Optimis Bisa

Tidak ada kata terlambat untuk berbuat sesuatu. Demikian pula dengan gagasan para tua-tua dusun beberapa waktu lalu. Gagasan itu bermula dari banyaknya peristiwa kematian yang menimpa warga dusun kami pada awal hingga penghujung bulan Juli 2021.
Ada jenazah yang dari rumah sakit langsung dibawa ke pemakaman karena positif terkena Covid-19. Ada juga jenazah yang dimakamkan secara wajar. Artinya, almarhum atau almarhumah meninggal tidak divonis terinfeksi Covid.
Orang yang meninggal dan terindikasi positif Covid, sudah dipastikan tidak ada acara takziyah atau melayat. Namun bagi mereka yang tidak divonis terindikasi Covid, meski dengan protokol kesehatan, banyak tetangga yang melayat. malam hari pun masih ada yang datang bertakziyah, menghibur keluarga yang terkena musibah.
Dari percakapan di tempat musibah itulah, para tokoh masyarakat, tua-tua dusun bermufakat untuk membentuk sebuah paguyuban untuk membantu keluarga yang tertimpa musibah. Apakah selama ini tidak ada solidaritas? Ada dan sudah menjadi kebiasaan. Namun, tidak terkoordinir. Semua berjalan seolah secara otomatis dan setiap orang mengambil peran masing-masing.
Ada yang pergi ke maka memnggali kuburan, ada yang secara spontan membantu urusan dapur, memandikan, mengafani, dan mengantar ke tempat peristirahatan terakhir. Kontribusi tetangga dan handai tolan berupa dana tetap ada dan ada wadah khusus, semisal baskom yang ditutup kain dan diletakkan di depan pintu masuk rumah atau di beberapa tempat yang mudah dijangkau para pelayat.

Tradisi yang sudah berjalan dengan baik ini, ingin dikelola dengan baik. Oleh karena itu para sesepuh dan tokoh masyarakat akhirnya berembug dan mengajak masyarakat untuk bermusyawarah.
Sudah menjadi kebiasaan, jika ada hal yang layak dimusyawarahkan, sebagian besar warga diundang dan bermusyawarah di musala. namun karena kondisi daerah yang masih diberlakukan PPKM level 4, maka kami pun belum berni berkumpul dalam jumlah besar untuk bermusyawarah. Oleh karena itu, beberapa tokoh masyarakat dan perwakilan warga diajak bermusayawarah untuk membahas pembentukan paguyuban tersebut.
Sosialisasi Hasil Musyawarah
Setelah kepengurusan terbentuk dan kesepakatan untuk mengumpulkan dana telah ditetapkan, tiba saatnya mensosialisasikan pengurus dan program kegiatan yang direncanakan. Warga dusun 2 desa kami yang secara geografis berada di wilayah selatan jalan desa sudah sepakat dan bisa menerima. Akan tetapi, karena merasa belum terwakili, warga dusun dua di wilayah utara jalan meminta para pengurus untuk mensosialisasikan. Dengan demikian, kegiatan yang dilakukan tidak terkesan diputuskan secara sepihak.
Memenuhi harapan masyarakat, Pengurus Paguyuban Kerukunan Kematian pun mengundang para tokoh dan warga dusun 2 “Blok Lor” (istilah warga untuk wilayah sebelah tara jalan) untuk mendengar dan bertanya jawab.
Tepat pukul 20.00 WIB, sosialisasi pun dimulai. Diawali dengan pengantar ketua dan sambutanKetua BPD, acara dlanjutkan dengan tanya jawab. Pada acara tanya jawab, para warga antusas dan menyambut baik hal hal yang direncanakan pengurus. Pengurus mengumpulkan dana, mengelola, dan menyalurkannya untuk kepentingan pengurusan jenazah. Tidak hanya itu, jika partisipasi warga berupa iuran anggota dengan besarnya disesuaikan dengan kemampuandapat rutin dibayarkan, maka biaya pemakaman dan biaya pengurusan jenazah akan dibantu secara khusus dari kas organisasi.
Tidak ada musyawarah yang berjalan mulus tanpa adanya tanggapan dan pertanyaan. Peserta rapat mengkritisi komposisi pengurus, penarik dana, dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi berkaitan dengan pemanfaatan dana. Menanggapi itu, para pengurus dengan sabar melayani dan dengan santun menjawab semua pertanyaan peserta rapat.
Optimis Bisa
Akhirnya, saya sebagai pemandu acara malam itu mengakhir rapat dengan lega. Semua rencana disetujui dan kami semua optimis bisa. Iuran akan berjalan lancar dan kegiatan bakal berjalan baik. Rasa optimis makin menebal melihat sebagian warga malam ini merogoh kocek dan membayar iuran sekaligus untuk satu tahun. Bahkan ada yang memberi lebih. Jika diperhitungkan, uang yang diberikan cukup untuk membayar iuran beberapa tahun. Malam ini diberikannya secara cuma-cuma dan kewajiban membayar bulanan akan tetap ditunaikan.
Tidak ada kata terlambat berbuat baik, meskipun paguyuban serupa di desa-desa lain sudah terbentuk lebih dahulu. Jangan pernah malu untuk memulai berbuat baik meskipun hanya menyingkirkan kerikil tajam di jalan.
D. Tegalrejo Musi Rawas, 26 Agustus 2021



Can you write more about it? Your articles are always helpful to me. Thank you!
Alhamdulillah dilingkungan saya kegiatan ini sudah berlangsung lama dan sangat bermanfaat. Optimis semua akan berjalan baik apalagi didasari dengan semangat kekeluargaan dan gotong royong yang kuat.
Berjuang dan bergerak bersama memang akan lebih bagus daripada sendiri, apalagi di tengah pandemi ini, semoga kegiatan di tulisan ini bisa bermanfaat dengan baik.
Alhamdulillah masyarakat masih kental kegotongroyongannya. Bisa menjadi solusi permasalahan yang ada. Terlebih pada saat pandemi seperti ini.
Alhamdulillaaah, salah satu ciri karakter bangsa kita adalah adanya paguyuban kematian, apa pun namanya, masih eksis di banyak pelosok negeri. Semoga tetap lestari..
Insya Allah begitu.
Apa pun namanya yang penting intinya kerukunan.
Terima kasih.
Setuju Pak D
Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai
Kalau kita optimis bisa, maka bisa. Malah mendapatkan lebih. Tak ada kata terlambat untuk sebuah kebaikan. Keren Pak D. Inspiratif.
Terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali. Optimis paguyuban berjalan baik.
Kalau tempat kami namanya syarikat kematian, Pak D
Setujuuu pak D selalu berbuat baik dan tetap berbagi kebaikan , karena kelak kita akan menuai kebaikan pula