaya takziah selama tiga malam dan 500.000 rupiah untuk biaya para petugas yang melakukan penggalian di kuburan. Selain itu, ahli musibah pun mendapat kain kafan dan peralatan lainnya.

Pada awal pembentukan, beberapa warga ada yang membayar satu tahun sekaligus, dua tahun, bahkan tiga tahun sekaligus. Sedangkan warga yang hendak membayar setiap bulan akan “ditagih” oleh petugas yang ditunjuk.

Program kedua adalah rapat anggota setiap tiga bulan sekali. Setiap tiga bulan, anggota melaksanakan rapat untuk mendengarkan laporan keuangan termasuk laporan penagihan, dan evaluasi kegiatan. Tanggapan dan usulan dari warga dusun dimusyawarahkan dan diambil kesepakatan bersama. Hasil musyawarah dihormati dan dilaksanakan oleh pengurus dan warga.

Program ketiga adalah mengupayakan pengadaan kursi. Para takziyah tentu memerlukan tempat duduk sambil menunggu proses pengurusan jenazah selesai dan diberangkatkan menuju tanah makam. Selama ini, warga bergotong royong meminjam ke kantor desa dan tetangga kiri kanan ahli musibah. Dengan adanya kursi milik Paguyuban, setidaknya memperpendek jarak peminjaman.

Program keempat adalah mengupayakan tarub minimal dua unit.  Dua unit tarub berukuran 4 x 8 meter. Tarub seluas itu membutuhkan seng ukuran delapan kaki setidaknya dua puluh lima lembar. Tarub digunakan untuk menambah areal teduh selain rumah agar para takziyah semakin nyaman. Jika hujan tiba, mereka dapat berteduh di bawahnya dan aman dari tetesan air hujan.

Ulang Tahun Pertama

Malam ini, tanggal 18 September 2022 adalah malam pertemuan tepat satu tahun diresmikannya paguyuban. Laporan dan evaluasi pun dilakukan. Berdasarkan laporan Pengurus, program yang disepakati pada pertemuan setahun lalu berjalan dan membuahkan hasil. Kuris sebanyak 100 unit berhasil dibeli. Tarub seluar 4 x 8 meter berhasil diadakan, dan bantuan kepada ahli musibah berjalan dengan lancar.

Musibah yang menimpa warga Dusun 2 tetap ada. Saya lupa mencatat berapa orang yang meninggal selama setahun belakangan dan diberi santunan sesuai kesepakatan. Namun demikian, Paguyuban masih memiliki kas. Asumsi setiap orang membayar adalah 280 KK X 10.000 X 12 bulan, seharusnya terkumpul 33.600.000 rupiah. Laporan bendahara menyebutkan bahwa Paguyuban memiliki kas setidaknya 11.217.000 rupiah per tanggal 18 September 2022.

Tidak seperti perayaan ulang tahun lainnya, perayaan ulang tahun Paguyuban dilakukan dengan mengucap syukur. Bersyukur bahwa dukungan dari 280 orang warga dusun 2 tetap ada. Rasa syukur diiringi doa semoga musibah berupa kematian yang menimpa warga tidak banyak sehingga uang kas semakin banyak terkumpul sehingga semakin membawa banyak manfaat.

Selain itu, warga dan pengurus Paguyuban pun bersyukur, upaya yang dilakukan diduplikasi oleh warga dusun lain di desa kami. Dengan demikian upaya menyejahterakan warga melalui kerjasama dan kolaborasi antarwarga semakin terwujud. Semoga kekhlasan yang diberikan diganti oleh Allah dengan rezeki yang berkah dan banyak. 

Penutup

Itulah sekelumit cerita tentang kegiatan di kampung. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Meskipun begitu, setiap belalang maupun ikan butuh makan dan butuh hal-hal lain yang mendukung kehidupannya. Semoga cerita ini menginspirasi, atau malah kami ketinggalan puluhan langkah dari yang sudah dilakukan warga di desa lain? Nyatanya, lebih baik terlambat berbuat baik daripada tidak sama sekali. 

Salam dan bahagia,
PakDSus  

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

9 thoughts on “Optimis Bisa, Ternyata Bisa

Comments are closed.